Minggu, 16 Januari 2011

Kasih Tuhan pada keluarga

“Sebab pada awal dunia Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”. (Markus 10:6-9).

Pada mulanya Allah menciptakan Adam, lalu Allah memberikan teman hidup kepada Adam sebagai penolong yaitu Hawa seperti yang tertulis dalam Kejadian 2:18. Setelah Allah memberikan seorang penolong kepada Adam, maka terciptalah suasana yang harmonis di antara mereka berdua. Tetapi sayang, oleh karena mereka telah melanggar perintah Allah, maka mereka jatuh dalam dosa. Dan sejak saat itu mulailah terjadi perdebatan di antara mereka, di mana Adam tampak lebih dominan dibanding dengan Hawa.

Keadaan seperti ini bukankah sering kita dapati dalam kehidupan sehari- hari? Di mana banyak terdapat keluarga yang pada awalnya tampak harmonis, tetapi diakhiri dengan pertikaian sampai pada perceraian. Hal demikian sangat tidak dikehendaki oleh Allah, sebab ketika terjadi pertikaian dalam keluarga kita, maka perlindungan Allah mulai lepas dan iblis akan masuk dalam kehidupan rumah tangga kita. Ada 3 hal penting yang harus kita pahami supaya perlindungan Allah tetap berlaku dalam kehidupan rumah tangga kita:

1. Memiliki Hak Yang Sama
Dalam sejarah dunia yang di mulai dari Adam dan Hawa telah terjadi suatu perdebatan, di mana mereka saling menyalahkan dan merendahkan, terutama pada diri Adam. Seolah-olah Adam lebih dominan dan derajatnya lebih tinggi dibanding dengan Hawa. Memang, “seorang laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki- laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.” (1 Korintus 11:8-10). Tetapi bukan berarti laki- laki bersifat dominan atau lebih tinggi derajatnya dibanding dengan wanita, sebab dalam ayat berikutnya dikatakan : “Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.” Jadi kedua- duanya memiliki hak yang sama dan tidak ada yang lebih dominan di antara mereka. Jikalau di antara mereka saling dominan maka saat itu iblis mulai bekerja untuk memecah belah rumah tangga. Berapa banyak suami-suami yang bersikap dominan terhadap isterinya, karena merasa bahwa dialah yang memberikan nafkah dalam rumah tangga, sehingga hidupnya mulai sembarangan? Berapa banyak suami-suami yang tidak mau mendengarkan nasihat dari isteri, karena dia merasa sebagai kepala rumah tangga? Saudara, firman Tuhan mengingatkan dengan tegas: “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi
suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.” (1 Korintus 7:3-4). Dan di dalam 1 Petrus 3:7 juga dikatakan: “ Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang”. Begitu pula sebaliknya, sebagai istri harus menghormati suaminya, walaupun posisi isteri dalam karirnya lebih tinggi dibanding dengan suami. Karena berapa banyak isteri-isteri yang menganggap rendah suaminya karena tidak memiliki prestasi yang lebih dari dirinya (Efesus 5:22-24)

2. Meninggalkan ibu dan bapak untuk berdampingan dengan isteri/suami
Ada sebuah sejarah yang tampaknya sulit untuk dirubah, karena sejarah ini berlaku secara turun-temurun yaitu mengenai hubungan antara mertua dan menantu selalu ada masalah; baik itu menantu perempuan maupun menantu laki-laki. Hal ini terjadi karena adanya latar belakang dan pola pikir yang berbeda. Oleh sebab itu firman Tuhan menasihatkan: “sebab itu laki- laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” (Markus 7:8). Oleh sebab itu, apabila suami-isteri meninggalkan bapak dan ibunya, maka tidak ada kesempatan bagi iblis untuk intervensi dalam kehidupan rumah tangga yang sedang dibangun, sehingga dari situlah berkat Tuhan senantiasa tercurah. Seandainya kita harus tinggal di rumah yang sederhana, atau rumah kontrakan maupun kost satu ruangan, janganlah kecil hati karena Allah tetap memelihara kita dan Dia akan memberkati kita secara luar biasa, selama kita hidup rukun dan tidak ada pertentangan dengan orang tua. Karena berapa banyak mertua yang mengutuki anak menantunya atau sebaliknya, sehingga ada kesempatan iblis masuk kehidupan dan pada akhirnya hidup mereka menjadi tidak terlindungi lagi. Dan melalui ayat di atas biarlah boleh menjadi peringatan bagi kita semua untuk berani melangkah dengan iman, bahwa Allah sanggup memelihara kita.

3. Menjadi Satu Kesatuan
Pengkhotbah 4:9-12 “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh , yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”  Suami-isteri itu harus tetap menjadi satu, karena ketika mereka menjadi satu maka Tuhan akan hadir di tengah-tengah mereka untuk memberikan perlindungan (Matius 18:19-20). Memang, untuk mempersatukan dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda itu sangat sulit. Tetapi, apabila di antara mereka dapat menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, serta saling memperhatikan bahwa hak mereka adalah sama, terlebih itu mereka harus saling mempercayai serta berharap yang di dalamnya terdapat muatan kasih, maka akan terciptalah keluarga yang harmonis. Dalam ayat di ataspun terdapat kata-kata “tali tiga lembar tak mungkin diputuskan.” Maksudnya adalah hubungan suami-isteri sama dengan hubungan jemaat dengan Kristus, di mana kita beribadah harus ada muatan iman, pengharapan dan kasih.

Kamis, 13 Januari 2011

Jagalah Energimu!

Kali ini kita akan petik satu kata, yaitu apa yang disebut dengan “energi”(dunamos). Yesus disebut sebagai Putra Allah, dan yang lahir dari Roh Kudus dan firman Allah. Tetapi dia juga lahir seperti manusia pada umumnya, termasuk seperti kita. Dan dalam wujud manusia, Yesus telah memelihara energi atau satu kekuatan yang diberikan Allah dalam diriNya. Dia tidak mau kebocoran energi yang ada dalam diriNya. Tuhan Yesus ingin supaya kita yang menerima kuasa sebagai proses kelahiran baru tidak membiarkan energi
yang ada dalam diri kita bocor. Ada beberapa hal yang akan kita pelajari pada diri Yesus, sehingga tidak ada
energi yang bocor dalam diriNya:

1. Penguasan Diri
Kalau kita ingin tahu seberapa besar energi yang ada dalam diri kita, sehingga penguasaan diri menjadi prioritas utama dalam hidup ini, maka terlebih dahulu kita membaca dalam Injil Yohanes 14:12-14, berbunyi: Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada Ku, ia akan melakukan juga perkerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan- pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, aku akan melakukannya.”

Setelah kita membaca ayat di atas, maka kita tahu bahwa energi yang ada dalam diri kita sungguh luar biasa, karena sanggup melakukan pekerjaan yang Yesus lakukan bahkan lebih besar. Dan hal ini menjadi alasan mengapa dalam diri kita harus ada penguasaan diri. Lalu, bagaimana proses energi yang akan kita terima sama seperti Yesus sesuai dengan janjiNya? Roma 8:16-17, berkata: “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supa kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”
Jadi, apabila kita mau menerima energi yang sama, maka kita rela menderita bersama-sama dengan Dia (dalam pengertian bahwa dalam diri kita harus juga ada penguasaan diri seperti yang ada dalam diri Kristus). Dan penderitaan ini berlaku secara daging, di antaranya memikul salib dan menyangkal diri  sendiri. Memang, untuk dapat menyangkal diri sendiri itu tidak mudah, apalagi kita memiliki kedudukan, jabatan atau harta kekayaan. Karena apabila kita mau menyangkal diri, maka kita merasa seolah-olah orang Kristen itu ditekan;
tetapi semuanya itu bertujuan supaya orang Kristen tidak mengumbar hawa nafsunya. Sebab, jikalau orang Kristen yang mengumbar hawa nafsunya, maka hal itu sama dengan orang yang memboroskan energi yang diberikan Tuhan. Contoh: Ada seorang yang menerima warisan dari orang tuanya dalam jumlah yang besar, maka di dalam diri orang tersebut terdapat kekuatan setelah menerima warisan tersebut, ia bisa berbuat apa saja sesuai keinginannya. Tetapi karena dia bocor atau menghambur-hamburkan energi yang dia miliki dengan cara berfoya-foya, maka pada akhirnya penderitaanlah yang dia terima. Seperti kisah anak bungsu yang terhilang, di mana dia telah menghabiskan hartanya untuk hal-hal yang sia-sia, sehingga ia menjadi miskin dan pada akhirnya ia harus kembali pada bapaknya dalam posisi kemiskinan.

Oleh karena itu, kita harus menjaga atau memelihara energi yang kita miliki, bahkan kita harus mengisinya terus-menerus, karena apabila kita mengisinya terus maka suatu saat energi ini memiliki kekuatan yang dahsyat, sebagai contoh: Seorang ahli fisika (ilmu alam) berusaha menghimpun energi melalui sinar. Jikalau energi yang dikumpulkan tidak mengalami kebocoran maka sinar itu bisa menjadi spot light, dan apabila dikumpulkan lagi maka sinar itu akan menjadi sinar laser. Sinar laser itu bisa menembus tembok. Untuk itu janganlah kita takut atau kuatir dalam mengalami pergumulan hidup, sebab orang yang takut atau kuatir itu sama dengan membuang energi. Perlu kita ketahui bahwa energi yang kita miliki adalah energi yang supranatural, seperti halnya dengan kisah seorang perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun, yaitu tatkala ia menjamah jumbai jubah Yesus maka ia mendapatkan kekuatan supranatural, sehingga penyakitnya disembuhkan seketika. Sedangkan Yesus merasakan ada kekuatan atau kuasa yang keluar dalam diriNya (Lukas 8:43-46). Dan lebih dahsyat lagi apabila kita memperhatikan kisah daripada Petrus, di mana janji Tuhan yang tertulis dalam Yohanes 14:12 itu tergenapi yaitu melakukan pekerjaan yang lebih besar; hal ini terbukti ketika Petrus berjalan, dan orang yang sakit terkena bayangannya, maka orang tersebut akan sembuh.

2. Tinggal Tetap Dalam Tuhan
Firman Tuhan yang terdapat dalam Yohanes 15:7-8 telah menasihatkan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Saudara melalui ayat bacaan di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya kita membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, sebab di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Selain
itu, orang yang erat atau melekat dengan Tuhan hidupnya penuh ketentraman, seperti yang tertulis dalam Mazmur 91:14 “Sungguh hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku”. Bahkan dalam ayat 15 ditegaskan: “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Sebagai contoh: Ada seorang manager yang bekerja sendiri dan lupa kontak dengan bosnya, maka manager ini bekerja atas kemauannya sendiri, sehingga manager ini melakukan banyak kesalahan karena pekerjaannya tidak sesuai dengan kehendak bosnya, dengan kata lain manager tersebut tidak menuruti segala perintah bosnya. Bukankah firman Tuhan menasihatkan: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku....(Yohanes 11:41). Dengan demikian kita dengan Tuhan jangan sampai kita lepas hubungan dengan Dia, sebab apabila kita lepas hubungan dengan Tuhan maka kita tidak akan pernah mendapatkan visi atau wahyu dari Tuhan, sehingga kita melakukan pekerjaan Tuhan dengan kekuatan sendiri. Hal ini sama dengan membuang energi dan membuang waktu.

Jumat, 07 Januari 2011

Perlengkapan senjata rohani dari Allah

Referensi Firman Tuhan dalam Efesus 6:10-18

Dalam ayat bacaan di atas, kita telah mendapatkan adanya tujuh perlengkapan senjata rohani untuk menghadapi iblis, tetapi saat ini kita akan membahas tentang salah satu dari ketujuh senjata rohani yaitu ikat pinggang kebenaran. Namun sebelumnya kita akan mempelajari latar belakang mengenai kebenaran tersebut.

Saudara, pada mulanya manusia hidup dalam kebenaran Allah, karena manusia telah diciptakan menurut peta dan teladan Allah, seperti yang tertulis dalam Kejadian 1:26. Pada ayat tersebut terdapat kata-kata: “...supaya mereka berkuasa.” Hal ini menunjukkan bahwa Allah melengkapi manusia dengan suatu kuasa yang mutlak khususnya terhadap ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, atas ternak, seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi, termasuk terhadap iblis. Dan pada diri manusia ada tudung kuasa ilahi, sehingga manusia tidak perlu menggunakan pakaian. Namun sayangnya, setelah mereka mendapat segala kuasa dari Tuhan, justru mereka menyimpang dari rencana Tuhan, di mana mereka telah jatuh dalam dosa (Kejadian pasal 3). Dan akibat manusia jatuh dalam dosa, maka iblis berkuasa atas diri manusia untuk melakukan tindakan-nya (iblis).

Tetapi, dengan keadaan seperti ini Allah tidak tinggal diam, di mana pada jaman Musa, Allah menurunkan sepuluh hukum Allah untuk menahan manusia supaya tidak melakukan kehendak iblis. Adapun isi kesepuluh hukum Allah itu adalah sebagai berikut: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi, serta jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya,
sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Ingatlah dan kuduskanlah hari sabat. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Jangan membunuh.
Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang  sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu” (Keluaran 20:1-17). Dan setelah hukum ini diturunkan, apakah manusia mampu untuk tidak melakukan kehendak iblis? Tidak, oleh karena itu Allah berinisiatif untuk menyerahkan putraNya yang tunggal sebagai tumbal dosa kita, yaitu Yesus Kristus.

Saudara, perlu kita ketahui pula, bahwa kuasa iblis atas diri manusia tidak hanya terjadi pada jaman Adam dan Hawa, tetapi terjadi pada seluruh anak cucunya, kecuali Yesus (disebut Adam akhir). Sebab Yesus lahir oleh kuasa Roh Kudus, dan selama hidup-Nya selalu taat terhadap kehendak Bapa. Ia tidak menjual dirinya kepada iblis tetapi justru Ia mengalahkan iblis. Sebagai salah satu bukti ketaatanNya, yaitu ketika Ia dicobai oleh iblis. Saat itu Yesus baru selesai menjalankan puasaNya selama 40 hari, lalu iblis mulai mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus melawannya dengan berkata: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah...” Setelah mendapat perlawanan, iblis tidak langsung menyerah tetapi tetap berusaha untuk menjatuhkan Yesus dibawa ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu iblis berkata: : “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” Lalu Yesus melawannya lagi dengan berkata: “janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu!” Dan pencobaan yang ketiga adalah Yesus
diperlihatkan semua kerajaan dunia dan segala kemegahannya (hal ini berbicara keserakahan) dan itu semua akan diberikan kepada Yesus asalkan Yesus mau menyembah kepada iblis sekali saja. Tetapi Yesus tetap melawannya, dengan berkata: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah  Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Dari contoh di atas telah menunjukkan, bahwa Yesus senantiasa taat akan kehendak Bapa bahkan sampai pada kematianNya. Dan pada hari yang ketiga Yesus telah bangkit untuk menyatakan kemenangan yang luar biasa atau kuasa iblis, sehingga setiap kita yang percaya pada Kristus akan mengalami kemenangan seperti Kristus telah menang.

Melalui pernyataan di atas mungkin timbul pernyataan: “mengapa masih ada orang Kristen yang mengalami kekalahan?, bahkan dikuasai oleh iblis?”. Untuk menjawab pertanyaan ini kita terlebih dahulu membaca Matius 12:43-45, di mana dalam ayat ini dijelaskan bahwa ketika roh jahat keluar dari manusia, maka iblis mengembara ke tempat-tempat yang tandus untuk mencari tempat perhentian, namun tidak mendapatkannya,  maka roh jahat itu akan kembali dengan berkata: “Aku akan kembali ke rumah yang telah
kutinggalkan itu.” Ketika roh jahat  itu mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur maka ia pergi untuk mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat sehingga keadaan orang tersebut lebih buruk dari keadaan semula. Hal ini menggambarkan orang-orang yang hidupnya tidak melekat pada kebenaran (firman Allah). Memang secara fisik seseorang bisa tampak bersih dan rapi, dengan budi pekerti yang baik, tetapi apabila rohnya tidak diisi dengan firman Tuhan (kosong), maka kesempatan iblis untuk berkuasa atas diri orang tersebut sangat memungkinkan. Oleh karena itu biarlah kita senantiasa melekat kepada Tuhan (bak ikat pinggang yang melekat pada tubuh), supaya iblis tidak bisa menjamah kita, sebab tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang percaya, bahwa dalam nama Yesus orang akan mengusir setan.

Lalu kapan kita disebut benar? Ketika kita percaya pada Kristus, sebab dalam Roma 5:18 dikatakan: “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.“ dan di dalam Yohanes 8:31- 32 dikatakan: “....Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Minggu, 19 Desember 2010

Pelaku Firman

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.......” (Yakobus 1:22-24)

Jika kita mendengar Firman Allah yang penuh dengan janji dan melakukannya maka kita pasti akan diberkati. Dan untuk dapat menjadi pelaku firman, diperlukan tindakan iman dalam kehidupan kita. Sebenarnya berkat itu sudah disediakan bagi kita, selanjutnya kita tinggal mengambilnya, tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah kita mau melangkah untuk mengambilnya atau tidak. Selama kita tidak mau melangkah maka selamanya kita tidak akan mendapatkan berkat yang sudah disediakan bagi kita. Kata melangkah di sini memiliki pengertian yaitu melakukan firman Tuhan. Misalnya kita membantu orang miskin atau orang yang membutuhkan pertolongan, maka Tuhan akan membalasnya berlipatkaliganda.

Namun bukan berarti kita berlomba-lomba memberi bantuan kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan dengan tujuan semata-mata untuk mendapatkan berkat yang lebih banyak. Tindakan semacam ini bukanlah seperti orang yang sedang “gambling” (judi). Memang apa yang kita tabur itu yang kita tuai, asalkan kita menaburnya dengan tulus iklas. Dan sebaliknya, bagi orang yang mendengar firman Allah dan tidak melakukan, maka orang tersebut dapat disamakan dengan orang yang bercermin dan segera pergi sehingga ia lupa akan rupanya. Demikian orang yang diberkati tetapi tidak melakukan firman Allah maka ia tidak akan ingat bahwa dia diberkati oleh Tuhan.

Saudara, selain kita diberkati ketika melakukan kehendak Tuhan; kita disebut orang yang berbahagia, seperti yang tertulis pada ayat selanjutnya (ayat 25), “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang memerdekakan orang dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Kata berbahagia itu sangat luas sekali artinya dan tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Selain itu kebahagiaan merupakan klimaks daripada kehidupan. Oleh sebab itu manusia berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Firman Allah dengan jelas mengatakan bahwa kebahagiaan bisa didapatkan apabila melakukan firman Allah.

Ada perbedaan antara orang yang melakukan firman Allah dan yang tidak melakukan. Orang yang mendengar firman Allah tetapi tidak melakukan sama dengan seorang penonton. Contohnya dalam sebuah pertandingan sepak bola. Pemain sepak bola hanya terdiri dari 11 orang tetapi penonton jumlahnya sampai mencapai puluhan ribu. Penonton tahu tujuan akhir dari pertandingan sepak bola yaitu mencapai goal, dan bagi penonton yang fanatik tahu bagaimana caranya memasukkan bola tetapi mereka tidak mampu melakukannya karena status mereka adalah penonton bukan pemain. Penonton hanya membicarakan problema, tetapi tidak menyelesaikan atau memecahkan problema, sedangkan seorang pemain tidak hanya membicarakan problema tetapi memecahkan problema. Penonton tidak akan pernah mendapatkan hadiah atau piala, tetapi pemainlah yang akan mendapatkan hadiah. Dan gambaran ini dapat kita temukan pada kehidupan orang-orang Farisi, di mana mereka begitu mengerti hukum-hukum Allah tetapi mereka tidak pernah melakukannya, sehingga mereka terbatas sampai pada pengetahuan saja. Demikian hidup kita janganlah hanya tahu tentang kebenaran tetapi menjadi pelaku kebenaran atau hidup dalam kebenaran. Karena orang yang hidup dalam kebenaran akan dimerdekakan dari segala cengkraman dunia termasuk persoalan yang ada di dalamnya. Orang Kristen yang memiliki tipe seperti “penonton”, apabila pergi ke gereja hanya ingin dipenuhi kebutuhannya baik itu pekerjaan, karir maupun segala usahanya, tetapi semuanya adalah sia-sia karena orang yang ingin bertemu dengan Tuhanlah yang akan dipenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Tuhan merindukan supaya setiap kita menjadi seorang pemain yang terlibat dalam pertandingan dan pada akhirnya akan mendapatkan hadiah atau berkat Tuhan. Keberhasilan memang bukan semata-mata kekuatan pemain saja, tetapi karena mereka mau terlibat dalam pertandingan maka mereka sanggup memecahkan problema dengan kuasa firman Allah. Sudahkah saat ini kita siap bertanding untuk menerima berkat Tuhan yang sudah disediakan? Percayalah bahwa apa yang telah difirmankanNya akan digenapi, seperti yang tertulis dalam Yesaya 55:11 “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Dan perlu diketahui bahwa selain Allah memberikan janji kepada kita, Dia juga memberi jaminan atas hidup kita, supaya apa yang telah dijanjikanNya itu dapat kita peroleh, seperti yang tertulis dalam Efesus 1:14 “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagi kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan- Nya.”

Saudara, perlu dipahami bahwa sebagai pelaku firman harus berani menerima  konsekuensi yang ada, baik itu tantangan dari luar maupun dari dalam. Kadang-kadang kita melakukan sesuatu yang baik sesuai firman Tuhan, justru dimusuhi oleh dunia. Tetapi jangan putus asa, sebab firman Tuhan pun berkata, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yohanes 15:19). Dan hal ini dapat kita lihat melalui kehidupan guru kita yaitu Yesus Kristus. Walaupun dia sudah melakukan yang baik; baik itu menyembuhkan mereka dari segala sakit penyakit, membebaskan mereka dari kuasa roh jahat, namun mereka justru berteriak “salibkan Dia”, dan mereka memperlakukan Yesus sebagai seorang pencuri, perampok ataupun pembunuh. Untuk itu apabila guru kita yaitu Yesus Kristus mengalami hal demikian maka kita pun sebagai muridNya mengalami hal-hal yang tidak jauh dari guru kita, itulah yang disebut dengan memikul salib. Walaupun hal itu tampaknya tidak enak tetapi ketahuilah bahwa kita sedang melakukan perkara yang besar.

Melalui beberapa penjelasan di atas biarlah kita semakin sungguh-sungguh memberikan diri untuk menjadi pelaku firman, sebab upah yang besar siap menanti kita. Amin.

Hidup kekristenan di manapun berada harus selalu membawa pengaruh, sama seperti Kristus di manapun Ia berada selalu mempengaruhi. Karena kuasa dalam diri kita adalah kuasa Allah sendiri, kuasa yang selalu dapat
mempengaruhi (Markus 3:13-19).

Minggu, 12 Desember 2010

Kodrat Ilahi

Setiap orang Kristen yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat, lahir baru dan sudah dibaptis, harus menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan ilahi atau kodrat ilahi. Dan hal ini telah ditegaskan oleh rasul Paulus melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, yang bunyinya: “Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah rumah Roh Kudus”(1 Korintus 3:16; 1 Korintus 6:19). Untuk itu kita patut bangga dan mengucap syukur senantiasa karena Roh Allah telah manunggal dalam kehidupan kita. Bahkan raja Daud berkata: “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mazmur 51:13).
Ayat ini menunjukkan bahwa betapa berharganya Roh Allah itu, karena Roh Allah merupakan sumber dari segalanya. Dan dalam ayat ini tersirat bahwa Daud rela kehilangan segala apa yang dia miliki asalkan Roh Tuhan tidak diambil daripadanya; hal ini terlihat dari apa yang difokuskan oleh Daud yaitu Roh Tuhan, dan bukan kerajaan atau kekayaan maupun yang lainnya.

Dan apabila kita menengok ke belakang mengenai pekerjaan Roh Kudus khususnya pada masa penciptaan dunia, maka kita akan kagum akan kedasyatannya, di mana saat itu Roh Kudus ada di permukaan air waktu penciptaan bumi ini karena bumi ini sedang kacau balau dan iblis dicampakkan ke bumi. Bumi menjadi campur baur dan rusak. Sepertiga malaikat Tuhan mengikut iblis. Tetapi Tuhan memperbaiki bumi ini. Roh Allah ada di permukaan air, lalu Allah berfirman untuk menciptakan bumi ini. Memang pada waktu itu seperti zaman penciptaan, sebenarnya penciptaan kembali, karena sebelumnya ada suatu zaman. Dunia diperbaiki dengan firman Allah, karena bumi telah dirusak oleh iblis. Dan saat itu jadilah yang diciptakan oleh Allah. Ini terjadi karena ada Roh Kudus dan firman Allah. Dan sekarang Roh Kudus ada di permukaan air, yaitu tubuh ini, karena tubuh manusia terdiri dari 80% air, yaitu darah/jiwa ini. Roh Allah merupakan suatu kodrat ilahi yang hendak berkarya secara luar biasa. Dan ini baru bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita mendengar firman Allah dan melakukannya.

Saudara, melalui sedikit ulasan di atas membuktikan bahwa Roh Kudus adalah harta atau kodrat ilahi yang akan berfungsi dan berkarya di dalam hidup kita. Dan ayat bacaan di atas menjadi landasan bagi pemahaman kita terhadap berfungsinya maupun berkaryanya kodrat ilahi yang ada di dalam kehidupan kita. Kodrat ilahi akan berfungsi apabila kita melakukan firman

Tuhan (Matius 7:24-25), dan begitu sebaliknya, bahwa kodrat ilahi itu tidak berfungsi apabila kita tidak melakukan kehendak Tuhan (Matius 7:26-27). Selain itu, perlu kita ketahui bahwa kita mendapatkan kodrat ilahi semata- mata oleh kasih dan anugerahNya; seperti yang tertulis dalam 2 Petrus 1:3-4 : “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” Sedangkan pada ayat selanjutnya (2 Petrus 1:5-10); apabila dikolaborasikan dengan ayat bacaan di atas maka kita akan menemukan nilai kebenaran yaitu bahwa saat kita membangun rumah harus dimulai dengan iman, lalu kebajikan,
pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara- saudara, dan kasih akan semua orang.

Untuk lebih detailnya, mari kita bahas satu persatu mengenai syarat dalam membangun rumah (rumah rohani).

Yang pertama yaitu dengan iman. Di mana iman itu ada atau timbul dalam kehidupan kita apabila kita senantiasa mendengarkan firman Tuhan (Roma 10:17). Sebab firman Tuhan telah diwujudkan melalui peristiwa kehidupan seseorang, seperti Musa, Daud dan lainnya. Di dalam firman Tuhan banyak dicatat tentang mujizat yang Tuhan lakukan, baik itu dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Semua itu adalah kodrat ilahi dan bukan oleh kekuatan manusia. Kalau kita membaca firman Allah, maka pekerjaan Roh Kudus yang dicatat dalam Alkitab dapat terjadi dalam kehidupan kita pula, khususnya sebagai orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan. Dan firman Allah tidak boleh hanya sebagai kepercayaan/iman saja, tetapi harus nyata dalam perbuatan (Yakobus 2:17-22). Perbuatan yang di dalamnya terkandung kebajikan ini tidak hanya dilakukan oleh seorang iman atau nabi saja, tetapi semua umat Tuhan harus melakukannya. Seperti halnya Yunus yang bertobat dan melakukan perintah Tuhan. Setelah melakukan firman Allah maka kodrat ilahi yang ada dalam dirinya bekerja secara luar biasa, di mana melalui pemberitaannya maka satu kota (Niniwe) bertobat.

Ketika kodrat ilahi berfungsi dalam hidup kita, dan berjalan seiring dengan waktu yang di dalamnya diwarnai dengan berbagai macam pencobaan demi pencobaan, maka dari situlah akan timbul pengalaman/pengetahuan, yang pada akhirnya akan membawa kita hidup dengan penguasaan diri ; misalnya saat kita menghadapi persoalan maka kita tidak panik lagi.

Sebagai contoh yang nyata adalah kisah daripada rasul Paulus; di mana telah diungkapkan melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 4:8-10). Selain penguasaan diri, dalam diri kita dituntut pula adanya ketekunan, karena tanpa ketekunan maka kita tidak akan mendapatkan apa- apa. Sebagai gambaran adalah seorang petani. Mereka tidak akan panen apabila tidak sabar atau tekun dalam merawat dan menantikan tanaman yang ia tanam, karena segala sesuatu ada waktunya. Firman Tuhan berkata: “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya” (2 Timotius 2:6). Dan besar kecilnya panen mereka tidak lepas dari hukum tabur tuai, yaitu “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Korintus 9:6). Dan selanjutnya adalah: bagi orang yang bertekun di dalam Tuhan maka orang itu akan hidup dalam kesalehan; yang pada akhirnya kodrat ilahi yang ada di dalam dirinya akan senantiasa memelihara orang tersebut baik di dalam dunia maupun sampai pada hidup yang kekal.

Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan yang ada. Biarlah kodrat ilahi yang telah dianugerahkan dalam kehidupan ini, senantisa berfungsi untuk melakukan pekerjaan yang besar. Karena pondasi ini sebenarnya tercakup dalam iman, harap dan kasih.

Sabtu, 04 Desember 2010

Prinsip Hidup Tuhan Yesus dan para Malaikat

Peranan malaikat itu sangat penting dalam kehidupan Yesus. Dan Tuhan memberikan perintah melalui malaikat-malaikatNya.
• Peranan malaikat dalam kehidupan Zakharia, Lukas 1 : 11: “ Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan”
• Peranan malaikat dalam kehidupan Yusuf dan Maria, Lukas 1:26: “ Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret”
• Peranan malaikat dalam kehidupan para gembala, Lukas 2:10: “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”
• Peranan malaikat pada saat Yesus di Getsemani untuk memberi kekuatan kepadaNya ( Lukas 22:43-47).

Peranan Malaikat:
1. Kita tidak menyembah malaikat
2. Kita tidak berdoa pada malaikat
3. Kita tidak bernyanyi untuk malaikat

Apakah malaikat bisa dipakai Tuhan untuk menolong kita?
Bisa, Mazmur 34:8 “Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.”

Apakah tugas untuk malaikat :
1. Malaikat menyembah Yesus, Ibrani 1:6 ”Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia’”
2. Malaikat adalah roh yang melayani, Ibrani 1:14 “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani yang harus memperoleh keselamatan”

Bagaimana caranya atau prinsip apa yang dipakai oleh Yesus
• Dengan Firman Tuhan, Mazmur 1: 1-3
• Melakukan kebenaran dalam Matius 4:4-6, janganlah mencobai Tuhan. Mencobai memiliki pengertian memaksa Tuhan bertindak menunjukkan kuasaNya untuk memuaskan atau menjawab keinginan kita.
• Sembah Tuhan saja, Matius 4:10: “ Maka berkatalah Yesus kepadaNya:” Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, AllahMu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”

Siapakah yang kita sembah ? HANYA TUHAN SAJA !

Malaikat tidak melayani kita, tetapi melayani Roh Allah yang ada di dalam kita, sehingga hidup kita dibuat berhasil.  Menyadari sepenuhnya bahwa kita begitu dicintai Tuhan, sehingga disediakan malaikat untuk melayani kita. Oleh karena itu biarlah kita hidup benar, setia dan mencintai Yesus lebih dari segalanya. Hidup kita hidup dalam kelimpahan (Wahyu 14:6-13).