Kamis, 17 Maret 2011

Inspirasi

Roh Allah adalah tenagaNya, pikiran dan watak yang Dia tunjukkan melalui tindakan-tindakan dimana rohNya yang bekerja. Bagaimana roh Allah nampak pada pekerjaan penciptaan:”Oleh nafasNya langit-langit menjadi cerah” (Ayub 26:13)-Roh Allah melayang-melayang di atas permukaan air (Kej. 1:2). Bahkan juga kita membaca “Oleh firman Tuhan” langit telah dijadikan (Mzm. 33:6), seperti yang ditunjukkan melalui kisah di Kejadian, yang mencatat bahwa “Allah berfirman” mengenai hal-hal yang akan diciptakan dan terjadilah demikian. Oleh karena itu Roh Allah sangat mencerminkan firmanNya. Seperti kata-kata yang kita ucapkan mencerminkan kepribadian kita dengan akurat. Yesus dengan bijaksana menggambarkan: “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati (pikiran)”. Jadi, jika kita ingin mengontrol kata-kata kita, pertama-tama kita harus memulainya dari pikiran kita. Firman Allah adalah penggambaran dari rohNya atau pemikiranNya. Adalah suatu berkat bahwa di dalam Alkitab kita memiliki kata-kata Allah yang ditulis, sehingga kita boleh mengerti tentang roh atau pemikiran Allah. Allah melakukan keajaiban ini dengan kata-kata tertulis yang dilakukan oleh rohNya melalui suatu proses INSPIRASI. Istilah ini berasal dari kata ”spirit” (dalam bahasa Inggris).

IN-SPIRIT-ATION

”Spirit” berarti ”nafas” atau bernafas, ”Inspirasi” berarti ”melalui pernafasan”, Ini mengartikan bahwa kata-kata yang ditulis oleh para penulis yang berada dibawah ”inspirasi” Allah, adalah kata-kata dari Roh Kudus. Paulus menganjurkan Timotius agar pengenalannya terhadap Kitab Suci yang sudah dari sejak lahir tidak membuatnya melupakan fakta bahwa itu adalah firman dari Roh Allah, yang memberikan kepada kita banyak hal yang perlu kita ketahui supaya kita mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah:

”Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal kitab suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi (secara menyeluruh) untuk setiap perbuatan baik.”

Jika tulisan-tulisan kudus yang terilham merupakan suatu pengetahuan secara keseluruhan, maka kita tidak lagi membutuhkan suatu ”cahaya suci” untuk menunjukkan kepada kita kebenaran tentang Allah. Banyak sekali orang-orang yang menceritakan tentang pengalaman pribadi mereka dan apa yang mereka rasakan sebagai sumber mereka akan pengetahuan tentang Allah. Jika kita menerima dengan iman bahwa firman Allah yang terilham sudah cukup untuk melengkapi seorang kristen dalam kehidupan, maka tidak diperlukan lagi suatu mukjizat di dalam kehidupan kita. Jika tidak demikian, maka firman Allah belum cukup untuk melengkapi kita. Seperti yang dijanjikan Paulus bahwa hal itu akan terjadi. Untuk mempelajari Alkitab dan mempercayainya sebagai firman Allah, dibutuhkan suatu iman. Ketertarikan bangsa Israel terhadap firman Allah sangat beralasan, seperti yang dialami banyak ”orang kristen” pada saat ini. Kita semua harus berhati-hati dalam merefleksikan Ibrani 4:2;

”Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengam mereka yang mendengarnya.”

Daripada berusaha untuk menumbuhkan iman kepada kuasa roh Allah/ firmanNya sebagaimana yang telah dinyatakan, malah mengambil jalan pintas secara rohani dengan alasan bahwa kuasa dari Roh Allah akan datang kepada kita secara tiba-tiba, yang akan membuat kita diterima dihadapan Allah, dan menganggap hal itu lebih baik daripada mengalami penderitaan terus menerus karena taat kepada firman Allah yang dengan demikian akan membuat Roh Allah bekerja di dalam hati kita.

Ketidaksediaan mereka dalam menerima kekuatan spiritual yang sangat besar melalui firman Allah yang telah menuntun banyak ”orang kristen” bertanya apakah semua tulisan kudus betul-betul inspirasi dari Allah. Mereka menganggap bahwa menyelidiki Alkitab lebih jauh adalah opini pribadi dari orang tua yang bijaksana. Petrus menjelaskannya dengan efektif dalam menanggapi hal yang tidak jelas ini;

”Dengan demikian kami diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam kitab suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Ptr. 1:19:21)

Kita harus mempercayai ”kata-kata diatas” bahwa Alkitab terilham. Berdasarkan inilah kami membuat Pengakuan Iman Christadelphian.

Para Penulis Alkitab

Kepercayaan yang mendalam mengenai segenap inspirasi dari tulisan-tulisan kudus adalah suatu hal yang penting. Menarik sekali, para penulis Alkitab dibimbing oleh roh yang menginspirasikan mereka sehingga mereka menulis bukan berdasarkan kata-kata mereka sendiri. FirmanMu adalah kebenaran (Yoh. 17:17). Untuk menyatakan kesalahan dan untuk memperbaiki kelakuan (2 Tim. 3:16,17), tidak mengejutkan jika banyak orang tidak mengetahui hal ini, karena kebenaran menyakitkan. Nabi Yeremia ditentang karena memberitakan firman Allah, dan dia dipaksa untuk tidak mencatatnya atau mempublikasikannya. Oleh karena penulisan firman Allah didasari atas kehendak Allah bukan manusia, maka ia ”terus dibimbing oleh Roh Kudus” sehingga ia tidak mempunyai pilihan dalam menghadapi keadaan ”Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku...Tetapi apabila aku berpikir, ”Aku tidak mau mengingat Dia, dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya. Maka dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup (Yer. 20:7,9)

Demikian juga halnya dengan Bileam , yang dipaksa untuk mengutuk Israel, Roh Allah membuat dia mengucapkan berkat daripada sebaliknya (Bil. 24:1-13 Ul. 23:5).

Suatu jumlah yang mengejutkan dari orang-orang yang diperintahkan Allah untuk menyatakan firmanNya, yang melaksanakan tugas itu dengan berat hati, jumlahnya sangat mengesankan;

Musa (Kel. 4:10)
Yehezkiel (Yeh. 3:14)
Yunus (Yun. 1:2,3)
Paulus (Kis. 18:9)
Timotius (1 Tim. 4:6-14)
Bileam (Bil. 22-24)

Hal ini mengkonfirmasikan apa yang telah kita pahami di 2 Petrus 1:19-21 bahwa firman Allah bukanlah pendapat pribadi dari manusia, tapi adalah hasil dari penulisan orang-orang yang berada di bawah inspirasi, yang diperintahkan untuk mencatat apa yang telah dinyatakan kepada mereka. Nabi Amos mengatakan:”Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” (Amos 3:8). Pada waktu Musa kehilangan rasa percaya dirinya, Allah mendukungnya:”Segala perintah ini, yang telah difirmankan Tuhan kepada Musa...” (Bil. 15:22,23); firman ini diucapkan oleh Musa (ayat 17).

Pembuktian lain mengenai hal-hal ini adalah bahwa para penulis Alkitab tidak betul-betul mengerti mengenai hal-hal yang telah mereka catat. Karena mereka sendiri menyelidikinya untuk mendapatkan penafsiran yang benar. ”Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberikan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka.” sebagaimana yang telah mereka catat (I Ptr. 1:9-12)

Firman yang telah mereka catat bukanlah atas kehendak mereka sendiri, buktinya mereka sendiri juga menyelidikinya. Ayat-ayat berikut menjelaskan beberapa contoh; Daniel (Dan. 12:8-10) Zakharia (Zak. 4:4-13) dan Petrus (Kis. 10:17)

Jika orang-orang ini hanya diinspirasikan untuk menulis beberapa bagian saja, maka kita tidak akan mengetahui dengan benar tentang firman atau roh Allah. Jika hal-hal yang mereka tulis adalah benar-benar firman dari Allah, maka mereka telah dibimbing sepenuhnya oleh Roh Allah dalam masa penulisan. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, maka hasilnya adalah bukan firman Allah yang murni. Untuk menerima Alkitab sebagai firman Allah sepenuhnya, kita harus lebih memotivasi diri untuk membaca dan menaatinya. ”janji-janjiMu sangat teruji, dan hambaMu mencintainya” (Mzm. 119:140).

Dengan demikian kitab-kitab yang terdapat di dalam Alkitab adalah karya Allah melalui Roh KudusNya, yang melebihi karya manusia. Untuk meyakinkan hal ini, perhatikan bagaimana Perjanjian Lama dijadikan referensi untuk menulis Perjanjian Baru:

- Matius 2:5 karena demikianlah ”ada tertulis dalam kitab nabi” -Allah telah menulisnya melalui mereka
- ”yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud...” (Kis, 1:16 menerangkan bagaimana Petrus mengutip ayat dari Mazmur, bandingkan dengan Ibrani 3:7)
- ”yang disampaikan Roh Kudus melalui perantaraan Yesaya” (Kis. 28:25 Paulus mengutip dari Yesaya) Lukas 3:4 mengatakan ”Kitab nubuat-nubuat Yesaya” daripada hanya sekedar ”Kitab Yesaya.”

Oleh karena itu, bagi orang kristen yang mula-mula, mengetahui bahwa Roh Kuduslah yang menginspirasikan firman tersebut adalah lebih penting daripada mengetahui siapa yang menulisnya.

Dalam pelajaran ini akan kami lampirkan daftar ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Roh Allah telah dinyatakan kepada kita melalui firman Allah yang tertulis:

- Dengan terus terang Yesus mengatakan,”Perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63); Dia berbicara dibawah inspirasi dari Allah (Yoh. 17:8; 14:10)
- Kita dijelaskan tentang lahir kembali melalui air dan roh (Yph. 3:3-5) dan firman Allah (I Ptr. 1:2,3)
- Firman yang disampaikan Tuhan semesta alam melalui rohNya dengan perantaraan para nabi...” (Zak. 7:12)
- ”...Aku hendak mencurahkan isi hatiKu kepadamu dan memberitahukan perkataanKu kepadamu” (Ams. 1:23) Memberikan pengertian yang benar tentang firman Allah kepada kita melalui rohNya. Percuma saja kita membaca Alkitab kalau tidak bisa mengambil pelajaran dari dalamnya dan akan membuat roh/pikiran Allah tidak dinyatakan kepada kita.
- Ada banyak ayat yang menjelaskan hubungan antara firman Allah dan rohNya: ”...RohKu yang menghinggapi engkau dan firmanKu yang kutaruh dalam mulutmu...”(Yes. 59:21); ”Oleh karena firmanMu dan menurut hatiMu (roh)” (2 Sam. 7:21); ”RohKu akan Kubiarkan diam di dalam batinmu...” (Yeh. 36:27); ”...Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka...” (Yer. 31:33)

Kuasa Firman Allah

Roh Allah tidak hanya mengacu kepada pikiran/watakNya, tapi juga kepada tenaga yang Dia gunakan untuk mengekspresikan apa yang Dia pikirkan. Adalah suatu yang diharapkan bahwa firman dari rohNya bukan hanya menyatakan apa yang Dia pikirkan, tapi juga menyatakan suatu kekuatan yang terdapat dalam firman tersebut.

Pengertian yang benar tentang kekuatan itu akan membuat kita jadi berhasrat untuk menggunakannya. Perasaan rendah diri untuk melakukan hal tersebut dapat diatasi dengan pengetahuan kita, ketaatan kepada firman Allah akan memberikan kekuatan untuk mengatasi masalah sekecil apapun dalam hidup ini sambil menentikan penyelamatan. Karena berpengalaman dalam hal ini, Paulus menulis;

”Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan...” (Rm. 1:16)

Lukas 1:37 berbicara mengenai hal yang sama:”Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Oleh karena itu, mempelajari Alkitab dan menerapkannya di dalam hidup kita adalah suatu proses yang dinamis. Proses ini bukanlah proses belajar seperti di sekolah theologia, juga bukan proses ”menjadi orang baik” seperti yang diajarkan banyak gereja, yang hanya berdasarkan sedikit ayat menyimpulkan suatu pengajaran tanpa mau berusaha untuk memahami atau menerapkannya. ”Sebab firman Allah hidup dan kuat dan...; ”Ia adalah cahaya kemuliaan Allah...” (Ibr. 4:12; 1:3) ”firman Allah...dan memang sungguh-sungguh demikian sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1 Tes. 2:13). Melalui firman, Allah secara aktif bekerja di dalam pikiran orang-orang percaya yang benar, setiap jam dalam sehari.

Oleh karena itu Injil yang sedang anda pelajari intinya adalah Kuasa Allah yang benar; jadi, jika anda melakukannya maka, Roh Allah akan bekerja dalam kehidupan anda dan merubah anda menjadi anak Allah, yang mencerminkan roh/pikiran Allah dalam beberpa hal di dalam kehidupan ini, dan juga mempersiapkan anda untuk memasuki alam Allah yang akan datang pada saat kedatangan Kristus. (2 Ptr. 1:4) Seperti yang diajarkan Paulus ”dengan keyakinan akan Kekuatan Roh” (1 Kor. 2:4).

Kita dikelilingi oleh orang-orang yang tidak percaya sepenuhnya kepada Alkitab sebagai firman Allah, walaupun mereka mengklaim percaya kepada Kristus. Serupa dengan klaim mereka bahwa mereka menerima Allah tapi tidak dapat menerima Allah sebagai pribadi yang nyata. Dengan menolak segenap tulisan-tulisan kudus yang terilham dan keunggulannya yang mengatasi keyakinan dan perasaan pribadi kita, sama dengan menolak Kuasa Allah. Seperti yang tertulis di 2 Tim. 3:5; ”Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” yaitu kekuatan Injil.

Keyakinan kita diolok-olok oleh dunia (”seperti itukah anda meyakininya?”), begitu juga dengan yang dialami oleh Paulus dan rekan-rekan sekerjanya; ”Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Kor. 1:18)

Dengan mempertimbangkan semua ini, dapatkah kita memegang erat Alkitab dengan penghormatan yang besar dan keinginan yang dalam untuk memahaminya dan mematuhinya?

Sikap Umat Allah Terhadap FirmanNya

Dengan daya pengamatan yang tajam sewaktu membaca Alkitab, kita akan mengetahui bahwa penulis Alkitab tidak hanya mengetahui bahwa ia diilhami, tapi ia juga memberitahukan bahwa penulis yang lain juga terilham. Tuhan Yesus mahir dalam hal ini, sewaktu ia mengutip Mazmur Daud sebagai permulaan ia mengatakan,”Daud oleh pimpinan Roh...” (Mat. 22:43), hal ini menunjukkan bahwa ia tahu kata-kata Daud terilham. Yesus juga berbicara tentang tulisan-tulisan Musa (Yoh. 5:45-47) yang menunjukkan dia percaya bahwa Musa memang betul-betul menulis Kitab Taurat. Mereka yang disebut ”pengkritik tajam” ajaran kristen mempertentangkan apakah benar Musa yang menuliskan hukum taurat, tapi apa yang mereka pertentangkan telah diklarifikasikan oleh Yesus. Dia menyebut Musa sebagai penulis ”perintah-perintah Allah” (Mrk. 7:8,9). Kelompok yang sama dari para ”penentang yang tidak jujur” mengklaim bahwa kebanyakan kisah di dalam Perjanjian Lama adalah mitos, padahal baik Yesus maupun Paulus tidak pernah mengatakan hal demikian. Sewaktu Yesus berbicara tentang kisah Ratu Syeba sebagai fakta sejarah yang diakui (Mat.12:42) Dia tidak mengatakan,”Dongeng Ratu Syeba...”

Sikap para murid juga sama dengan tuan mereka. Dicontohkan oleh Petrus yang mengatakan bahwa pengalaman pribadinya dalam mendengarkan firman dari Kristus dengan telinganya sendiri membuat dia semakin ”diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan para nabi” (2 Ptr. 1:19-21). Petrus mempercayai bahwa surat-surat Paulus mempunyai autoritas yang sama dengan Perjanjian Lama.

Ada banyak perumpamaan di dalam Kisah para Rasul, Surat-surat, dan Wahyu yang berkaitan dengan Injil (sebgai contoh, bandingkan Kis. 13:51; Mat. 10:14) yang mengindikasikan bahwa bukan hanya mereka yang diilhami, tapi juga menyatakan bahwa Injil yang dicatat adalah terilham, seperti yang dikatakan oleh para penulis Perjanjian Baru. Di dalam 1 Timotius 5:18 Paulus mengutip ayat-ayat dari Ulangan 25:4 dan Lukas 10:7 sebagai ”tulisan-tulisan kudus.” Paulus berani mengatakan dengan tegas bahwa apa yang dia beritakan berasal dari Kristus, bukan dari dirinya sendiri (Gal.1:11,12; I Kor. 2:13, 11:23, 15:3). Hal ini juga diketahui oleh para murid yang lain; oleh karena itu di dalam Yakobus 4:5 mengutip kata-kata dari Galatia 5:17 sebagai ”tulisan kudus.”

Allah telah berbicara kepada kita melalui Kristus, oleh karena itu sudah tidak diperlukan lagi wahyu yang lain (Ibr. 1:2). Dapat diselidiki bahwa Alkitab juga menyinggung tulisan terilham lainnya yang tidak terdapat di dalam Alkitab (sebagai contoh; the book of Jasher, the writings of Nathan, Elijah, Paul to Corinth, dan John’s third epistle yang mengatakan secara tidak langsung bahwa Yohanes telah menulis suatu surat yang tidak dipelihara, yang ditujukan kepada gereja yang mana Diotrefes menolak untuk mematuhinya). Mengapa tulisan-tulisan ini tidak tersedia bagi kita? Jelas, karena memang tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Oleh karena itu kita dapat yakin bahwa Allah telah menyediakan semua tulisan yang ada sangkut pautnya dengan kita.

Telah diklaim bahwa buku-buku di dalam Perjanjian Baru dapat diterima secara berangsur-angsur sebagai tulisan yang terilham, tapi fakta bahwa para murid mengatakan bahwa setiap tulisan kudus terilham, menyangkal hal tersebut. Suatu roh yang menakjubkan telah diberikan untuk menguji apakah surat-surat dan kata-kata yang diklaim sebagai yang terilham, apa memang benar demikian? (1 Kor. 14:37; 1 Yoh. 4:1; Why. 2:2). Hal ini mengartikan bahwa surat-surat yang terilham memang sudah diterima sebelumnya sebagai catatan yang terilham. Jika ada campur tangan manusia dalam menyeleksi buku-buku yang terdapat dalam Alkitab, maka Alkitab sama sekali tidak memiliki autoritas.

Jumat, 11 Maret 2011

Roh Allah

Seperti halnya Allah itu nyata, suatu pribadi yang memiliki perasaan dan emosi, maka adalah suatu yang diharapkan bahwa ia akan menggunakan beberapa cara untuk mengungkapkan keinginannya dan perasaannya kepada kita, anak-anaknya, kemudian kita menerapkannya di dalam kehidupan kita selaras dengan karakternya. Semua ini dilakukan Allah melalui RohNya. Jika kita ingin mengenal Allah dan mempunyai hubungan yang aktif dengan Dia, maka kita perlu untuk mengetahui apakah “Roh Allah” itu? Bagaimana ia bekerja?

Bukan sesuatu yang mudah untuk menjelaskan dengan tepat arti kata “Roh” (“Spirit” dalam bahasa Inggris). Jika anda pergi ke suatu pesta pernikahan, misalnya anda mungkin berkomentar,”There was a really spirit there!” Anda bermaksud untuk mengatakan bahwa susana disana baik, segala sesuatu yang menyangkut pernikahan berjalan dengan baik. Setiap orang berpakaian dengan pantas, makanannya enak, orang-orang berbicara satu sama lain dengan baik, pengantinnya cantik, dll. Semua hal ini menjadi “Spirit” (sesuatu yang membuat) pernikahan berjalan dengan baik.

Demikian halnya Roh Allah, menjelaskan dengan ringkas segala sesuatu tentang Dia. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “roh” di dalam Perjanjian Lama, mempunyai arti “nafas” atau “tenaga”; maka Roh Allah adalah “nafasnya”, bagian yang pokok dari Allah, yang mencerminkan pikirannya. Kami akan memberikan contoh bagaimana kata “roh” digunakan dalam menggambarkan pikiran seseorang atau wataknya,  Kata roh tidak hanya mengacu kepada tenaga Allah saja, hal ini dengan jelas diterangkan dalam Roma 15:19; “kuasa roh”.
Adalah suatu ajaran umum Alkitab bahwa apa yang manusia pikirkan, diekspresikan dalam tindakannya. (Ams. 23:7, Mat. 12:34), kelakuan kita menggambarkan apa yang ada di pikiran kita. Kita memikirkan sesuatu, kemudian melakukannya. Roh atau pikiran kita akan merefleksikan apa yang telah menjadi fakta, misalnya kita lapar dan menginginkan makanan, kita melihat pisang di dapur; keinginan ”roh” kita diterjemahkan ke dalam tindakan, kita mengambil pisang itu lalu mengupasnya dan memakannya. Contoh yang sederhana ini menunjukan mengapa kata Ibrani untuk ”roh” mempunyai dua arti, yaitu nafas atau pikiran dan tenaga. Roh kita, adalah inti kehidupan kita. Dalam skala yang lebih besar, Roh Allah mempunyai pengertian yang sama; yaitu suatu kuasa yang menunjukan tenagaNya, watakNya dan tujuanNya. Pikiran Allah adalah apa yang akan dilaksanakannya;”Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah yang terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana” (Yes. 14:24)

Kekuatan Allah
Banyak ayat yang dengan jelas mengidentifikasikan bahwa Roh Allah adalah tenagaNya. Dalam hal penciptaan alam semesta; ”Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Dan Allah berfirman, jadilah terang: lalu terang itu jadi.” (Kej. 1:2,3) 
Roh Allah adalah sumber dari segala sesuatu yang telah diciptakan, ”Oleh nafasNya langit menjadi cerah, tanganNya menembus ular yang tangkas” (Ayub 26:13). ”Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaraNya.” (Mzm. 33:6). Oleh karena itu Roh Allah dijelaskan sebagai:
  • NafasNya
  • FirmanNya
  • TanganNya

Karena tenagaNya Ia menyebabkan segala sesuatu ada. Demikian juga orang-orang percaya yang lahir kembali adalah atas kehendakNya (Yoh. 3:3-5). KehendakNya dilaksanakan oleh Roh. Berbicara tentang seluruh penciptaan, kita membaca, ”Apabila Engkau mengirimkan RohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi” (Mzm. 104:30). Roh/Tenaga inilah yang menjadi penopang bagi segala sesuatu, sebagaimana hal-hal tersebut diciptakan. Mudah sekali untuk membayangkan bagaimana jadinya kehidupan yang tragis ini dan yang penuh dengan sandungan, tanpa campur tangan Roh Allah. Ayub, yang menjadi letih atas apa yang dia alami, telah diperingatkan oleh seorang nabi:”Jikalau Ia menarik kembali RohNya, dan mengembalikan NafasNya kepadaNya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu” (Ayub 34:14,15). Ketika berusaha keluar dari keadaan yang tertekan, Daud memohon kepada Allahuntuk terus mendukungnya melalui Roh untuk melindunginya (Mzm. 51:12).

Roh yang telah diberikan kepada kita dan seluruh ciptaan, adalah roh yang menopang kehidupan kita. Kita mempunyai ”nafas dari roh kehidupan” di dalam diri kita (Kej. 7:22) yang diberikan Allah pada waktu manusia diciptakan (Mzm. 104:30; Kej. 2:7). Hal ini membuat Dia menjadi ”Allah dari roh segala makhluk” (Bil. 27:16, Ibr. 12:9). Karena Allah sebagai sumber kehidupan yang menopang segala makhluk, maka RohNya berada dimana saja. Daud mengetahui bahwa melalui RohNya/TenagaNya, Dia mampu mengetahui setiap sudut dari pikirannya dan apa yang dipikirkannya. Maka pengertian dari bahwa Dia selalu berada dimana saja, walaupun Dia berada di surga, adalah RohNya yang melakukan hal itu.
Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh...Kemana aku dapat pergi menjauhi RohMu, kemana aku dapat lari dari hadapanMu? Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga disana...tangan kananMu memegang aku. (Mzm. 139:2,7,9,10)

Pengertian yang tepat dari hal ini adalah bahwa Allah menyatakan diriNya kepada kita sebagai suatu tenaga aktif yang sangat kuat. Banyak orang yang imannya bertumbuh bersama pengertian yang tidak jelas tentang Allah. Bagi mereka Allah hanyalah suatu konsep di dalam pikiran, seperti kotak hitam pesawat yang berada di dalam otak. Pengertian tentang Allah yang benar dan kehadiranNya yang nyata disekitar kita melalui RohNya, dapat mengubah total kehidupan kita. Kita dikelilingi oleh roh, yang terus menerus memberikan kesaksian dari setiap tindakannya tentang Allah kepada kita. Daud mendapatkan semangat dari semua ini, yang tentu saja sangat membingungkannya: ”Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalau tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” (Mzm. 139:6). Tanggung jawab harus disertai dengan pengetahuan yang cukup; kita harus mengakui bahwa setiap apa yang kita pikirkan dan lakukan, diketahui oleh Allah. Selagi kita mengoreksi diri kita apakah kita layak dihadapanNya, khususnya sebelum pembaptisan, kita perlu memikirkan hal ini: menerapkan firman Allah yang mulia yang disampaikanNya kepada Yeremia: ”Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? Demikianlah firman Tuhan. Tidaklah Aku memenuhi langit dan bumi? Demikianlah firman Tuhan” (Yer. 23:24).

Kita telah melihat bahwa konsep tentang Roh Allah sangat luas untuk dipahami; tentang pikiran dan watakNya, dan juga tenaga yang Dia gunakan untuk melaksanakan apa yang ada di dalam pikiranNya. ”Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah Ia” (Ams. 23:7); begitu juga dengan Allah di dalam pikiranNya. Dalam pengertian ini, yang dimaksud adalah RohNya (Yoh. 4:24). Meskipun begitu, hal ini tidak mengartikan bahwa Allah bukan suatu pribadi (lihat pertentangan 1). Untuk membantu anda memahami pengertian tentang Roh Allah yang luas, kadang-kadang kami akan menyebutnya ”Roh KudusNya.”

Kata ”Roh Kudus” banyak sekali ditemukan di dalam Perjanjian Baru, di dalam terjemahan Versi Autorisasi (AV), kata ”Roh Kudus” sering kali digunakan, tapi seharusnya kata itu diterjemahkan sebagai ”suatu roh kudus”, dalam Alkitab terjemahan modern terjemahannya lebih jelas. Sepadan dengan yang tercatat di dalam Perjanjian Lama,”Roh dari Allah”, atau ”Roh dari Tuhan”. Dengan jelas diterangkan dalam Kisah para Rasul 2 bahwa Aku akan mencurahkan RohKu (Allah) (Kis. 2:17). Juga di Lukas 4:1 menceritakan Yesus ”yang penuh dengan roh kudus”, kembali dari sungai yordan; kemudian dalam pasal yang sama Yesus mengatakan ”Roh Tuhan ada padaku” yang menjadi penggenapan dari Yesaya 61. Dalam kedua contoh ini (masih banyak lagi yang lain) arti kata Roh Kudus sama dengan yang ada di Perjanjian Lama ”Roh dari Allah”.

Perlu diketahui, Roh Kudus diparalelkan dengan tenaga Allah dalam beberapa ayat berikut;
”Roh Kudus (roh) akan turun atasmu (Maria), dan kuasa Allah yang maha tinggi akan menaungi engkau” (Luk. 1:35)
”oleh kekuatan roh kudus...oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa roh.” (Rm. 15:13,19)
”Sebab Injil yang kami beritakan...dengan kekuatan oleh roh kudus.” (I Tes. 1:5)
Murid-murid dijanjikan akan menerima Roh Kudus seperti mereka ”diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Kis. 10:38)
Paulus menopang pengajarannya hal yang tak dapat disangkal, yaitu kuasa/tenaga Allah; ”baik perkataanku maupun pemberitaanku...dengan keyakinan akan kekuatan roh.” (I Kor. 2:4).

Senin, 07 Maret 2011

Malaikat

Malaikat :
  • Mempunyai bentuk secara fisik, pribadi yang nyata
  • Mewakili nama Allah
  • Sebagai perantara Allah untuk melaksanakan tujuanNya
  • Serupa dengan karakter Allah dan tujuanNya sehingga merupakan manifestasi dari Allah

Sebelumnya dijelaskan tentang kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Allah” adalah “Elohim”, yang mempunyai arti “Yang Perkasa”. “Yang perkasa” inilah yang mewakili nama Allah, dan juga disebut sebagai “Allah”. Karena persekutuan mereka yang erat dengan Dia. Mereka inilah yang disebut Malaikat.

Catatan mengenai penciptaan dunia di Kejadian 1, mengatakan bahwa Allah menyebutkan beberapa perintah sehubungan dengan penciptaan, “dan jadilah demikian”. Malaikatlah yang mengatakannya.

“Pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firmanNya dengan mendengarkan suara firmanNya” (Mzm. 103:20)

Oleh karena itu sangat beralasan untuk menyimpulkan bahwa ketika kita membaca kata “Allah” dalam penciptaan dunia, mengacu kepada malaikat. Ayub 38:4-7 menjelaskan hal yang sama. Jadi, kita dpat menyimpulkan kisah tentang penciptaan dunia sebagaimana dicatat dalam Kejadian 1, sebagai berikut;

Hari 1 “Allah berfirman, jadilah terang; dan jadilah demikian (ayat 3)

Hari 2 “ Allah berfirman, jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air…dan jadilah demikian (ayat 6,7)

Hari 3 “Allah berfirman, hendaklah segala air yang dibawah langit berkumpul pada satu tempat sehingga kelihatan yang kering, dan jadilah demikian (ayat 9)

Hari 4 “Allah berfirman, jadilah benda-benda penerang pada cakrawala…, dan jadilah demikian (ayat 14,15)

Hari 5 “Allah berfirman, hendaklah di dalam air berkeriapan makhluk yang hidup dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala. Maka Allah menciptakannya…, dan jadilah demikian (ayat 20, 21)

Hari 6 “Allah berfirman, hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup…, dan jadilah demikian (ayat 24)

Manusia diciptakan pada hari keenam, “Allah berfirman, baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita” (Kej. 1:26). Sebagai catatan bahwa kata “Allah” di ayat ini bukan hanya tertuju pada Allah saja. “Baiklah kita menjadikan manusia” menunjukkan bahwa kata “Allah” tertuju pada lebih dari satu pribadi. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Allah” disini adalah “Elohim”, yang artinya “Yang perkasa”, yang tertuju kepada Malaikat. Adalah fakta bahwa malaikat menciptakan kita berdasarkan rupa mereka, hal ini mengartikan bahwa kita mempunyai bentuk tubuh yang sama dengan mereka. Mereka adalah pribadi yang nyata yang hidup di alam yang sama dengan Allah.

Pengertian kata “alam” mengacu pada apa yang secara fundamentalis telah dipahami sebagai suatu tempat yang didiami berdasarkan struktur tubuh secara fisik. Alkitab menjelaskan bahwa ada 2 alam, dan tidak mungkin untuk berada di dalam 2 alam secara bersamaan.

Alam Allah (alam keilahian)
  • Tidak berdosa (sempurna) (Rm. 9:14; 6:23, Mzm. 90:2, Mat. 5:48, Yak. 1:13)
  • Tidak bisa mati, abadi (I Tim. 6:16)
  • Sangat kuat (Yes. 40:28)

Inilah alam Allah dan malaikat, yang mana juga diberikan kepada Yesus setelah kebangkitannya (Kis. 13:34, Why. 1:8, Ibr. 1:3) Inilah alam yang dijanjikan kepada kita (Luk. 20:35,36, II Ptr. 1:4, Yes. 40:28,31)

Alam Manusia
  • Dicobai supaya jatuh kedalam dosa (Yak. 1:13-15) oleh hati yang secara alamiah memang rusak (Yer. 17:9, Mrk. 7:21-23)
  • Mati, tidak abadi (Rm. 5:12,17, I Kor. 15:22)
  • Kekuatannya terbatas baik secara fisik (Yes. 40:30) dan mental (Yer. 10:23)

Inilah alam dimana semua orang baik maupun jahat berada. Akhir dari alam ini adalah kematian. (Rm. 6:23) Alam dimana Yesus berada selama ia hidup (Ibr. 2:14-18, Rm. 8:3, Yoh. 2:25, Mrk. 10:18)

Penampakkan Malaikat

Malaikat berada di alam yang sama dengan Allah, mereka tdak berdosa dan abadi, karena dosa mengakibatkan kematian (Rm. 6:23). Mereka mempunyai suatu tubuh secara fisik. Karena itulah pada waktu mereka menampakkan diri di bumi mereka terlihat seperti seorang manusia.

§ Malaikat menghampiri Abraham untuk memberitahukan firman Allah kepadanya; mereka dikatakan sebagai 3 orang manusia, yang diperlakukan Abraham layaknya seperti manusia biasa, karena penampilan mereka. “Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini” (Kej. 18:4)

§ Dua dari tiga malaikat itu pergi ke Sodom, sekali lagi, mereka dianggap sebagai manusia biasa oleh Lot dan penduduk Sodom. “Kedua malaikat itu tiba di Sodom”, Lot mengundang mereka untuk bermalam di rumahnya. Tapi karena Lot sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk kedalam rumahnya, “dimanakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini?” Lot memohon, “jangan kamu apa-apakan orang-orang ini”. “Kedua orang itu (malaikat) memegang tangan mereka”dan menyelamatkan Lot; “lalu kedua orang itu berkata kepada Lot, “Sebab itulah Tuhan mengutus kami untuk memusnahkannya”(Sodom) (Kej. 19:1,5,8,10,12,13).

§ Perjanjian Baru juga mencatat tentang peristiwa ini dan membenarkan bahwa malaikat-malaikat itu menampakkan diri dalam bentuk manusia; “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:2)

§ Yakub bergulat dengan seseorang sepanjang malam (Kej. 32:24), orang itu adalah Malaikat (Hos. 12:4,5)

§ Dua orang yang pakaiannya berkilau-kilauan hadir pada saat Kebangkitan Yesus (Luk. 24:4) dan Kenaikan Yesus (Kis. 1:10). Mereka adalah Malaikat.

§ Menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat (Why. 21:17)

Malaikat Tidak Berdosa

Malaikat berada di alam yang sama dengan Allah, mereka tidak dapat mati. Karena dosa mengakibatkan kematian, maka mereka pastilah tidak berdosa. Kata Yunani dan Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Malaikat” mempunyai arti “Utusan”, Malaikat adalah utusan atau pelayan dari Allah, taat kepada Allah. Oleh karena itu mereka tidak berdosa. Kata Yunani “Aggelos” yang diterjemahkan sebagai “Malaikat”, juga diterjemahkan sebagai “Utusan” sehubungan dengan manusia – Yohanes pembaptis (Mat. 11:10) dan utusannya (Luk. 7:24) utusan dari Yesus (Luk. 9:52) dan orang-orang yang memata-matai Yerikho (Yak. 2:25). Adalah suatu yang dapat terjadi, jika Malaikat dalam bentuknya sebagai manusia, dapat berbuat dosa.

Ayat-ayat berikut ini menunjukkan bahwa Malaikat (tidak semua) adalah secara alamiah memang taat kepada Allah, dan oleh karena itu tidak berdosa:

“Tuhan sudah menegakkan takhtaNya di surga dan KerajaanNya berkuasa atas segala sesuatu. (Tidak ada pemberontakan terhadap Allah di surga) Pujilah Tuhan, hai malaikat-malaikatNya, hai pahlawa-pahlawan yang perkasa, yang melaksanakan firmanNya, dengan mendengarkan suara firmanNya. Pujilah Tuhan, hai segala tentaraNya, hai pejabat-pejabaNya yang melakukan kehendakNya”. (Mzm. 103:19-21).

“Pujilah Dia, hai segala malaikatNya...hai segala tentaraNya (Mzm. 148:2)

“Malaikat...bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka (yang percaya) yang harus memperoleh keselamatan?” (Ibr. 1:13,14)

Pengulangan kata “semua/segala”, menunjukkan bahwa Malaikat-malaikat tidak terbagi menjadi dua pihak, yang satu baik dan yang satu berdosa. Suatu hal yang penting untuk mengetahui dengan benar alam para Malaikat, karena sebagai upah kebenaran adalah hidup di alam mereka; “Tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu...tidak kawin...sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat” (Luk. 20:35,36). Inilah yang menjadi dasar pemahaman. Malaikat-malaikat tidak dapat mati; “Kematian...bukan malaikat-malaikat” (Ibr. 2:15,16)

Jika Malaikat dapat berbuat dosa, maka mereka yang layak untuk mendapat bagian pada kedatangan Kristus masih tetap mungkin untuk berbuat dosa. Dan tentu saja kematian adalah upahnya (Rm. 6:23), oleh karena itu mereka tidak akan menerima kehidupan abadi; jika kita masih mungkin untuk berbuat dosa, maka masih memungkinkan juga kita akan menuju pada kematian. Karena itu jika malaikat dapat berbuat dosa, maka janji Allah akan kehidupan abadi menjadi tidak berarti. Referensi tentang Malaikat (Luk. 20:35,36) menunjukkan bahwatidak ada kategori malaikat yang berdosa dan malaikat yang baik, hanya ada satu kategori Malaikat. Jika Malaikat dapat berbuat dosa, dengan mengingat bahwa Malaikat adalah perantara yang Dia gunakan untuk melaksanakan tujuanNya, maka Allah telah mengutus kepada kita sesuatu yang tidak mampu untuk bertindak sebagaimana mestinya dalam kehidupan kita dan dalam berurusan dengan dunia. (Mzm. 103:19-21). Malaikat diciptakan dari roh oleh Allah untuk melayaniNya (Mzm. 104:4). Mustahil jika mereka tidak patuh kepadaNya. Orang Kristen harus berdoa demi Kerajaan Allah yang akan didirikan di bumi, karena itulah kehendakNya, seperti yang Dia lakukan di surga (Mat. 6:10) Jika Malaikat-malaikat Allah harus berperang dengan Malaikat-malaikat yang berdosa di surga, maka kehendakNya tidak bisa dilaksanakan disana. Oleh karena itu keadaan yang sama juga berlaku atas Kerajaan Allah di masa yang akan datang. Untuk menjalani kehidupan abadi di dunia yang terus menerus terjadi peperangan antara dosa dan ketaatan, adalah suatu prospek yang tidak bagus. Tapi, tentu saja bukan itu yang terjadi.

Malaikat dan Orang-orang Percaya

Adalah suatu alasan yang baik untuk mempercayai bahwa setiap orang yang percaya yang benar memiliki Malaikat Pelindung, mungkin berbeda-beda satu dengan yang lain, yang memebantu di dalam kehidupan mereka.;

”Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka” (Mzm. 34:7)

”...anak-anak kecil ini yang percaya kepadaku (murid yang lemah Zak. 13:7, Mat. 26:31)...ada Malaikat mereka di surga yang selalu memenadang wajah Bapaku yang di surga.” (Mat, 18:6,10)

Orang Kristen yang mula-mula percaya bahwa Petrus memiliki Malaikat pelindung (Kis. 12:14,15)

Pada waktu orang-orang Israel menyeberangi Laut Merah, mereka dipimpin oleh seorang malaikat yang menjaga mereka dari padang gurun hingga tanah perjanjian.- menyeberangi laut merah melambangkan baptisan air kita (I Kor. 10:1)

Maka, bukanlah suatu yang tidak beralasan, jika pada saat ini kita juga dibimbing oleh seorang Malaikat, yang membimbing kita dari kehidupan liar seperti di padang gurun menuju tanah perjanjian yaitu Kerajaan Allah.

Jika Malaikat dapat menjadi jahat sebagai akibat dari berbuat dosa, maka janji akan bimbingan seorang malaikat yang menjadi teladan bagi kehidupan kita akan menjadi suatu kutuk daripada berkat.

Kita telah mengetahui bahwa malaikat ada...

  • Yang hidup di alam Allah dan dapat menampakan dirinya
  • Yang tidak berdosa
  • Yang selalu melaksanakan perintah-perintah Allah
  • Yang menjadi perantara dari Roh Allah untuk berbicara dan bertindak (Mzm. 104:4)

Tapi...?

Banyak Gereja Kristen yang mempunuyai ide bahwa malaikat dapat berbuat dosa dan malaikat yang berdosa itu bertanggung jawab atas dosa dan masalah-masalah di bumi. Kita akan membahas konsep yang salah ini dengan jelas .Berikut ini adalah kesimpilan yang dapat kita buat;

§ Mungkin saja ada penciptaan seperti kita sebelumnya, seperti yang diacatat di Kejadian 1. Mungkin juga malaikatlah yang ingin mendapat pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu (Kej. 3:5) juga berada di situasi yang sama dengan kita pada saat ini, yang mana pada waktu itu berbuat dosa bukanlah suatu pelanggaran hukum; ini hanya spekulasi berdasarkan keinginan manusia. Allah memberitahukan kepada kita apa yang harus kita ketahui tentang keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada malaikat yang berdosa, seluruh malaikat taat kepada Allah.

§ Tidak ada yang berdosa di surga, karena ”Mata Allah terlalu suci untuk melihat kejahatan” (Hab. 1:13) juga dijelaskan di Mazmur 5:4,5; ”Orang jahat takkan menumpang padaMu, pembual tidak akan tahan di depan mataMu”.- di takhta surgawi Allah. Ide tentang adanya pemberontakkan melawan Allah di surga oleh malaikat yang berdosa, sangat bertentangan dengan apa yang telah dijelaskan oleh ayat ini.

§ Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai ”Malaikat”, yang berarti ”utusan”, bisa tertuju kepada manusia, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Seorang manusia yang menjadi utusan Allah tentu saja dapat berbuat dosa.

§ Adanya sesuatu yang jahat dan berdosa yang bertanggung jawab atas semua aspek-aspek negatif dalam kehidupan adalah salah satu dari hal-hal yang mendasar yang diyakini dalam penyembahan berhala. Begitu juga dengan perayaan hari natal oleh orang-orang kristen pada saat ini, perayaan tersebut adalah suatu ide yang berasal dari konsep penyembahan berhala.

§ Hanya ada sedikit ayat-ayat Alkitab yang mendukung ide keberadaan malaikat yang berdosa. Hal-hal ini dibahas dalam buku ”In Search of Satan” yang juga diterbitkan oleh penerbit buku ini. Hanya dengan mendasarkan kepada beberapa ayat, tidaklah cukup untuk mengkontradiksikan apa yang telah Alkitab ajarkan, sebagaimana telah dibahas dalam pelajaran ini.

Senin, 28 Februari 2011

NAMA dan Karakter ALLAH

NAMA DAN KARAKTER ALLAH

Sangatlah beralasan kalau Dia menyatakan diriNya kepada kita. Kita percaya bahwa Alkitab adalah wahyuNya kepada manusia, dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang karakter dari Allah. Jika kita menerapkan firman Allah dalm hidup kita, maka suatu ciptaan baru yang menggambarkan karakteristik dari Allah akan lahir (Yak. 1:18; II Kor. 5:17). Inilah sebabnya mengapa firman Allah disebut sebagai “BenihNya” (I Ptr. 1:23). Oleh karena itu semakin banyak firman Allah yang kita terapkan, maka kita akan semakin layak untuk menjadi anakNya (Rm. 8:29) yang mana adalah gambar yang sempurna dari Allah (Kol. 1:15). Disinilah gunanya mempelajari Alkitab, banyak studi kasus yang menerangkan tentang cara Allah waktu berurusan dengan manusia. Dia selalu menjelaskan karakteristikNya yang sama. Dalam bahasa Ibrani nama seseorang kadangkala mencerminkan karakteristik orang tersebut, contoh:

Yesus = Penyelamat
karena Dia yang menyelamatkan umatnya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21)

Abraham = Bapa kumpulan besar
”bapa segala bangsa” (Kej. 17:5)

Hawa = Kehidupan
”karena dia adalah ibu dari semua yang hidup” (Kej. 3:20)

Simeon = Mendengar
”karena Allah telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikanNya pula anak ini kepadaku” (Kej. 29:33)

Yeremia 48:17, mengenal orang-orang moab ada hubungannya dengan mengetahui arti dari kata moab. Mazmur seringkali menghubungkan Allah dengan namaNya, firmanNya dan tindakanNya (Mzm. 103:1; 105:1; 106:1,2,12,13)

Berdasarkan keterangan itulah nama dan gelar Allah dapat memberikan informasi yang cukup tentang Dia. Karena begitu banyak aspek tentang karakteristik Allah dan tujuanNya, maka Allah mempunyai lebih dari satu nama. Untuk pembahasan tentang nama Allah lebih detail, sebaiknya dilakukan setelah pembaptisan. Menerapkan karakter Allah seperti yang dinyatakan dalam namaNya adalah yang harus kita lakukan terus menerus selama kita hidup. Berikut adalah pengenalan lebih lanjut tentang hal ini.

Ketilka Musa ingin mengenal lebih jauh tentang Allah demi menguatkan imannya selama masa yang mengguncangkan jiwanya di dalam hidupnya. Seseorang malaikat datang ”menyatakan nama Allah; Tuhan, Tuhan Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, yang meneguhkan kasih setiaNya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman” (Kel. 34:5-7).

Ini adalah bukti yang jelas bahwa nama Allah menggambarkan karakteristiknya dan juga sebagai bukti bahwa Dia adalah pribadi yang nyata, adalah tidak masuk akal bahwa suatu roh dapat memiliki karakteristik seperti ini tapi tidak nyata, karena karakter ini dapat juga diterapkan pada diri manusia walaupun tidak sempurna seperti Allah. Allah telah memilih nama yang khusus baginya supaya dapat dikenal umatNya, yang mana nama itu merupakan ringkasan dari tujuanNya.

Bangsa Israel diperbudak di mesir, dan harus diperingati bahwa mereka adalah bagian dari tujuan Allah. Musa diperintahkan untuk memberitahu nama Allah kepada mereka, sehingga dapat membantu memotivasi mereka untuk meninggalkan mesir dan memulai perjalanan mereka menuju tanah perjanjian (I Kor. 10:1). Kita harus mengetahui prinsip dasar Alkitab supaya mengerti sehubungan dengan arti nama Allah sebelum kita dibaptis dan memulai perjalanan menuju kerajaan Allah.

Allah telah memberitahu bangsa Israel bahwa namaNya adala Yahweh, artinya ”Aku adalah Aku”, atau lebih tepat lagi ”Aku akan menjadi apa yang Aku inginkan” (Kel. 3:13-15). Nama ini kemudian dipersingkat menjadi; ”Allah lebih jauh berfirman kepada Musa, beginilah kau katakan kepada orang Israel, Tuhan (Yahweh), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Yakub..., itulah namaKu untuk selamanya dan sebutanKu untuk turun temurun (Kel. 3:15)

Jadi, nama Allah adalah Tuhan Allah.

Perjanjian lama ditulis dalam bahasa Ibrani, pada waktu diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, terjemahannya kurang akurat, sehingga kata ”Allah” tidak dapat diterjemahkan sebagaimana mestinya. Salah satunya adalah kata Ibrani ”Elohim” yang diterjemahkan sebagai ”Allah”, yang berarti ”yang perkasa”. Nama Allah yang dia ingin kita untuk mengingatnya adalah;

YAHWEH ELOHIM

artinya,

DIA AKAN DINYATAKAN DI DALAM SUATU KELOMPOK YANG PERKASA

Oleh karena itu Allah bertujuan untuk menyatakan karakterNya dan sifat-sifatNya kepada sejumlah besar manusia. Dengan ketaatan pada firmanNya, kita dapat menerapkan beberapa dari karakteristik Allah sekarang ini, sehingga Allah dapat menyatakan diriNya di dalam kita, walaupun kita tidak sempurna. Nama Allah juga merupakan suatu nubuat mengenai masa yang akan datang dimana bumi akan dipenuhi engan orang-orang yang seperti Dia baik secara karakter maupun secara fisik. (II Ptr. 1:4) Jika kita ingin turut serta dalam rencana Allah ini dan menjadi seperti Dia yang abadi, maka kita harus bersatu di dalam namaNya. Yaitu dengan cara dibaptis dalam nama Yahweh Elohim (Mat.28:19), hal ini juga akan menjadikan kita sebagai keturunan Abraham (Gal. 3:27-29) yang akan mewarisi bumi (Kej. 17:8, Rm. 4:13) Suatu kelompok dari yang perkasa (ELOHIM) sebagaimana telah dinubuatkan di dalam Nama Allah akan digenapi.

Minggu, 20 Februari 2011

Kepribadian Allah

KEPRIBADIAN ALLAH
Tema yang agung dari Alkitab adalah Allah dinyatakan benar-benar ada, suatu pribadi yang nyata, dengan bentuk fisik yang nyata. Telah menjadi ajaran pokok Kristen bahwa Yesus adlah Anak Allah. Jika Allah bukan suatu pribadi fisik yang nyata, mustahil Dia mempunyai anak yang menjadi gambaran dari diriNya (Ibrani. 1:3). Selanjutnya, akan menjadi sulit untuk membentuk suatu kepribadian yang berhubungan dengan Allah. Jika “Allah” hanyalah suatu konsep di dalam pikiran, suatu roh yang berada di suatu tempat di ruang angkasa. Tragis sekali, kebanyakan agama mengajarkan Allah bukanlah suatu yang nyata secara fisik, konsep Allah yang tidak nyata.

Allah tentu saja lebih besar dari kita, sangat tidak dimengerti kepercayaan banyak orang yang menolak keras janji yang sungguh benar bahwa kita pada akhirnya akan melihat Allah. Kurangnya iman membuat orang Israel tidak dapat melihat Allah. (Yoh. 5:37), dengan jelas menunjukkan bahwa Dia mempunyai bentuk fisik yang nyata. Iman tumbuh dari pengetahuan tentang Allah dan percaya kepada firmanNya.

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8)

“Hamba-hambaNya akan beribadah kepadaNya, dan mereka akan melihat wajahNya, dan namaNya akan tertulis di dahi mereka (Why. 22:3,4)

Suatu janji yang indah, jika kita sungguh mempercayainya, akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita;

“Berusahalah hidup dengan damai semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibr. 12:14)

Kita tidak boleh bersumpah karena, “Dan barang siapa bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah, dan juga demi Dia yang bersemayam di dalamnya” (Mat. 23:22), ini omong kosong jika Allah bukan suatu yang mempunyai bentuk fisik.

“kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. (I Yoh. 3:2,3)

Dalam kehidupan ini, pengetahuan kita tentang Bapa Surgawi sangatlah tidak lengkap, tapi pada akhirnya kita akan bertemu dengan Dia. Apa yang kita lihat secara fisik sama dengan apa yang kita pahami secara rohani tentang Dia. Dalam keadaan menderita Ayub bangga dengan hubungannya yang dekat dengan Allah, karena pada akhirnya dia paham akan pengetahuan tentang Allah.

“Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikanNya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu” (Ayb. 19:26,27)

Dan Rasul Paulus menjerit di tengah kehidupan yang penuh penderitaan dan kekacauan ini:

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (I Kor. 13:12)

Fakta-fakta yang mendukung dari Perjanjian Lama

Janji-janji di dalam perjanjian baru adalah berdaasrkan perjanjian lama yang juga menjelaskan tentang suatu pribadi, Allah yang nyata. Tidak bisa dipaksakan bahwa adalah suatu ajaran pokok untuk menghargai keilahian Allah jika kita mempunyai suatu pengertian yang baru tentang apa yang menjadi suatu dasar kepercayaan berdasarkan Alkitab. Perjanjian lama dengan konsisten menjelaskan tentang Allah sebagai suatu pribadi; hubungan antar pribadi dengan Allah sebagaimana dijelaskan di dalam perjanjian lama dan perjanjian baru adalah suatu hubungan yang unik, yang diharapkan oleh semua orang kristen. Berikut ini adalah argumen-argumen yang kuat bahwa Allah itu suatu pribadi yang nyata:

§ ”Allah berfirman, marilah kita menjadikan manusia sesuai dengan gambar dan rupa kita” (Kej. 1:26) demikianlah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, seperti yang dimanifestasikan juga kepada Malaikat. Yakobus 3:9 berbicara tentang ”...manusia yang diciptakan menurut rupa Allah”. Ayat-ayt ini tidak dapat diartikan secara rohani, karena secara alami pikiran kita jauh berbeda dengan Allah dan bertentangan dengan kemulianNya; ”rancanganKu bukan rancanganmu, jalanKu bukan jalanMu” (Yes. 55:8,9). Oleh karena itu gambar dan rupa menurut Allah pastilah diartikan secara fisik. Ketika para malaikat menampakkan diri mereka di permukaan bumi, mereka dijelaskan menyerupai seorang manusia (dengan tidak diduga Abraham melayani mereka, karena dia mengira mereka adalah manusia biasa). Penciptaan kita menurut rupa Allah dapat disimpulkan sebagai suatu penciptaan yang berdasarkan dari suatu bentuk/rupa. Jadi, Allah , yang serupa dengan kita bukanlah suatu roh yang tidak dapat kita bayangkan bentuknya.

§ Para malaikatpun merupakan gambaran dari Allah. Demikian Allah berfirman kepada Musa, ”berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa Tuhan” (Bil. 12:8). Musa mendapat perintah dari seorang malaikat yang mewakili nama Allah (Kel. 23:20,21). Jika rupa malaikat disamakan dengan Allah, berarti Allah mempunyai bentuk yang sama dengan Malaikat (walaupun tubuhnya lebih dari sekedar darah dan daging, tapi serupa dengan bentuk luar tubuh manusia). ”Allah berbicara kepada Musa berhadap-hadapan, seperti berbicara dengan seorang ashabat” ( Kel. 33:11; Ul. 34:10). Allah memanifestasikan rupaNya secara fisik pada malaikat-malaikatnya.

§ ”Dia mengenal kita” (Mzm. 103:14), Dia ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah pribadi yang nyata, Bapa dari segalanya. Ini akan menjelaskan dari berbagai referensi ayat-ayat yang menyatakan tangan Allah, lengan, mata, dll. Jika kita menolak Allah sebgai suatu pribadi yang nyata, maka referensi ayat-ayat ini menyesatkan dan tidak berguna untuk diajarkan.

§ Keterangan-keterangan yang menjelaskan tentang adanya takhta Allah dengan jelas mengindikasikan bahwa ”Allah” mempunyai tempat kediaman: ”Allah ada di surga” (Pkh. 5:1), ”Ia memandang dari ketinggianNya yang kudus, Tuhan memandang dari sorga ke bumi” (Mzm. 102:19,20); ”Maka engkau kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediamanMu yang tetap” (I Raj. 8:39). Lebih spesifik lagi kita baca bahwa Allah mempunyai takhta (II Taw. 9:8, Mzm. 11:4, Yes. 6:1, 66:1) sangat sulit untuk mengartikan sesuatu yang tidak terdefinisikan berada entah dimana di dalam surga. Allah berfirman, akan ”turun ke bawah” sewaktu Dia akan memanifestasikan diriNya, ”turun ke bawah” diartikan sebagai tempat Allah berasal, yaitu surga. Sulit sekali untuk memahami manifestasi Allah tanpa mengetahui rupaNya.

§ Yesaya 45 menjelaskan banyak hal tentang keterlibatan Allah dengan umatNya; ”Akulah Allah, dan tidak ada yang lain...,Akulah Allah yang melakukan semua ini..., Akulah Allah yang telah menciptakannya. Celakalah orang yang berbantah dengan pembentuknya..., Aku, tanganKulah yang membentangkan langit..., Berpalinglah kepadaKu dan biarkanlah dirimu diselamatkan hai ujung-ujung bumi”. Kalimat terakhir, menunjukkan keberadaan Allah sebagai suatu pribadi. Dia menginginkan seluruh manusia untuk berpaling kepadaNya, mengetahui keberadaanNya secara fisik dengan mata iman.

§ Telah dinyatakan kepada kita bahwa Allah adalah Allah maha pengampun yang berbicara kepada manusia. Pengampunan hanya bisa dilakukan oleh suatu pribadi, dan dilakukan secara rohaniah. Daud adalah orang yang berkenan di hati Allah (I Sam. 13:14), menjelaskan bahwa Allah mempunyai hati, yang bisa dipahami dengan terbatas oleh manusia, walaupun manusia secara alami tidak mempunyai hati seperti yang dimiliki Allah. Firman yang berbunyi, ”Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya (Kej. 6:6) menunjukkan bahwa Allah mempunyai perasaan, sesuatu yang nyata, daripada suatu roh yang yang berada di udara. Hal ini membantu kita untuk mengetahui bagaimana kita dapat menyenangkan dan tidak menyenangkan Dia, seperti yang dilakukan seorang anak kecil kepada ayahnya.

Jika Allah bukanlah suatu pribadi

Jika Allah tidak nyata, sebagai suatu pribadi, maka konsep kerohanian akan sulit untuk dijelaskan. Jika Allah sungguh mulia tapi tidak berbentuk, maka sulit bagi kita untuk mengerti manifestasinya dalam kehidupan manusia. Kekeliruan susunan kristen dan yudaism dalam memahami bahwa Allah masuk ke dalam hidup kita melalui roh kudus, yang pada suatu waktu akan membuat kita memiliki kerohanian seperti Allah. Sebaliknya, sekali kita percaya bahwa ada suatu pribadi yang nyata yang disebut Allah, maka kita dapat menirunya dengan cara melaksanakan firmanNya sebagai gambaran dari sifat-sifatNya dalam kehidupan kita.

Adalah menjadi tujuan Allah untuk menyatakan diriNya kepada banyak orang demi kemulianNya. NamaNya, Yahweh Elohim, mempunyai arti (Dia akan menjadi perkasa, mungkin diterjemahkan seperti itu). Jika keberadaan Allah tidak nyata, maka upah dari kebenaran adalah kehidupan sebagai suatu roh seperti Allah. Tapi dijelaskan bahwa mereka yang mendapat upah dari kebenaran yaitu hidup di dalam kerajaan Allah, merka mempunyai keberadaan secara fisik, meskipun tidak lagi mempunyai kelemahan-kelemahan manusia seperti sebelumnya. Ayub menunggu ”hari itu” dimana tubuhnya akan dibangkitkan (Ayb. 19:25-27); Abraham juga termasuk diantara mereka yang tidur di dalam debu tanah yang akan dibangkitkan untuk hidup sampai selamanya. (Dan. 12:2) sehingga dia dapat menerima janji warisan tanah kanaan, secara fisik lokasinya berada di bumi (Kej. 17:8). Orang-orang yang saleh akan bersorak-sorai dengan girang...biarlah mereka bersorak-sorai diatas tempat tidur mereka...dan melakukan pembalasan terhadap bangsa-bangsa (Mzm. 132:16, 149:7). Orang yahudi dan bangsa-bangsa yang lain, gagal dalam memahami kalimat ini. Seperti yang dilakukan juga oleh orang-orang yang bukan yahudi yang mendapat bagian dari perjanjian Abraham, telah mengajarkan suatu jiwa yang tidak berkematian sebagai bagian dari kehidupan manusia. Suatu pemikiran yang sama sekali tidak didukung oleh Alkitab. Allah abadi, mulia, dan dia bertujuan untuk menarik semua orang masuk ke dalam kerajaanNya di masa depan yang akan didirikan di bumi.

Orang-orang yang benar akan mewarisi kodrat ilahi (II Ptr. 1:4), jika Allah bukan suatu pribadi, ini berarti kita akan hidup sebagai roh yang tidak berbentuk, tapi ini bukan ajaran dari Alkitab. Kita akan diberikan tubuh seperti yang dimiliki Yesus (Flp. 3:2,1) dan kita tahu bahwa kita akan memiliki tubuh secara fisik di dalam kerajaan Allah yang mana memiliki tangan, mata, dan telinga (Zak. 13:6, Yes. 11:3). Oleh karena itu, doktrin kepribadian Allah sesuai dengan Injil Kerajaan.

Seharusnya sudah jelas bahwa suatu konsep pelayanan, agama, atau hubungan pribadi dengan Allah, tidak akan mungkin terjadi jika tidak mengakui keberadaan Allah sebagai suatu pribadi yang nyata. Karena kita adalah gambaranNya secara fisik, walaupun tidak sempurna kita harus melaksanakan apa yang telah diajarkan firmanNya yang merupakan gambaranNya secara rohani supaya kita betul-betul mencerminkan gambar dan rupa Allah di dalam Kerajaan Allah. Banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Allah yang penuh kasih menghukum kita seperti yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya (Ul. 8:5). Dalam konteks penderitaan Kristus, dijelaskan bahwa ”adalah kehendak Tuhan untuk meremukkannya” (Yes. 53:10), meskipun dia berteriak kepada Allah; Ia mendengar suaraku...teriakku minta tolong kepadaNya sampai ke telingaNya (Mzm. 18:7). Allah berjanji kepada Daud bahwa keturunannya akan menjadi anakNya melalui suatu kelahiran yang menakjubkan. Jika Allah bukanlah suatu pribadi, maka Dia tidak akan memperanakkan seorang anak. Pengertian yang benar tentang Allah adalah kunci untuk memahami hal-hal penting lainnya dari doktrin Alkitab. Tapi, karena dusta demi dusta, maka jadilah konsep Allah yang bertentangan dengan tulisan-tulisan kudus. Jika anda merasa topik ini sudah jelas, maka pertanyaan berikutnya adalah ”Apakah anda sungguh mengenal Allah?”

Minggu, 13 Februari 2011

Keberadaan Allah

 Keberadaan Allah
“Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari dia. (Ibr. 11:6). Tujuan dari pelajaran ini adalah untuk membantu bagi yang ingin mendekat kepada Allah, dengan terlebih dahulu harus mempercayai bahwa Allah ada. Oleh karena itu kita tidak akan membahas tentang fakta-fakta yang mendukung keberadaan Allah. dengan memeriksa struktur tubuh yang rumit (Mzm. 139:14). 

Pertumbuhan suatu bunga yang dapat kita lihat dengan jelas sekali, kita dapat melihat langit yang luas dan tak berujung pada malam yang cerah, hal-hal ini dan hal-hal lain di dalam kehidupan yang dirancang dengan begitu cermat, tentu akan mengherankan bagi golongan atheis. Untuk percaya bahwa Allah tidak ada, dibutuhkan suatu keyakinan yang teguh daripada mempercayai bahwa Allah ada. Tanpa Allah, tidak akan ada perintah, tujuan, atau penjelasan tentang akhir dari alam semesta ini. Dan yang terjadi adalah seperti yang dicerminkan di dalam kehidupan seorang atheis. Menyikapi masalah ini tidaklah mengejutkan jika banyak orang mengakui dengan sungguh tentang keberadaan Allah. Bahkan di dalam lingkungan sosial, dimana materialisme telah menjadi ”Allah” bagi banyak orang. Tetapi, ada perbedaan yang luas antara percaya bahwa ada kekuasaan tertinggi dengan percaya bahwa Allah akan memberikan upah bagi yang mencarinya. Ibr. 11:6 menjelaskan; kita harus percaya bahwa Allah ada  DAN bahwa Allah memberi upah kepda orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Banyak keterangan di dalam Alkitab yang menceritakan sejarah Allah orang Israel; berulang kali dijelaskan bahwa kepercayaan mereka akan keberadaan Allah tidak sesuai dengan kepercayaan mereka akan janji-janji Allah. Mereka telah diperingati oleh Musa, pemimpin mereka ”Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Berpeganglah pada ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Alahmu, kepadamu untuk selamanya.” (Ul. 4:39,40) Demikian juga yang terjadi pada saat ini, kita mengakui keberadaan Allah tapi, bukan berarti kita menerima Allah. Jika kita sungguh-sungguh setuju bahwa kita mempunyai pencipta, kita harus ”berpegang pada ketetapan dan perintahNya”. Inilah tujuan pelajaran ini, untuk menjelaskan apa saja perintah Allah dan bagaimana untuk melaksanakannya. Seiring dengan penyelidikan kita di dalam tulisan kudus tentang bagaimana cara melaksanakannya, maka iman kita akan semakin kuat sehubungan dengan keberadaan Allah.

”Iman timbul karena mendengarkan firman Allah” (Rm. 10:17)

Yesaya 43:9-12 menjelaskan tentang nubuat-nubuat Allah mengenai masa depan yang akan membuat kita mengakui bahwa ”Akulah Dia” (Yes. 43:13). Nama Allah adalah ”Aku adalah Aku” (Kel. 3:14). Ketika Rasul Paulus datang ke Berea, sekarang terletak di sebelah utara Yunani. Seperti biasanya dia memberitakan Injil (kabar baik) Allah; tetapi orang-orang disana tidak menerimanya begitu saja apa yang telah Paulus ajarkan. Mereka menerima firman (dari Allah, bukan Paulus) dengan rendah hati dan menyelidiki tulisan-tulisan kudus setiap hari, untuk mengetahui apakah benar demikian, banyak dari antara mereka yang menjadi percaya (Kis. 17:11,12). Mereka percaya karena pikiran mereka yang terbuka, dengan rutin (setiap hari) dan menurut urutannya (hal-hal yang diajarkan) diselidiki di dalam tulisan-tulisan kudus. Allah tidak memberikan iman yang benar secara tiba-tiba kepada seseorang, seperti suatu pencangkokan hati secara rohani. Hal demikian tidak selaras dengan firman Allah. Jadi, bagaimana dengan orang-orang yang mengikuti jalan perang salib Billy Graham atau kebangkitan Pantekosta yang berkumpul kembali sebagai ”orang-orang yang percaya?” Seberapa seringkah mereka menyelidiki Alkitab? Mengapa banyak yang mengundurkan diri dari gerakan penginjilan? Kurangnya pemahaman terhadap Alkitab mengakibatkan seseorang berpindah-pindah dari suatu ajaran ke ajaran yang lain.

Pelajaran ini menyediakan suatu pola yang sistematis dalam mempelajari Alkitab. Hubungan antara mendengarkan injil yang benar dengan mempunyai iman yang benar sering dijelaskan di dalam ajaran injil:

* ”Banyak orang-orang di Korintus yang mendengarkan, menjadi percaya dan dibaptis” (Kis. 18:8)

* Bangsa-bangsa ”mendengarkan injil dan menjadi percaya” (Kis. 15:7)

* ”Demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya” (I Kor. 15:11)

* Inilah arti perumpamaan itu ”Benih” itu ialah firman Allah (Luk. 8:11); sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sawi saja (Luk. 17:6), menjelaskan bahwa iman tumbuh karena ”firman iman” (Rm. 10:8), ”iman dan ajaran yang sehat” (1 Tim. 4:6), hati yang menerima Allah dan firmanNya (Gal. 2:2, Ibr. 4:4)

* Rasul Yohanes dalam catatannya tentang Tuan kita, menjelaskan ”Dia berkata yang benar (kebenaran) supaya kamu percaya” (Yoh. 19:35). FirmanMu adalah Kebenaran (Yoh. 17:17) supaya kita percaya.

Minggu, 06 Februari 2011

Yesus Kristus Allah Maha Besar

“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” ( Lukas 2:52)

Pada ayat di atas telah menjelaskan mengenai pertumbuhan Yesus, baik secara jasmani maupun secara rohani. Dari penjelasan di atas akan membawa kita untuk memiliki gambaran tentang Yesus yang tidak hanya sebagai bayi saja, di mana tidak ada sesuatu yang dapat diperbuat, atau hanya berhenti sampai umur 12 tahun saja, yang mana pada waktu itu Ia sudah dikagumi oleh banyak orang karena hikmatNya. Padahal jika kita membaca kitab Kejadian sampai dengan Wahyu yang terdiri dari 66 kitab, maka kita akan temukan keberadaan tentang Yesus, meskipun waktu maupun penulisannya berbeda, tetapi RohNya sama (Roh Allah).

Sedangkan apabila kita memiliki gambaran Yesus sebagai nabi, maka kita hanya akan mendapatkan berkat nabi saja. Kalau kita menggambarkan Yesus sebagai Rasul saja, maka kita hanya mendapatkan gambaran pelayanan Yesus sebagai Rasul saja. Tetapi apabila kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan Yang Mahakuasa, maka kita telah menerima segala-galanya, karena Dia adalah sumber dari segala sesuatu.

Dalam surat rasul Paulus (Kolose 1:15-20) ini telah menunjukkan sejauh mana pengenalannya terhadap Yesus, walaupun Paulus sendiri tidak pernah bergaul dengan Yesus secara langsung, tetapi dia mendengar tentang Yesus dan bertemu secara pribadi dengan Yesus ketika sedang melakukan perjalanan ke Damsyik. Ia termasuk seorang ahli Taurat yang mengganggap bahwa Yesus adalah orang yang murtad karena menyamakan diriNya dengan Tuhan. Sehingga pada saat itu Paulus menghadap Imam Besar yaitu meminta surat kuasa untuk di bawa ke majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya ketika ia ke Damsyik dan menemukan baik laki-laki maupun perempuan-perempuan yang mengikuti jalan Tuhan, maka Paulus punya wewenang untuk menangkap dan memasukkannya ke dalam penjara. Tetapi apa yang terjadi? Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada cahaya dari langit, sehingga Paulus sempat mengalami buta beberapa waktu lamanya.

Dan dalam alam roh ia melihat Yesus bukan sekedar nabi, tetapi Allah yang mewujudkan diriNya dalam Yesus. Sehingga sejak itu Paulus mendapatkan gambaran yang sempurna tentang Yesus. Sebab itu ia dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Dan pada akhirnya Paulus mendapat karunia untuk dapat melangkah melayani Tuhan dengan penuh resiko yang besar. Resiko yang diambil Paulus mendatangkan  mujizat yang luar biasa.

Dan kita melihat beberapa contoh keberadaan Yesus, yaitu dari kitab Kejadian sampai Wahyu. Dalam Kitab Kejadian menceritakan bahwa Yesus sebagai Pencipta; dan hal ini dapat kita ketahui melalui Injil Yohanes 1:1. Dan ayat selanjutnya juga menjelaskan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh firman dan firman itu menjadi manusia yaitu pada ayat 14.

Memang untuk mendapatkan gambaran tentang Yesus tidaklah mudah, karena kita hidup lebih banyak dikuasai oleh rasio. Saat ini kita harus memiliki pandangan bahwa Tuhan Yesus itu besar (pribadi yang sempurna).

Dia adalah Sang Pencipta. Dalam kitab Keluaran Yesus digambarkan sebagai Sang Penebus, yang telah membawa ke luar umat pilihan Allah dari segala belenggu dan perbudakkan (dosa). Dan dalam kitab Imamat berbicara tentang Yesus sebagai Anak Domba yang disembelih (dikorbankan). Di mana darah Yesus tercurah untuk menebus dosa kita, supaya kita menjadi manusia yang baru. Lalu kitab Bilangan berbicara tentang Yesus sebagai Penolong dan telah mengangkat kita dari lumpur dosa. Kitab Ulangan berbicara tentang hukum Tuhan yang disampaikan secara berulang-ulang dengan tujuan supaya bangsa Israel memiliki karakter yang tidak melanggar sepuluh Hukum Tuhan. Karena apabila hal ini mereka lakukan maka sumpah Allah kepada Abraham akan segera mereka alami sampai kepada kita.

Paulus menggambarkan kebesaran Yesus (Efesus 6:17). Jadi perlu kita ketahui dan pahami, bahwa apabila kita memiliki gambaran tentang Yesus yang besar, maka segala sesuatu yang kita lakukan atau kerjakan akan terjadi sesuai dengan kebesaran Tuhan