![]() |
| Merry Christmas & Happy New Year 2011 |
Karya Anak Manusia di bumi,
yang menjadi sumber inspirasi kehidupan
bagi yang percaya kepada-Nya
[YOHANES 6:35]
Senin, 27 Desember 2010
Minggu, 19 Desember 2010
Pelaku Firman
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.......” (Yakobus 1:22-24)
Jika kita mendengar Firman Allah yang penuh dengan janji dan melakukannya maka kita pasti akan diberkati. Dan untuk dapat menjadi pelaku firman, diperlukan tindakan iman dalam kehidupan kita. Sebenarnya berkat itu sudah disediakan bagi kita, selanjutnya kita tinggal mengambilnya, tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah kita mau melangkah untuk mengambilnya atau tidak. Selama kita tidak mau melangkah maka selamanya kita tidak akan mendapatkan berkat yang sudah disediakan bagi kita. Kata melangkah di sini memiliki pengertian yaitu melakukan firman Tuhan. Misalnya kita membantu orang miskin atau orang yang membutuhkan pertolongan, maka Tuhan akan membalasnya berlipatkaliganda.
Namun bukan berarti kita berlomba-lomba memberi bantuan kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan dengan tujuan semata-mata untuk mendapatkan berkat yang lebih banyak. Tindakan semacam ini bukanlah seperti orang yang sedang “gambling” (judi). Memang apa yang kita tabur itu yang kita tuai, asalkan kita menaburnya dengan tulus iklas. Dan sebaliknya, bagi orang yang mendengar firman Allah dan tidak melakukan, maka orang tersebut dapat disamakan dengan orang yang bercermin dan segera pergi sehingga ia lupa akan rupanya. Demikian orang yang diberkati tetapi tidak melakukan firman Allah maka ia tidak akan ingat bahwa dia diberkati oleh Tuhan.
Saudara, selain kita diberkati ketika melakukan kehendak Tuhan; kita disebut orang yang berbahagia, seperti yang tertulis pada ayat selanjutnya (ayat 25), “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang memerdekakan orang dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Kata berbahagia itu sangat luas sekali artinya dan tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Selain itu kebahagiaan merupakan klimaks daripada kehidupan. Oleh sebab itu manusia berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Firman Allah dengan jelas mengatakan bahwa kebahagiaan bisa didapatkan apabila melakukan firman Allah.
Ada perbedaan antara orang yang melakukan firman Allah dan yang tidak melakukan. Orang yang mendengar firman Allah tetapi tidak melakukan sama dengan seorang penonton. Contohnya dalam sebuah pertandingan sepak bola. Pemain sepak bola hanya terdiri dari 11 orang tetapi penonton jumlahnya sampai mencapai puluhan ribu. Penonton tahu tujuan akhir dari pertandingan sepak bola yaitu mencapai goal, dan bagi penonton yang fanatik tahu bagaimana caranya memasukkan bola tetapi mereka tidak mampu melakukannya karena status mereka adalah penonton bukan pemain. Penonton hanya membicarakan problema, tetapi tidak menyelesaikan atau memecahkan problema, sedangkan seorang pemain tidak hanya membicarakan problema tetapi memecahkan problema. Penonton tidak akan pernah mendapatkan hadiah atau piala, tetapi pemainlah yang akan mendapatkan hadiah. Dan gambaran ini dapat kita temukan pada kehidupan orang-orang Farisi, di mana mereka begitu mengerti hukum-hukum Allah tetapi mereka tidak pernah melakukannya, sehingga mereka terbatas sampai pada pengetahuan saja. Demikian hidup kita janganlah hanya tahu tentang kebenaran tetapi menjadi pelaku kebenaran atau hidup dalam kebenaran. Karena orang yang hidup dalam kebenaran akan dimerdekakan dari segala cengkraman dunia termasuk persoalan yang ada di dalamnya. Orang Kristen yang memiliki tipe seperti “penonton”, apabila pergi ke gereja hanya ingin dipenuhi kebutuhannya baik itu pekerjaan, karir maupun segala usahanya, tetapi semuanya adalah sia-sia karena orang yang ingin bertemu dengan Tuhanlah yang akan dipenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Tuhan merindukan supaya setiap kita menjadi seorang pemain yang terlibat dalam pertandingan dan pada akhirnya akan mendapatkan hadiah atau berkat Tuhan. Keberhasilan memang bukan semata-mata kekuatan pemain saja, tetapi karena mereka mau terlibat dalam pertandingan maka mereka sanggup memecahkan problema dengan kuasa firman Allah. Sudahkah saat ini kita siap bertanding untuk menerima berkat Tuhan yang sudah disediakan? Percayalah bahwa apa yang telah difirmankanNya akan digenapi, seperti yang tertulis dalam Yesaya 55:11 “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Dan perlu diketahui bahwa selain Allah memberikan janji kepada kita, Dia juga memberi jaminan atas hidup kita, supaya apa yang telah dijanjikanNya itu dapat kita peroleh, seperti yang tertulis dalam Efesus 1:14 “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagi kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan- Nya.”
Saudara, perlu dipahami bahwa sebagai pelaku firman harus berani menerima konsekuensi yang ada, baik itu tantangan dari luar maupun dari dalam. Kadang-kadang kita melakukan sesuatu yang baik sesuai firman Tuhan, justru dimusuhi oleh dunia. Tetapi jangan putus asa, sebab firman Tuhan pun berkata, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yohanes 15:19). Dan hal ini dapat kita lihat melalui kehidupan guru kita yaitu Yesus Kristus. Walaupun dia sudah melakukan yang baik; baik itu menyembuhkan mereka dari segala sakit penyakit, membebaskan mereka dari kuasa roh jahat, namun mereka justru berteriak “salibkan Dia”, dan mereka memperlakukan Yesus sebagai seorang pencuri, perampok ataupun pembunuh. Untuk itu apabila guru kita yaitu Yesus Kristus mengalami hal demikian maka kita pun sebagai muridNya mengalami hal-hal yang tidak jauh dari guru kita, itulah yang disebut dengan memikul salib. Walaupun hal itu tampaknya tidak enak tetapi ketahuilah bahwa kita sedang melakukan perkara yang besar.
Melalui beberapa penjelasan di atas biarlah kita semakin sungguh-sungguh memberikan diri untuk menjadi pelaku firman, sebab upah yang besar siap menanti kita. Amin.
Hidup kekristenan di manapun berada harus selalu membawa pengaruh, sama seperti Kristus di manapun Ia berada selalu mempengaruhi. Karena kuasa dalam diri kita adalah kuasa Allah sendiri, kuasa yang selalu dapat
mempengaruhi (Markus 3:13-19).
Minggu, 12 Desember 2010
Kodrat Ilahi
Setiap orang Kristen yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat, lahir baru dan sudah dibaptis, harus menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan ilahi atau kodrat ilahi. Dan hal ini telah ditegaskan oleh rasul Paulus melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, yang bunyinya: “Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah rumah Roh Kudus”(1 Korintus 3:16; 1 Korintus 6:19). Untuk itu kita patut bangga dan mengucap syukur senantiasa karena Roh Allah telah manunggal dalam kehidupan kita. Bahkan raja Daud berkata: “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mazmur 51:13).
Ayat ini menunjukkan bahwa betapa berharganya Roh Allah itu, karena Roh Allah merupakan sumber dari segalanya. Dan dalam ayat ini tersirat bahwa Daud rela kehilangan segala apa yang dia miliki asalkan Roh Tuhan tidak diambil daripadanya; hal ini terlihat dari apa yang difokuskan oleh Daud yaitu Roh Tuhan, dan bukan kerajaan atau kekayaan maupun yang lainnya.
Dan apabila kita menengok ke belakang mengenai pekerjaan Roh Kudus khususnya pada masa penciptaan dunia, maka kita akan kagum akan kedasyatannya, di mana saat itu Roh Kudus ada di permukaan air waktu penciptaan bumi ini karena bumi ini sedang kacau balau dan iblis dicampakkan ke bumi. Bumi menjadi campur baur dan rusak. Sepertiga malaikat Tuhan mengikut iblis. Tetapi Tuhan memperbaiki bumi ini. Roh Allah ada di permukaan air, lalu Allah berfirman untuk menciptakan bumi ini. Memang pada waktu itu seperti zaman penciptaan, sebenarnya penciptaan kembali, karena sebelumnya ada suatu zaman. Dunia diperbaiki dengan firman Allah, karena bumi telah dirusak oleh iblis. Dan saat itu jadilah yang diciptakan oleh Allah. Ini terjadi karena ada Roh Kudus dan firman Allah. Dan sekarang Roh Kudus ada di permukaan air, yaitu tubuh ini, karena tubuh manusia terdiri dari 80% air, yaitu darah/jiwa ini. Roh Allah merupakan suatu kodrat ilahi yang hendak berkarya secara luar biasa. Dan ini baru bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita mendengar firman Allah dan melakukannya.
Saudara, melalui sedikit ulasan di atas membuktikan bahwa Roh Kudus adalah harta atau kodrat ilahi yang akan berfungsi dan berkarya di dalam hidup kita. Dan ayat bacaan di atas menjadi landasan bagi pemahaman kita terhadap berfungsinya maupun berkaryanya kodrat ilahi yang ada di dalam kehidupan kita. Kodrat ilahi akan berfungsi apabila kita melakukan firman
Tuhan (Matius 7:24-25), dan begitu sebaliknya, bahwa kodrat ilahi itu tidak berfungsi apabila kita tidak melakukan kehendak Tuhan (Matius 7:26-27). Selain itu, perlu kita ketahui bahwa kita mendapatkan kodrat ilahi semata- mata oleh kasih dan anugerahNya; seperti yang tertulis dalam 2 Petrus 1:3-4 : “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” Sedangkan pada ayat selanjutnya (2 Petrus 1:5-10); apabila dikolaborasikan dengan ayat bacaan di atas maka kita akan menemukan nilai kebenaran yaitu bahwa saat kita membangun rumah harus dimulai dengan iman, lalu kebajikan,
pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara- saudara, dan kasih akan semua orang.
Untuk lebih detailnya, mari kita bahas satu persatu mengenai syarat dalam membangun rumah (rumah rohani).
Yang pertama yaitu dengan iman. Di mana iman itu ada atau timbul dalam kehidupan kita apabila kita senantiasa mendengarkan firman Tuhan (Roma 10:17). Sebab firman Tuhan telah diwujudkan melalui peristiwa kehidupan seseorang, seperti Musa, Daud dan lainnya. Di dalam firman Tuhan banyak dicatat tentang mujizat yang Tuhan lakukan, baik itu dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Semua itu adalah kodrat ilahi dan bukan oleh kekuatan manusia. Kalau kita membaca firman Allah, maka pekerjaan Roh Kudus yang dicatat dalam Alkitab dapat terjadi dalam kehidupan kita pula, khususnya sebagai orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan. Dan firman Allah tidak boleh hanya sebagai kepercayaan/iman saja, tetapi harus nyata dalam perbuatan (Yakobus 2:17-22). Perbuatan yang di dalamnya terkandung kebajikan ini tidak hanya dilakukan oleh seorang iman atau nabi saja, tetapi semua umat Tuhan harus melakukannya. Seperti halnya Yunus yang bertobat dan melakukan perintah Tuhan. Setelah melakukan firman Allah maka kodrat ilahi yang ada dalam dirinya bekerja secara luar biasa, di mana melalui pemberitaannya maka satu kota (Niniwe) bertobat.
Ketika kodrat ilahi berfungsi dalam hidup kita, dan berjalan seiring dengan waktu yang di dalamnya diwarnai dengan berbagai macam pencobaan demi pencobaan, maka dari situlah akan timbul pengalaman/pengetahuan, yang pada akhirnya akan membawa kita hidup dengan penguasaan diri ; misalnya saat kita menghadapi persoalan maka kita tidak panik lagi.
Sebagai contoh yang nyata adalah kisah daripada rasul Paulus; di mana telah diungkapkan melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 4:8-10). Selain penguasaan diri, dalam diri kita dituntut pula adanya ketekunan, karena tanpa ketekunan maka kita tidak akan mendapatkan apa- apa. Sebagai gambaran adalah seorang petani. Mereka tidak akan panen apabila tidak sabar atau tekun dalam merawat dan menantikan tanaman yang ia tanam, karena segala sesuatu ada waktunya. Firman Tuhan berkata: “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya” (2 Timotius 2:6). Dan besar kecilnya panen mereka tidak lepas dari hukum tabur tuai, yaitu “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Korintus 9:6). Dan selanjutnya adalah: bagi orang yang bertekun di dalam Tuhan maka orang itu akan hidup dalam kesalehan; yang pada akhirnya kodrat ilahi yang ada di dalam dirinya akan senantiasa memelihara orang tersebut baik di dalam dunia maupun sampai pada hidup yang kekal.
Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan yang ada. Biarlah kodrat ilahi yang telah dianugerahkan dalam kehidupan ini, senantisa berfungsi untuk melakukan pekerjaan yang besar. Karena pondasi ini sebenarnya tercakup dalam iman, harap dan kasih.
Sabtu, 04 Desember 2010
Prinsip Hidup Tuhan Yesus dan para Malaikat
Peranan malaikat itu sangat penting dalam kehidupan Yesus. Dan Tuhan memberikan perintah melalui malaikat-malaikatNya.
• Peranan malaikat dalam kehidupan Zakharia, Lukas 1 : 11: “ Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan”
• Peranan malaikat dalam kehidupan Yusuf dan Maria, Lukas 1:26: “ Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret”
• Peranan malaikat dalam kehidupan para gembala, Lukas 2:10: “Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”
• Peranan malaikat pada saat Yesus di Getsemani untuk memberi kekuatan kepadaNya ( Lukas 22:43-47).
Peranan Malaikat:
1. Kita tidak menyembah malaikat
2. Kita tidak berdoa pada malaikat
3. Kita tidak bernyanyi untuk malaikat
Apakah malaikat bisa dipakai Tuhan untuk menolong kita?
Bisa, Mazmur 34:8 “Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.”
Apakah tugas untuk malaikat :
1. Malaikat menyembah Yesus, Ibrani 1:6 ”Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia’”
2. Malaikat adalah roh yang melayani, Ibrani 1:14 “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani yang harus memperoleh keselamatan”
Bagaimana caranya atau prinsip apa yang dipakai oleh Yesus
• Dengan Firman Tuhan, Mazmur 1: 1-3
• Melakukan kebenaran dalam Matius 4:4-6, janganlah mencobai Tuhan. Mencobai memiliki pengertian memaksa Tuhan bertindak menunjukkan kuasaNya untuk memuaskan atau menjawab keinginan kita.
• Sembah Tuhan saja, Matius 4:10: “ Maka berkatalah Yesus kepadaNya:” Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, AllahMu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”
Siapakah yang kita sembah ? HANYA TUHAN SAJA !
Malaikat tidak melayani kita, tetapi melayani Roh Allah yang ada di dalam kita, sehingga hidup kita dibuat berhasil. Menyadari sepenuhnya bahwa kita begitu dicintai Tuhan, sehingga disediakan malaikat untuk melayani kita. Oleh karena itu biarlah kita hidup benar, setia dan mencintai Yesus lebih dari segalanya. Hidup kita hidup dalam kelimpahan (Wahyu 14:6-13).
Selasa, 30 November 2010
Hidup Yesus sebagai teladan kita
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara.” (Roma 8:29)
Dalam ayat bacaan di atas terdapat kata-kata: “sulung di antara banyak saudara. “Maksudnya yaitu: adanya suatu hal yang patut diteladani. Lalu, apakah yang perlu kita teladani pada pribadi Yesus dalam posisi sebagai manusia?. Sebenarnya banyak hal yang perlu diteladani, tetapi kali ini kita belajar beberapa hal yang harus kita teladani. Untuk itu, kita harus mengerti apa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus selama berada di dalam dunia ini. Walaupun Dia adalah Allah yang menjadi manusia 100%, tetapi kuasa ilahi tetap ada dalam diriNya. Memang, selama di dalam dunia ini, Tuhan Yesus menempatkan diriNya menjadi manusia biasa, namun Dia memiliki sifat kepemimpinan yang luar biasa. Dia tidak sekedar memberikan/mengajar sebuah teori saja, melainkan Dia memberikan teladan yang sempurna sampai pada kematianNya dan kebangkitanNya; dan itu merupakan kemenangan serta kesuksesan hidupNya. Dari beberapa hal yang perlu kita teladani pada pribadi Tuhan Yesus, di antaranya:
Pertama, Penguasaan diri
Ketika Yesus hendak melakukan pelayananNya, terlebih dahulu Ia mempersiapkan diriNya dengan cara masuk ke padang gurun selama 40 hari 40 malam. Dan selama 40 hari di padang gurun, Yesus masuk dalam proses pembentukan dalam hal penguasaan diri (Matius 4:1-11). Sehingga Ia sanggup mengalahkan pencobaan yang akan Dia hadapi.
Pencobaan pertama, Yesus belajar mengenai penguasaan diri, khususnya dalam hal “nafkah/makanan.” Memang dalam posisi keilahianNya tidak ada sesuatu yang sulit untuk mengubah batu menjadi roti, tetapi pada waktu itu Yesus memposisikan dirinya sebagai manusia, dan Dia tidak mau melakukannya. Maka Dia berkata: “Manusia bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
Pencobaan kedua, Yesus disuruh menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah. Tetapi dalam posisi manusia, Dia berkata: “Jangan mencobai Tuhan Allahmu.”
Pencobaan ketiga, Yesus diperlihatkan dengan gemerlapnya dunia, dan semuanya akan diberikan kepada Yesus asalkan Yesus mau menyembah kepada iblis sekali saja. Tetapi Yesus belajar menguasai diriNya untuk tidak terjerat dalam hal keserakahan; maka Dia berkata: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”
Berapa banyak orang Kristen yang jatuh dalam berbagai macam pencobaan, dan menyerahkan hidupnya dalam kekuasaan iblis. Dan semua itu dilakukan semata-mata untuk mendapatkan nafkah, kekuasaan maupun kekayaan. Mereka tidak menyadari bahwa akhir dari semuanya itu adalah kebinasaan. Sebab orang yang tidak bisa menguasai diri ibarat membuat lobang/celah bagi iblis untuk masuk dan merusak kehidupannya. Oleh karena
itu, marilah kita mempersiapkan diri untuk masuk dalam proses penguasaan diri, supaya apa yang diteladankan Yesus kepada kita tidak sia-sia tetapi menghasilkan buah ilahi. Tetapi perlu kita ingat pula, bahwa ketika kita masuk dalam proses itu kita tidak dapat lepas dari kekuatan Roh Kudus. Maka dari itu jangan sekali-kali kita mendukakan Roh Kudus, tetapi kita senantiasa menghormati, dan memberi keleluasaan untuk berkuasa dalam kehidupan kita.
Setelah Yesus mengusir iblis, maka iblis meninggalkan Dia dan malaikat Allah datang melayani Dia (Matius 4:11). Artinya, kita akan dicukupkan dengan segala kebaikan Allah dan kita dilayani oleh malaikat-malaikat Allah.
Kedua, Mempertahankan identitas Diri-Nya
Keluaran 3:14 berkata, “Firman Allah kepada Musa: “Aku adalah Aku.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu.” Dalam bahasa Inggris dikatakan “The Real Man” atau “manusia seutuhnya.” Sebagai manusia seutuhnya tentunya tidak ada hal-hal dari luar yang mencemari. Misalnya: apabila seseorang sudah dikuasai oleh hawa nafsu dan dikuasai iblis, maka manusia tersebut tidak lagi menjadi manusia yang utuh karena adanya intervensi (ikut campur) dari pihak luar yang membawa pada penyimpangan dari ketetapan Allah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah (the real man) karena iman di dalam Yesus Kristus (Galatia 3:26). Salah satu contoh tokoh Alkitab yang sanggup mempertahankan identitas dirinya dan tidak mau dicemari oleh pihak-pihak luar adalah Musa. Musa sungguh-sungguh bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Dia tidak mau melangkah/ mengambil keputusan jikalau bukan Tuhan yang menyuruhnya. Maka dari itu, Musa diberi kepercayaan untuk membawa umat Tuhan dalam jumlah yang besar (+ 3.600.000 orang) untuk ke luar dari tanah perbudakan. Bahkan Musa disebut sebagai seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi (Bilangan 12:3).
Ketiga, Membangun Hubungan antara Pribadi Dengan Pribadi
Tatkala kita memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, maka Tuhan akan memberikan pewahyuan dalam diri kita. Sehingga hidup kita benar-benar berada dalam rancangan Allah yang mulia. Lalu, sejauh mana hubungan kita dengan Allah, selain adanya hubungan yang erat? Kita harus memiliki hubungan dengan Allah yang dimuati dengan kasih karena itu merupakan hukum yang terutama, seperti yang Tuhan Yesus katakan: “….Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama (Matius 22:36-38). Kekuatan hubungan ini dimulai dari hubungan antar sesama. Misalnya hubungan suami- isteri. Apabila hubungan suami-isteri ini tidak benar, maka tidak mungkin di
antara mereka dapat membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan, sebab terhadap yang kelihatan saja mereka tidak sanggup melakukannya, apalagi yang tidak kelihatan. Dan jikalau ada seseorang berkata: “aku mengasihi Allah”, tetapi tidak bisa mengasihi sesamanya (suami/isteri), maka orang tersebut telah mendustai dirinya sendiri. Untuk itu perlu kita ketahui bahwa ketika kita tidak sanggup/mampu membangun hubungan yang benar dengan sesama maka sebenarnya kita sedang membuat celah bagi iblis untuk masuk.
Oleh sebab itu, melalui beberapa uraian di atas, biarlah kita semakin sungguh-sungguh dalam meneladani pribadi Yesus, supaya kita tetap layak disebut sebagai anak-anak Allah dan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Yesus Kristus adalah Guru yang mendidik, mengajar dan melatih kita melalui teladan hidupNya sendiri, agar kita menjadi orang percaya yang dapat bertumbuh menjadi dewasa secara rohani, sempurna di dalam Tuhan dan dapat melakukan segala kehendak Tuhan sehingga Tuhan dipermuliakan (Yohanes 13:12-20).
Minggu, 21 November 2010
Hidup sebagai Imamat Rajani
“Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:29-30)
Kata “dimuliakan” memiliki arti yang sama dengan “diposisikan.” Kita diposisikan Allah pada tingkatan yang mulia. Banyak orang Kristen tidak menikmati posisi ini. Roma 8:30 ini, merupakan langkah-langkah menerima Injil, yaitu percaya, bertobat, lahir baru, dibaptis, dan dibenarkan. Kita harus tahu bahwa bersama dengan Roh Kudus dan firman, kita diangkat dan dimuliakan. Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus dimuliakan oleh Tuhan,
tidak peduli itu dari kalangan rendah, menengah atau atas dalam hal ekonomi.
Dari hari ke hari, harus ada perubahan hidup dalam diri kita. Kalau belum berubah, maka ada sesuatu yang salah tentang pemahaman akan firman Tuhan. Memang terkadang tidak secara jasmani atau materi saja kita dimuliakan. Yang jelas orang percaya diposisikan dalam posisi yang mulia (1 Petrus 2:9). Kamu yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umatNya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
Imam dan Raja ini selalu diurapi minyak/”anointing.” Waktu Daud menjadi raja ada kekuatan Allah yang membuat dia bisa memerintah. Imam disertai tanda-tanda mujizat, sedang Raja diberi kuasa untuk memerintah. Kita dipanggil dan dipilih menjadi imamat yang rajani. Lukas 5:1-11 mengisahkan tentang penjala ikan menjadi “Penjala Manusia,” yang merupakan ilustrasi yang sangat sederhana dan menimbulkan suatu pengertian tentang imamat yang rajani. Dalam ayat ini, sebelum dipanggil, murid-murid Yesus adalah seorang penjala ikan atau bekerja. Lalu, mereka menjadi “Penjala manusia,” yaitu hamba Tuhan. Kita masing-masing memiliki “Perahu Kehidupan,” Sejak kita menjadi milik Kristus, jangan sia-siakan posisi kita. Kalau kita seorang guru, usahawan, dan lain sebagainya pakailah untuk melayani Tuhan. Kalau kita ingin diberkati, biarlah Yesus naik ke dalam perahu kita. Saat seperti inilah kita menjadi imamat yang rajani. Biarlah Tuhan menaiki “perahu kehidupan” kita, lalu menyampaikan firman Allah dalam kehidupan kita. Sehingga, kita dapat memenangkan dan menuntun orang untuk mendapat keselamatan.
Daniel 12:2-3 berkata, “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapatkan hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal. Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.” Menuntun orang kepada kebenaran merupakan pelayanan yang sangat indah, tentunya dengan “back up” Tuhan.
Dalam Lukas 5:4-5, Yesus menyuruh mereka untuk menebarkan jala juga walaupun mereka sudah sepanjang malam mencari ikan dan tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, mereka mencari ikan dengan perintah Yesus dan mendapatkan hasil yang luar biasa (Lukas 5:6-7). Kalau perahu kehidupan kita ada Yesus, maka kita menjadi imamat yang rajani yang dapat melayani Tuhan, dan apa saja yang kita perbuat pasti berhasil. Kalau kita membiarkan hidup kita dipakai Tuhan, maka kita akan maenjadi orang yang berhasil.
Mau tidak mau kita tidak bisa lari dari hidup sebagai “imam dan raja” ini. Petrus membiarkan Yesus naik ke perahunya, setelah itu bisnisnya diberkati Tuhan secara luar biasa. “Perahu yang hampir tenggelam” merupakan berkat maksimal yang Tuhan berikan kepada kita. Tetapi ingat jangan sampai perahu kita tenggelam yang membawa kepada kehancuran. Baca: Amsal 30. Tuhan menghendaki agar posisi kita sebagai “raja” diberkati dan “imam” yang dapat menabur sehingga terjadi keseimbangan. Berkat yang didapat sebagai anak Raja disalurkan terus sehingga semakin diberkati Tuhan baik jasmani maupun rohani. Kalau tujuan hidup kita berubah, maka urapan akan diangkat dari kita. Wahyu 5:11-12 berkata, “Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: “ Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” Roh Kudus yang ada di dalam diri kita memiliki muatan dan mengangkat kita. Orang yang penuh Roh Kudus tidak bisa dinilai seperti dalam ayat di atas.
Kalau kita penuh Roh Kudus, maka kita diangkat menjadi imamat yang rajani. Secara pasti Tuhan akan mengangkat kita secara jasmani dan rohani.
Lukas 5:8-11 merupakan respon murid-murid Yesus untuk mengikut Yesus. Mereka adalah orang yang tidak memiliki waktu lagi untuk bekerja sebagai penjala ikan karena pelayanan yang harus mereka jalani. Banyak anak- anak Tuhan yang juga mengalami hal yang sama seperti murid-murid Yesus ini. Tetapi dalam hal ini kita harus memiliki hikmat untuk menjadi imamat yang rajani dan agar nama Tuhan dipermuliakan. Jangan sampai keluarga kita hancur karena pelayanan, demikian juga jangan sampai kita tidak melayani karena pekerjaan kita sendiri yang terlalu sibuk.
Selasa, 16 November 2010
Rohani yang dewasa
“Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya” (Galatia 4:1-2).
Melalui ayat bacaan di atas, kita mendapatkan kata “akil balig.” (artinya: dewasa). Seseorang yang belum dewasa belum pantas menerima warisan. Setelah akil balig, hak ahli waris dapat diterimanya. Untuk itu, mari kita lihat kehidupan Tuhan Yesus mulai dari pertumbuhan-Nya dan juga Yohaes Pembaptis. Tentang Yohanes Pembaptis, Lukas 1:80 berkata, “Adapun anak itu bartambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.” Tentang Yesus Kristus, Lukas 2:52 berkata, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”
Yesus dan Yohanes Pembaptis sama-sama dewasa dalam jasmani, tetapi mereka juga dewasa dalam rohani. Memang kedewasaan jasmani tidak ada hubungannya dengan kedewasaan rohani. Tubuh mereka makin kuat, tetapi juga diimbangi dengan kekuatan rohani.
Yang dimaksud firman Tuhan dengan “akil balig” ini adalah akil balig rohani. Memang kita hidup dalam 2 dimensi, yaitu dimensi roh dan jasmani. Yohanes Pembaptis tinggal di padang gurun yang tidak ada apa-apanya.
Demikian juga dengan Yesus yang masuk ke padang gurun dan dicobai oleh iblis. Kita teringat juga dengan peristiwa bangsa Israel yang dipimpin Tuhan keluar dari tanah Mesir dan masuk ke padang gurun. Gunanya adalah agar bangsa Israel tidak hanya dewasa dalam jasmani saja, tetapi juga dalam rohani. Kalau sudah dewasa rohani, maka di padang gurun sekalipun, Tuhan sanggup memberkati.
Pada waktu Yesus di padang gurun, Yesus mendapatkan pelayanan Malaikat. Dengan rohani yang kuat, Yesus bisa mengusir iblis (1 Yohanes 5:18). Demikian juga, dengan 40 hari di padang gurun, Yesus sudah mencapai kedewasaan rohani, walaupun pada usia 12 tahun sudah ada tanda dari kedewasaan rohani-Nya.
Di dunia ini, iblis selalu mengajak untuk melanggar Firman Tuhan. Kalau kita sudah menjadi dewasa rohani, maka iblis tidak sanggup mempengaruhi kita dan kita akan mengalami pelayanan malaikat. Pelayanan malaikat sama seperti yang di alami oleh bangsa Israel yang masuk padang gurun. Dengan pimpinan Musa, mereka tetap dipelihara Tuhan. Pagi-pagi mereka mendapatkan roti manna, siang mendapatkan tiang awan dan malam hari tiang api. Mereka dilayani oleh malaikat Tuhan. Kalau pelayanan malaikat terjadi, maka kita setiap hari tidak akan pernah berkekurangan.
Pada waktu bangsa Israel di padang gurun, memang ada di antara mereka yang tidak menjadi dewasa rohani, tetapi pada waktu generasi Yosua muncul, mereka dapat masuk tanah Perjanjian. Pada umumnya kita sejak kecil bertambah kuat jasmani kita, tetapi apakah roh kita juga sudah bertambah kuat?
Biasanya kita bertambah dewasa jasmani, kita mendapatkan pendidikan yang tinggi di mana justru pertumbuhan “jasmani” kita yang lebih dominan dari manusia Roh. Baca: Roma 8:5-8. Kalau manusia, roh-nya tidak mengalami akil balig, sudah menjadi ketentuan hidupnya berseteru dengan Allah. Untuk itu, usahakan diri kita untuk tidak menjadi seteru Allah. Untuk itu biarlah manusia roh kita lebih kuat (Roma 8:9-10).
Kalau seseorang bukan milik Kristus, maka tidak mungkin hak waris itu diberikan, tetapi kita adalah milik Kristus dan hak waris-Nya diberikan pada kita semua. Tetapi perlu diingat, perlu ada penguasaan diri. Kerohanian yang
dewasa justru membawa Yohanes Pembaptis memiliki wibawa ilahi. Dia muncul menuntun banyak orang Israel untuk dibawa kepada keselamatan. Yohanes Pembaptis mengerti bahwa kerohaniannya lebih penting dari jasmaninya.
Kalau kita mendahulukan kerajaan Sorga, maka apa yang tidak sempat kita pikirkan itu yang Tuhan sediakan bagi kita. Pemeliharaan Allah kepada orang yang mendahulukan kerajaan Allah benar-benar terjadi. Yang jelas orang yang hidup berkenan kepada-Nya dan mengalami kedewasaan rohani akan mengalami pelayanan malaikat. Bukan hanya itu, kita juga harus disucikan oleh darah Yesus melalui perjamuan kudus.
Yesus bertambah besar hikmat-Nya dan besar-Nya. Tentang hikmat baca: 1 Korintus 2:6-11. Kita percaya bahwa Roh Allah ada dalam diri kita. Roh Allah akan berfungsi kalau kita sudah mengalami kedewasaan rohani. 1 Korintus
2:16 berkata, “Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” Kalau kita masuk padang gurun, maka roh kita menjadi matang, dan pikiran Allah itu, yaitu Roh Allah yang ada dalam diri kita akan muncul.
Pikiran Allah sangat pandai dan tidak ada yang menyamai-Nya, sebab itu orang-orang yang hidup dalam kebenaran, keadaannya akan lebih baik. Baca: 3 Yohanes 1:2-4. Keadaan baik tersebut adalah: tidak berseteru dengan Allah dan hidupnya penuh dengan pikiran Kristus. 1 Korintus 2:14-15 berkata, “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” Orang yang penuh Roh Kudus tidak dapat dinilai oleh orang karena saat kita berdoa, Tuhan menjawab doa kita. Orang yang penuh Roh Kudus, kekayaannya tidak dapat dinilai orang.
Orang yang mengalami kedewasaan rohani akan mengalami mujizat dalam dirinya. Untuk itu tinggalkan segala perbuatan duniawi. Yakub gambaran manusia Roh dan Esau gambaran manusia jasmani. Esau dibenci Tuhan. Untuk itu jangan sampai kita dibenci Tuhan. Yesus dikasihi Allah dan juga dikasihi oleh manusia. Ini merupakan kekuatan hubungan antara kita dengan Allah dan dengan sesama. Orang yang dewasa rohani pasti semakin dicintai Tuhan. Baca: Roma 9:13-14. Orang yang sudah mengalami akil balig, maka dia akan semakin dipercaya Tuhan. Jadilah orang yang dipercaya Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)













