Kamis, 24 Januari 2013

Lesson 5: Jesus, Our Compassionate Provider

Magdalena (English) Reflections of Hope
Lesson 5: Jesus, Our Compassionate Provider

"Magdalena," Yesus membangkitkan putra tunggal seorang janda miskin dari antara orang mati

Lesson 4: Jesus, Our Powerful Deliverer

Magdalena (English) Reflections of Hope
Lesson 4: Jesus, Our Powerful Deliverer

"Magdalena," Maria Magdalena dibebaskan dari setan dan menjadi pengikut Yesus.

Lesson 3: Jesus, Our Power for Living

Magdalena (English) Reflections of Hope
Lesson 3: Jesus, Our Power for Living

"Magdalena," Maria, ibu Yesus menemukan kekuatan untuk kehidupan sehari-hari saat ia belajar dia menjadi ibu dari Mesias

Lesson 2: Jesus, Our Gracious Forgiver

Magdalena (English) Reflections of Hope
 Lesson 2: Jesus, Our Gracious Forgiver

"Magdalena," perempuan yang berzina menemukan pengampunan dari pada penghukuman

Lesson 1: Jesus, Our Loving Pursuer

Magdalena (English) Reflections of Hope
Lesson 1: Jesus, Our Loving Pursuer

"Magdalena," keajaiban Rivka jika Tuhan bahkan melihat dirinya.

Rabu, 12 Desember 2012

Yesus Dan Hukum Musa

Yesus adalah korban yang sempurna akan dosa dan imam besar tertinggi yang dapat memberikan pengampunan bagi kita. Oleh karena itu aturan lama akan korban binatang dan imam besar telah berlalu setelah kematianNya (Ibr 10:5-14). “ke-imaman digantikan (dari kaum lewi menjadi Kristus), dan juga mengganti hukum” (Ibr 7:12). Kristus “menjadi imam bukan berdasarkan rutinitas (karena hanya keturunan lewi yang menjadi imam), tetapi berdasarkan kuasa dan kehidupan yang tidak dapat binasa”, yang mana Dia telah memberikan korbanNya yang sempurna (Ibr 7:16 NIV). Oleh sebab itu, ini berbeda dengan bentuk yang rutinitas (artinya hukum Musa) karena semua itu sia-sia dan tidak berguna. Sebab hukum dibuat tidaklah sempurna, tetapi membawa kepada pengharapan yang lebih baik (melalui Kristus) yang melakukannya” (Ibr 7:18,19 AV dengan NIV). Inilah bukti bahwa hukum Musa telah digenapi dan digantikan dengan pengorbanan akan Kristus. 

Percaya kepada ke-imaman manusia dan mempersembahkan korban binatang berarti kita tidak menerima kemenangan Kristus secara penuh. Percaya demikian berarti kita tidak menerima korban Kristus sebagai keberhasilan yang memenuhi, dan kita merasakan bahwa perbuatan-perbuatan adalah perlu untuk pembenaran kita, melebihi iman di dalam Kristus itu sendiri. “tidak ada manusia yang dibenarkan oleh karena hukum di mata Allah...untuk, pem(benaran) akan tinggal oleh iman” (Gal 3:11; Hab 2:4). Pembuktian akan diri kita sendiri untuk ketaatan kepada surat hukum Allah, bagaimanapun akan gagal dan tidak membawa kita pada pembenaran; dipastikan setiap pembaca kata-kata ini telah mengetahui sebelumnya. Jika kita mengamati hukum Musa, kita harus memelihara semua itu. Ketidak-taatan kepada salah satu bagian berarti bahwa kita di bawah penghukuman. “ sebagaimana tindakan di bawah hukum adalah di bawah kutuk: sebab ada tertulis, terkutuklah setiap orang yang tidak setia melakukan segala yang tertulis dalam hukum taurat” (Gal 3:10). 

Kelemahan kodarat manusia berarti kita menemukan bahwa tidak mungkin memelihara hukum Musa secara penuh, tetapi mengenai ketaatan penuh Kristus melakukannya, kita dibebaskan dari segala hal untuk memelihara ini. keselamatan kita yang adalah pemberian Allah melalui Kristus, melebihi dari ketaatan kita. “sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan Allah dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhi hukuman atas dosa di dalam daging” (Rm 8:3). Demikian “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat, dengan menjadi kutuk karena kita” (Gal 3:13). Karena ini, kita tidak lagi memelihara segala yang terdapat pada hukum Musa. 

Kita melihat dalam Perjanjian yang baru dalam Kristus ditempatkan Perjanjian yang lama oleh hukum Musa (Ibr 8:13). Oleh kematianNya, Kristus menghapus “tulisan tangan dari apa yang menuntut kita dan tidak mungkin bagi kita (oleh ketidak mampuan kita untuk menjaga hukum secara penuh), dan membuangnya jauh, memakukan ini di salibNya... biarlah tidak ada orang menghakimi kamu dalam daging, atau dalam minum (persembahan), atau dalam menghormati festival agamawi, atau bulan baru, atau hari sabat: yang membayangi hal-hal ini untuk datang; tetapi kenyataannya adalah Kristus” (Kol 2:14-17 AV dengan NIV). Ini cukup jelas – karena kematian Kristus di salib, hukum Musa telah diambil “keluar jauh” terlepas dari tekanan yang diletakan atas kita untuk menjaga bagian ini, contohnya hari raya dan sabat. Sebagaimana berhenti dari hukum, tujun dari hal ini untuk mengarah pada Kristus. Setelah kematianNya, ciri-ciri yang tepat telah terpenuhi, dan oleh sebab itu tidak ada sesuatu untuk mengamatinya. 

Gereja kristen mula-mula dari abad pertama telah ditekan terus-menerus oleh Yahudi ortodok untuk memelihara bagian dari hukum. Melampaui Perjanjian Baru terdapat peringatan yang diulangi untuk nasihat ini. dalam menghadapi semua ini, suatu hal luar biasa bahwa terdapat beberapa denominasi yang membela bagian ketaatan pada hukum. Kita telah lebih dahulu ditunjukkan bahwa segala perhatian untuk memperoleh keselamatan dari ketaatan hukum harus dijaga dalam hukum, dilain hal kita secara otomatis dihukum untuk ketidak-taatan akan hal ini (Gal 3:10). Terdapat bagian dalam kodrat manusia yang dimasukan pada ide dari pembenaran oleh perbuatan; kita senang merasakan bahwa kita melakukan sesuatu untuk keselamatan kita. Untuk alasan ini, kewajiban sepersepuluh, memikul salib, menempatkan doa-doa, mendoakan hal-hal tertentu, dll, adalah bagian yang dikenal dari banyak agama, kristen dan lainnya. 

Keselamatan karena iman dalam Kristus adalah doktrin yang unik untuk dasar Alkitab kekristenan yang benar. Peringatan menentang memelihara hukum Musa dengan maksud untuk memperoleh keselamatan, melampaui Perjanjian baru. Beberapa mengajarkan bahwa orang kristen seharusnya disunat sesuai hukum Musa, “dan menjaga hukum”. Yakobus secara sederhana diberlakukan ide ini pada halnya orang-orang percaya yang sesungguhnya: “kami tidak memberi perintah” (Kis 15:24). Petrus menggambarkan barangsiapa mengajar perlu taat pada hukum seperti meletakan kuk atas leher para murid yang mana nenek moyang kita dan kita tidak mampu menanggungnya. Tetapi kita percaya melalui kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (sebagai kebalikan dari perbuatan taat pada hukum) kita akan diselamatkan” (Kis 15:10,11). Dibawah inspirasi, Paulus dengan sama mengatakan untuk menekankan hal yang sama waktu demi waktu. “manusia tidak dibenarkan oleh perbuatan akan hukum, melainkan oleh iman kepada Yesus Kristus... bahwa kita beroleh pembenaran oleh iman akan Kristus, dan bukan karena perbuatan akan hukum: sebab oleh perbuatan akan hukum yang tidak kedagingan akan dibenarkan... tidak ada seorangpun yang dibenarkan karena hukum... oleh (Kristus) semua yang percaya akan dibenarkan dari segala hal, yang mana kamu tidak akan beroleh pembenaran dari hukum Musa” (Gal 2:16; 3:11; Kis 13:39). 

Sebuah kepastian menandakan ajaran umum dari banyak aliran kristen bahwa banyak dari praktek mereka yang didasari pada bagian dari hukum Musa – meskipun kejelasan pengajaran mengenai orang kristen seharusnya tidak mengamati hukum ini, melihat bahwa hal ini telah digenapi dalam Kristus (Mat 5:17). Sekarang kita akan lebih menyadari jalan yang nyata di dalam hukum Musa adalah dasar dari praktis kristen masa kini. Para Imam Gereja-gereja katolik dan anglikan menggunakan sistem ke-imaman manusia. Katolik Roma melihat Paus sebagai penyamaan mereka dari imam besar Yahudi. Adalah “satu media perantara antara Allah dan manusia, manusia Kristus Yesus” (1 Tim 2:5). Tidaklah mungkin yang oleh karenanya bahwa Paus atau imam-imam dapat menjadi perantara kita sebagai imam-imam seperti Perjanjian Lama. 

Kristus adalah Imam Besar kita di surga sekarang, mempersembahkan doa-doa kita kepada Allah. Adalah secara pasti bukti yang tidak Alkitabiah bahwa otoritas ditempatkan oleh pegaruniaan rohani penatua pada abad pertama – contohnya Petrus memberikan pada generasi berikut atau kepada Paus bagian ini. walau kemungkinan hal ini disetujui, tidak ada hal yang membuktikan bahwa Paus dan para imam secara pribadi kepada mereka yang berjubahkan kerohanian penatua pada abad pertama telah diikuti. Karunia rohani telah diambil, semua orang percaya memiliki kesamaan untuk masuk ke dalam Firman Roh di dalam Alkitab  yang untuknya semua kawan sehaluan, tidak memiliki tempat kerohanian yang lebih tinggi dari yang lainnya. 

Sesungguhnya, seluruh orang percaya yang benar adalah bagian dari ke-imaman yang baru dengan alasan mereka dibaptiskan dalam Kristus, dalam hal ini mereka memperlihatkan terang Allah kepada dunia yang gelap ( 1Ptr 2:9). Oleh sebab itu mereka akan menjadi imamat rajani akan Kerajaan, saat ini ditetapkan di atas bumi pada kedatangan kristus (Why 5:10). Prakteis katolik akan julukan imam mereka ‘bapa’ (‘Paus’ berarti ‘bapa’ juga) dalam pertentangan akan kejelasan kata-kata Yesus, “janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu yang di surga” (Mat 23:9). Sesungguhnya, Yesus memberi peringatan yang menentang para pengikut yang rohaninya rendah menghormati mereka dengan sebutan imamat moderen: “janganlah kamu disebut Rabbi (guru): karena hanya satu Tuanmu, bahkan Kristus; dan kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8). 

Hiasan jubah dipakai para imam, uskup dan pastor lainnya memiliki dasar mereka dalam pakaiaan khusus dari kepingan batu yang dikenakan oleh para imam dan imam besar. pemakaian ini mengarhkan pada kesempurnaan karakter Kristus, dan sebagaimana semua hukum, bertujuan untuk digenapi sekarang. Sungguh menyedihkan hati, bahwa pakaian yang mana diarahkan untuk kemuliaan Kristus, sekarang digunakan untuk kemuliaan seseorang yang menggunakannya – beberapa dari mereka setuju bahwa mereka tidak menerima kebangkitan Kristus atau bahkan keberadaan Allah. Ide katolik bahwa Maria adalah seorang imam adalah salah. Permintaan kita adalah dalam nama Kristus, bukan Maria (Yoh 14:13,14; 15:16; 16:23-26). Hanya Kristus imam besar kita,bukan Maria. Yesus menegur maria saat dia menyuruhNya melakukan sesuatu untuk orang lain (Yoh 2:2-4). Bukan Maria, namun Allah yang membawa seseorang kepada Kristus (Yoh 6:44). 

Perpuluhan Ini juga, adalah bagian dari hukum zaman Musa (Bil 18:21), sementara kaum Yahudi menyumbang sepersepuluh kepada imam kaum lewi. Melihat bahwa tidak adanya ke-imaman manusia, tidaklah berlaku lagi hal untuk membayar perpuluhan kepada para penatua gereja. Dan lagi, satu ajaran palsu (dalam kasus ini mengenai para imam) harus menuntun yang lainnya (perpuluhan). Allah sendiri tidak memerlukan persembahan kita, melihat bahwa segalanya adalah kepunyaanNya (Mzm 50:8-13). Kita hanya mengembalikan kepada Allah apa yang Ia berikan kepada kita (1 Taw 29:14). Tidak mungkin bagi kita untuk memperoleh keselamatan sebagai hasil dari persembahan materi kita, contohnya keuangan. Dalam syukur kepada kebesaran karunia Allah bagi kita, kita seharusnya tidak hanya memberi sepersepuluh dari uang kita, tetapi seluruh hidup kita. Paulus mencontohkan dalam hal ini, sunggguh-sungguh melakukan apa yang ia kotbahkan: “persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, berkenan kepada Allah, sebagi ibadahmu yang sejati” (Rm 12:1). 

Hukum Yahudi mengkategorikan daging-daging yang tidak bersih – dipraktekan oleh beberapa denominasi saat ini, khususnya daging babi. Karena pengembalian hukum Kristus di kayu salib, “biarlah tidak ada orang yang menghakimi kamu dalam daging, atau minuman” (Kol 2:14-16). Mengenai perintah zaman Musa mengenai hal ini telah dibuang jauh, melihat bahwa Kristus telah datang Dialah makanan ‘bersih’ yang dimaksudkan. Yesus dengan jelas menerangkan bahwa bukanlah sesuatu yang dimakan orang yang menajiskannya; melainkan apa yang keluar dari dalam hatinya yang menajiskannya (Mrk 7:15-23). “dengan kata lain seperti ini, Yesus mengumumkan segala makanan ‘bersih’ halal” (Mrk 7:19 NIV). Petrus diajarkan hal yang sama (Kis 10:14,15), seperti juga Paulus: “aku tahu, dan diyakinkan oleh Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bersih oleh karenanya” (Rm 14:14). Mulanya, Paulus beralasan untuk menolak daging yang menandakan kenajisan (Rm 14:2). Sikap kita terhadap daging “tidak mendekatkan kita kepada Allah” (1 Kor 8:8). Banyak masukan dari semua yang memperingati orang-orang kristen murtad akan mengajarkan seseorang “jangan makan daging, yang mana Allah ciptakan untuk diterima sebagai ucapan syukur bagi mereka yang percaya dan mengenal kebenaran” (1 Tim 4:3).

Selasa, 09 Oktober 2012

Yesus Adalah Perwakilan Kita


 Kita telah melihat bahwa korban binatang tidaklah memenuhi perwakilan dari manusia berdosa, Yesuslah perwakilan bagi kita, dalam segala hal “menjadi seperti pengikutNya” (Ibr 2:17). “Dia merasakan kematian untuk semua manusia” (Ibr 2:9). Ketika kita melakukan dosa, contohnya berdusta – Allah akan mengampuni kita “demi Kristus” (Ef 4:32). Ini karena Allah menyamakan kita dengan Kristus, manusia seperti kita yang dicobai untuk berdosa – misalkan berbohong – tetapi yang mengatasi segala cobaan. Oleh karena itu Allah mengampuni dosa kita – dari kebohongan – karena kita di dalam Kristus, terlindungi kebenaranNya. Ketika kita mengakui dosa kita kepada Allah, kita mengakui kesempurnaan contoh dari ketidak-berdosaan Tuhan Yesus Kristus dan mengatakan kepada Bapa bagaimana kita ingin seperti Dia. Kristus menjadi perwakilan kita yang oleh sebab itu berarti Allah dapat menunjukkan kepada kita kasih karuniaNya, sementara mempertahankan prinsip kebenaranNya.

     Jika yesus sebelumnya Allah lebih dari sekedar mabusia murni, Dia tidak bisa menjadi perwakilan kita. Ini contoh lain yang salah yang memimpin lainnya. Karena ini, banyak ahli teologi mengembangkan kerumitan dalam menjelaskan kematian Kristus. Pandangan umum dari umat kristen yang murtad adalah bahwa dosa-dosa manusia menempatkan manusia dalam dosa kepada Allah yang manusia tidak dapat membayarnya sendiri. Maka Yesus menghapus dosa setiap orang percaya dengan darahNya, tercurah di salib. Banyak pengkotbah injil di lapangan meng-ekspresikan seperti ini: “sebagaimana kita memanjat tembok, sebagaimana iblis akan menembak, maka Yesus masuk ditengahnya; dan iblis menembakNya mengganti kita, dengan begitu kita sekarang bebas”.

     Teori elaborasi ini yang mana tanpa dukungan Alkitabiah, terdapat kejelasan keterbalikan seandainya Yesus mati menggantikan kita, artinya sebagai pengganti kita, maka kita tidak perlu mati. Sebagaimana kita masih memiliki kodrat manusia, kita masih harus mati; keselamatan dari dosa dan kematian akhirnya akan dinyatakan pada penghakiman (saat kita dijamin oleh kasih karunia Allah yang kekal). Kita tidak menerima ini pada waktu Kristus mati.

     Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan hanya mungkin melalui kematian DAN kebangkitan Kristus, bukan hanya oleh kematianNya. Kristus “mati bagi kita” hanya sekali. Teori penggantian akan berarti bahwa Dia harus mati untuk setiap kita secara pribadi.

     Jika Kristus melunaskan hutang dosa dengan darahNya, keselamatan kita menjadi sesuatu yang dapat kita terima dengan benar. Kenyataannya keselamatan adalah hadiah, membawa kasih karunia dan pengampunan Allah, merupakan sisi terhilang jika kita memahami pengorbanan Kristus sebagai pembayaran dosa. Itu juga mengusulkan bahwa sebuah kemarahan Allah menjadi tenang ketika Dia melihat darahYesus yang tercurah. Karena apa yang Allah lihat saat kita bertobat adalah AnakNya sebagai perwakilan kita, seseorang yang harus kita teladani. 

     Sungguh tragis, kata sederhana “Kristus mati bagi kita” (Rm 5:8) menjadi salah pengertian diartikan bahwa Kristus mati menggantikan kita. Terdapat beberapa ayat berhubungan antara Rm 5 dan 1 Kor 15 (contoh Rm 5:12=1 Kor 15:21; Rm 5:7=1 Kor 15:22). “Kristus mati bagi kita” (Rm 5:8) adalah cocok dengan “Kristus mati bagi dosa kita” (1 Kor 15:3). kematianNya menyediakan jalan yang mana kita mendapat pengampunan akan dosa-dosa kita; dalam sentuhan ini bahwa “Kristus mati bagi kita”. Kata “bagi” tidak secara utama berarti ‘menggantikan’; Kristus mati “bagi dosa kita”, bukan ‘menggantikan’ nya. Oleh karena ini, Kristus dapat “membuat masukan” bagi kita (Ibr 7:25) – bukan ‘menggantikan’ kita. Tidak juga “bagi” berarti ‘menggantikan’ dalam Ibr 10:12 dan Gal 1:4. Jika Kristus mati  ‘menggantikan kita’ itu berarti tidak perlu memikul salibNya sebagaimana Dia teladan kita. Dan tidak terdapat sentuhan dlam baptisan dalam kematian dan kebangkitanNya, berkeinginan menyamakan diri kita denganNya sebagai perwakilan kemenangan kita. Ide dari penggatian memasukan potongan kecil untuk permuliaan bersama Dia yang secara sederhana tidak berlaku. 
     
      Memahami Dia sebagai perwakilan kita, memberlakukan kita pada baptisan ke dalam kematian dan kebangkitanNyakehidupan salib terbawa sepanjang bersamaNya, dan secara nyata berbagi akan kebangkitanNya. kebangkitanNya adalah milik kita; kita telah diberikan harapan akan kebangkitan karena kita di dalam Kristus, yang telah bangkit (1 Ptr 1:3). Tuhan Yesus hidup dan mati dengan keadaan kita, dalam segala hal ini, dengan maksud agar dapat mendekati kita dan memampukan kita untuk menyamakan diri kita dengan Dia. Dengan menghargai pengajaran ini, kita dimampukan Dia untuk melihat hasil dari penderitaan akan jiwaNya dan dipuaskan.