Jumat, 13 April 2012

Sisi manusiawi Kristus Yesus

Injil menyediakan banyak contoh akan bagaimana Yesus sepenuhnya memiliki sifat dasar manusia. Tercatat bahwa Ia letih, dan duduk untuk minum dari sumur (Yoh 4:6). “Yesus menangis” saat kematian Lazarus (Yoh 11:35).

Hampir semua, catatan dari penderitaan terakhir menjadi bukti yang cukup akan kemanusiaanNya: “sekarang juwaKu terharu”, Dia meminta dalam doaNya agar Allah menyelamatkan Nya daripada harus mati di kayu salib (Yoh 12:27).

Dia “berdoa, mengatakan, oh BapaKu, jikalau mungkin, lalukan cawan ini (penderitaan dan kematian) daripadaKu; tetapi bukan kehendakKu yang jadi, namun kehendakMu” (Mat 26:39). Ini menandakan bahwa kedagingan Kristus menginginkan hal yang berbeda dari Allah.

Bagaimanapun, dalam segenap hidupNya Kristus selalu menyetujui kehendakNya yang mana Allah persiapkan akan pencobaan terakhir di kayu salib. “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriKu sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakimanKu adil, sebab Aku tidak menuruti kehendakKu sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Inilah perbedaan kehendak antara kehendak Kristus dan Allah yang cukup membuktikan bahwa Yesus bukan Allah. Melalui kehidupan kita, kita menerima pertumbuhan akan pengenalan Allah, belajar dari pencobaan yang merupakan pengalaman hidup. Dalam hal ini, Yesus adalah teladan yang baik. Dia tidak memiliki pengenalan akan Allah yang lebih dari yang kita miliki”dari masa kanak-kanak “Yesus masuk dalam hikmat yang dewasa (kedewasaan rohani, Ef 4:13), dan semakin dikasihi Allah dan manusia” (Luk 2:52).

“Anak itu bertambah besar dan membangun (menjadi) kekuatan rohani” (Luk 2:40). Dua ayat ini menggambarkan fisik Kristus yang bertumbuh seiring dengan kerohanianNya; proses kedewasaan yang normal secara rohani. Dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada ahli-ahli taurat pada usia 12 tahun, keinginan belajar; dan seringkali Ia berbicara akan apa yang Ia pelajari dan diajarkan oleh BapaNya. Taat pada kehendak Allah adalah sesuatu yang harus kita pelajari pada masa hidup ini.

Kristus juga melalui proses ini untuk belajar taat kepada BapaNya, sebagaimana seharusnya seorang anak. “berpikir Dia adalah Anak, belajar ketaatanNya (taat kepada Allah) dengan hal-hal yang mana Ia derita; dan menjadi sempurna (kedewasaan rohani), Dia memunculkan keselamatan yang kekal” sebagi hasil dari penggenapan pertumbuhan rohaniNya (Ibr 5:8,9). Flp 2:7,8 mencatat akan proses yang sama akan kedewasaan rohani dalam Yesus, mengenai kematianNya di kayu salib. Dia “telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil bentuk (rupa) seorang hamba..

Dia merendahkan diriNya dan menjadi taat sampai... mati di kayu salib”. Bahasa yang digunakan di sini mengilustrasikan bagaimana Yesus dewasa dalam rohani, merendahkan diriNya secara penuh, sehingga akhirnya Dia “menjadi taat” kepada kehendak Allah, bahwa Ia harus mati di kayu salib. Demikian Dia adalah “menjadi sempurna” dengan jalan Dia menerima penderitaanNya. Adalah bukti dari hal ini bahwa Yesus harus membuat tindakan, pribadi untuk menjadi benar; dengan tidak bermaksud bahwa Ia secara otomatis dibentuk oleh Allah, yang mana akan menghasilkan di dalamNya. Yesus sungguh mengasihi kita dan memberikan hidupNya di kayu salib denngan maksud ini. penekanan yang terus-menerus akan kasih Yesus kepada kita akan tak terlihat jika Allah memaksakan Dia untuk mati di kayu salib (Ef 5:5,25; Why 1:5; Gal 2:20).

Karena Yesus melakukan pilihan ini, memungkinkan kita untuk menerapkan kasihNya, dan membentuk sebuah hubungan pribadi bersamaNya. Semua karena keinginan Kristus untuk memberikan hidupNya dengan sukarela bahwa Allah sangat berkenan kepadaNya: “demikian Bapa mengasihi Aku, karena Aku memberikan hidupKu... tidak ada seorangpun mengambil daripadaKu, tetapi Aku memberikan diriKu sendiri” (Yoh 10:17,18). Allah sangat berkehendak dengan kehendak ketaatan Kristus .Catatan akan kegembiraan Bapa terhadap ketaatan Anak, merupakan bukti yang cukup bahwa Kristus memiliki kemungkinan akan ketidak-taatan, tetapi memilih untuk taat. Kebutuhan Kristus akan keselamatan Karena kemanusiaanNya, Yesus adalah fana seperti kita. Dalam pandangan hal ini, Yesus perlu diselamatkan dari kematian oleh Allah. Mengenali ini, Yesus “mempersembahkan doa dan permohonan dengan seruan dan tangisan yang kuat kepada Dia (Allah) yang sanggup menyelamatkan Dia dari kematian, dan mendengarkan jeritanNya” (Ibr 5:7 AV. Mg). Kematian “tidak lagi berkuasa atasNya” (Rm 6:9), menandakan bahwa sebelum ini, dapat berlaku. Banyak pemazmur yang menubuatkan Yesus; di mana ada ayat yang menyebutkan tentang Kristus dalam Perjanjian Baru, sungguh masuk akal untuk berpendapat bahwa ada ayat-ayat lain dalam mazmur mengenai Dia juga. Berikut adalah beberapa peristiwa di mana kebutuhan Kristus akan keselamatan oleh Allah yang ditekankan.

 § Mzm 91:11,12 menyebutkan tentang Yesus dalam Mat 4:6. Mzm 91:16 manubuatkan bagaimana Allah akan memberikan Yesus keselamatan: “dengan hidup yang panjang (artinya hidup kekal) akan Aku puaskan ia, dan menunjukkan ia keselamatanKu”. Mzm 69:21 mengarah pada penyaliban Kristus (Mat 27:34); seluruh mazmur menggambarkan akan Kristus di kayu salib: “selamatkan aku, oh Allah... lukiskan malam ke dalam jiwaku, dan tebuslah... biarkan keselamatanMu oh Allah, mengangkat aku” (ay 1,18,29).

§ Mzm 89 mengutarakan akan janji Allah kepada Daud mengenai Kristus. Mengenai Yesus, Mzm 89:26 menubuatkan: “dia akan berseru kepadaKu (Allah), Kaulah Bapaku, Allahku, gunung batu keselamatanku”.

§ Doa-doa Kristus kepada Allah akan keselamatan yang terdengar; Ia telah didengar karena pribadiNya secara rohani, bukan karena tempatNya dalam ‘tritunggal’ (Ibr 5:7). Bahwasannya Allah membangkitkan Yesus dan memuliakanNya merupakan tema utama Perjanjian Baru.

§ “Allah... membangkitkan Yesus... Dia duduk disebelah kanan Allah menjadi pangeran dan Juruselamat” (Kis 5:30,31).

§ “Allah... memuliakan AnakNya Yesus... yang Allah bangkitkan dari kematian (Kis 3:13,15).

§ “Yesus ini yang telah Allah bangkitkan” (Kis 2:24,32,33).

Selasa, 03 April 2012

Sifat dasar dari Yesus

Sifat dasar’ berarti ‘yang mendasari, sebagaimana dasarnya’. Kita telah ditunjukkan dalam Alkitab, yang berbicara hanya ada dua sifat dasar – yaitu dari Allah dan dari manusia. Olehnya sifat dasar Allah tidak dapat mati, tidak dapat dicobai, dn lain sebagainya. Inilah bukti bahwa Kristus bukan bersifat dasar Allah selama hidupNya. Dia berkodrat manusia. Dari pengertian kita akan kata ‘sifat dasar’ membuktikan bahwa Kristus tidak dapat memiliki dua sifat dasar secara sekaligus. Adalah penting bahwa Kristus dicobai seperti kita (Ibr 4:15), dengan kesempurnaanNya yang melewati cobaan Dia dapat memberikan pengampunan bagi kita. “Imam Besar kita bukanlah yang tidak dapat merasakan akan kelemahan-kelemahan kita; tetapi Ia telah dicobai sama seperti kita” (Ibr 4:15) hanya saja tidak berdosa.  Diduga bahwa pada abad pertama di sana banyak yang berpikir bahwa Yesus “tidak dapat merasakan kelemahan-kelemahan kita”, bahwa ini bukanlah masalah; Yesus dapat merasakan hal ini. inilah kecenderungan awal akan pemahaman yang salah akan sifat dasar Yesus yang membuahkan doktrin yang salah tentang tritunggal. Keinginan yang salah yang mana didasari dari pencobaan yang datang dari dalam kita (mrk 7:15-23), dari sifat dasar kita (Yak 1:13-15). Adalah penting, bahwa demikian Kristus seharusnya berkodrat manusia bahwa Dia mengalami dan melewati cobaan-cobaan tersebut. Ibr 2:14-18 mengutarakan semua kata-kata ini.

“karena anak-anak itu (kita) dari darah dan daging (kodrat manusia), Dia (Kristus) juga sama mendapat bagian (artinya disamakan) dengan mereka (kodratnya); bahwa melalui kematianNya, Dia memusnahkan... iblis...sebab sesungguhnya bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi (kodrat dari) benih Abraham. Yang mana dalam segala hal Ia harua disamakan dengan saudara-saudaraNya, agar Ia menjadi Imam Besar yang berbelas kasihan dan setia... untuk mendamaikan dosa umat manusia. Sebab ia telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai”.

Bagian ini menempatkan penekanan yang luar biasa pada kenyataan bahwa Yesus memiliki kodrat manusia: “Dia juga sebagaimana diriNya” berbagi akan hal ini (Ibr 2:14). Kalimat ini menggunakan tiga kata yang maksudnya sama, hanya untuk mengembalikan maknanya. Dia mengambil bagian “dari kesamaan” kodrat; catatan dapat mengatakan ‘Dia mengambil bagian akan Hal ini juga’, tetapi hal ini menekankan, “Dia mengambil bagian yang sama”. Ibr 2:16 menyamakan penegasan makna bahwa Kristus tidak memiliki kodrat malaikat, melihat bahwa Ia berasal dari benih Abraham, yang datang untuk membawa keselamatan untuk semua yang percaya mejadi benih Abraham. Karena ini, adalah penting bagi Kristus memiliki kodrat manusia. Dalam segala hal Ia “menjadi sama seperti saudara-saudaraNya” (Ibr 2:17) jadi Allah dapat menjamin pengampunan kita melalui pengorbanan Kristus. 

Tatkala orang percaya yang dibaptis berdosa, mereka dapat datang kepada Allah, mengaku dosa dalam doa melalui Kristus (1 Yoh 1:19); Allah memperingatkan bahwa Kristus telah dicobai sebagaimana mereka, tetapi Dia adalah sempurna, melewati cobaan itu yang mana mereka gagal. Karena ini, “Allah demi Kristus” dapat mengampuni kita (Ef 4:32). Begitu pentingnya menghargai bagaimana Kristrus dicobai seperti kita, dan diperlukan bagi sifat dasar kita agar hal ini menjadi mungkin. Ibr 2:14 menjelaskan pernyataan bahwa Kristus adalah didasari “daging dan darah” untuk memungkinkan hal ini. “Allah adalah Roh” (Yoh 4:24) oleh kodratNya sebagai “Roh” Ia tidak memiliki daging dan darah. Kristus mempunyai dasar “daging” berarti bahwa tidak ada jalan bagiNya memiliki kodrat Allah sementara hidupNya yang fana.

Menampilkan sosok manusia yang memelihara firman Allah, artinya melewati pencobaan dengan penuh, yang lainnya gagal. Untuk itu “Allah mengirim AnakNya yang tunggal dalam yang serupa dengan daging, dan dengan pengorbanan akan dosa, menghukum dosa di dalam daging” (Rm 8:3 AV. Mg).
Di sini “dosa” mengarah pada dasar dosa yang kita miliki dari sifat dasarnya. Kita telah diberi jalan akan hal ini, dan melanjutkan untuk melakukannya, dan “upah dosa adalah maut”. Untuk lolos dari hal ini, manusia memerlukan pertolongan dari luar. Dengan dirinya sendiri dia tidaklah sempurna; dan tidak mungkin bagi kita yang diciptakan secara daging untuk menebus daging, Allah yang oelh sebab itu masuk dan memberikan AnakNya yang tunggal, yang memiliki “kedagingan” kita, dengan segala pencobaan akan dosa yang kita miliki. Tidak seperti manusia lainnya, Kristus melewati setiap pencobaan, meskipun Dia memiliki kemungkinan akan gagal dan berdosa sebagaimana yang kita lakukan. Roma 8:3 menggambarkan sifat dasar kemanusiaan Kristus dalam “tubuh dosa”. Beberapa ayat sebelumnya, Paulus berbicara tentang bagaimana di dalam daging “tidak tinggal hal yang baik”, dan bagaimana kedagingan mendasari perseteruan dengan Allah (Roma 7:18-23). Dalam konteks ini, lebih bagus untuk membaca bahwa Kristus memiliki “tubuh dosa” dalam Roma 8:3. semua karena hal ini, dan Dia melewati kedagingan itu, bahwa kitapun memiliki jalan untuk lolos dari kedagingan kita; Yesus memperingatkan secara seksama akan kuasa dosa di dalam sifat dasar kita. Dia diposisikan sebagai “Guru yang baik”, dengan maksud bahwa Dia adalah “baik” dan bersifat dasar sempurna. Dia menanggapi: “mengapa kalian menyebut aku baik? Tidak ada yang baik, kecuali satu, yaitu Allah” (Mrk 10:17,18). Dalam hal lain, manusia mulai menyaksikan akan kebesaran Kristus akan rangkaian mujizat yang Ia tampilkan. Yesus tidak membesarkan hal ini “karena Dia tahu segalanya, bahwa tidak diperlukan saksi manusia: sebab Ia tahu yang ada dalam manusia” (Yoh 2:23-25, teks Yunani). Karena pengetahuanNya yang besar akan sifat dasar manusia (“Dia mengetahui segalanya” akan ini), Kristus tidak ingin manusia untuk memujiNya secara pribadi dalam kebenaranNya sendiri, Dia memperingatkan akan sifat dasarNya.

Puisi pendek


engkau menyebut Aku jalan
tetapi tidak mengikuti Aku
engkau menebut Aku terang
tetapi tidak melihat Aku
engkau menyebut Aku guru
tetapi tidak mendengarkan Aku
engkau menyebut Aku Tuhan
tetapi tidak melayani Aku
engkau menyebut Aku kebenaran
tetapi tidak percaya kepadaKu
Jangan Heran jika suatu hari Aku tidak mengenal engkau!

Selasa, 06 Maret 2012

Kehidupan Yesus (pendahuluan)


Adalah suatu tragedi terbesar dalam pemikiran orang kristen, yang menganggap bahwa Yesus Kristus tidak menerima hormat dan pujian yang berhak ia terima karena kemenanganNya atas dosa, dengan membangun karakter yang sempurna. Doktrin ‘tritunggal’ yang diyakini oleh banyak orang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Jika benar demikian, maka dengan mengingat bahwa Allah tidak dapat dicobai (Yak 1:13) dan tidak mungkin berbuat dosa; dapat diambil kesimpulan dangkal bahwa Kristus tidak sungguh-sungguh berperang melawan dosa; dan kehidupannya di bumi hanya berpura-pura saja, ia tidak merasakan hal-hal yang dialami oleh manusia, tidak sungguh-sungguh merasakan dilema fisik dan rohani dari umat manusia, karena sebagai Allah, ia tidak dapat terpengaruh dengan hal-hal seperti itu.

Kelompok fanatik yang lain, seperti Mormon dan saksi Yehuwa, gagal untuk memahami kemuliaan Kristus sebagai Anak Allah yang tunggal. Karena pemahaman mereka yang salah itu, kita dapat yakin bahwa Yesus bukanlah malaikat, atau anak Yusuf yang sebenarnya. Ada juga yang menyimpulkan, bahwa keadaan Yesus sama seperti Adam sebelum jatuh ke dalam dosa. Terpisah dari kuranganya bukti-bukti Alkitabiah dalam memandang hal ini, mereka gagal dalam memahami bahwa Adam diciptakan Allah dari debu, sedangkan Yesus ‘diciptakan’ oleh Allah dengan memperanakkannya di dalam kandungan Maria. Walaupun Yesus tidak memiliki ayah secara lahiriah, ia dikandung dan dilahirkan seperti kita, tetapi dengan cara yang berbeda. Banyak orang tidak dapat menerima bahwa seorang manusia yang dilahirkan dengan mewarisi dosa dapat memiliki karakter yang sempurna. Inilah fakta yang menghalangi untuk sungguh-sungguh beriman kepada Kristus.

Untuk percaya bahwa keadaan Yesus sama seperti kita, walaupun ia memiliki karakter yang tidak berdosa, yang selalu dapat mengatasi cobaan-cobaan yang dialaminya, bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan daya pengamatan yang cukup atas catatan-catatan Injil tentang kehidupannya yang sempurna, dan dengan memahami ayat-ayat yang menyangkal bahwa ia adalah Allah, agar dapat memahami dan mengimani Yesus dengan benar. Jauh lebih mudah untuk menganggap bahwa dia adalah Allah itu sendiri, yang secara otomatis sempurna. Pandangan seperti ini merendahkan kebesaran dari kemenangan Kristus atas dosa dan keinginan daging.

Ia mempunyai keinginan duniawi, dan turut merasakan kelemahan-kelemahan manusia (Ibr. 4:15). Tetapi ia dapat mengatasinya, karena komitmennya yang besar terhadap jalan-jalan Allah, dan ia memohon bantuan Allah untuk melawan dosa. Karena itulah, maka Allah berkehendak untuk ”mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus” (II Kor. 5:19).

Rabu, 22 Februari 2012

“Pada mulanya adalah Firman” (Yoh.1:1-3)

“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah. Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:1-3)

Jika ayat-ayat ini dipahami sebagaimana mestinya, maka penegasan dan pengembangan dari kesimpulan-kesimpulan pada bagian terakhir dapat dipahami. Bagaimanapun juga ayat-ayat ini banyak disalah artikan oleh orang-orang dengan mengajarkan, bahwa Yesus berada di surga sebelum kelahirannya. Pemahaman yang benar dari ayat-ayat ini bergantung pada bagaimana kita memahami dan mengartikan kata ”Firman” sesuai dengan konteksnya. Kata itu tidak menunjuk kepada seseorang, karena tidak ada yang dapat ”bersama-sama dengan Allah” dan menjadi Allah pada waktu yang bersamaan. Kata Yunani ”logos” yang diterjemahkan menjadi ”firman”, tidak menunjuk kepada ”Yesus”. Kata itu biasanya diterjemahkan menjadi ”firman”, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi;
  • Laporan Penyebab
  • Komunikasi Doktrin
  • Niat Pemberitaan
  • Alasan Mengatakan
  • Berita


Kata ”firman” dipakai bersama dengan kata ganti orang ketiga ”ia”, karena ”logos” bersifat maskulin atau kelaki-lakian, Tetapi tidak mengartikan bahwa kata itu menunjuk kepada seseorang, yaitu Yesus. Alkitab dalam bahasa Jerman (Luther version) menggunakan kata ”das wort” (neuter); dan Alkitab dalam bahasa Perancis menggunakan kata ”la parole”; yang bersifat feminin atau kewanitaan. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa kata ”firman” tidak harus menunjuk kepada seorang laki-laki.

”Pada mulanya”

Kata ”logos” dengan tepat menunjuk kepada suatu pemikiran yang mendalam, yang diekspresikan melalui kata-kata dan cara-cara berkomunikasi lainnya. Pada mulanya Allah memiliki ”firman” ini, yang tujuannya berpusat pada Kristus. Bagaimana Roh Allah meletakkan pemikiran yang mendalam dari Allah ke dalam pelaksanaan, karena itu terdapat hubungan antara RohNya dan FirmanNya . Sebagaimana Roh Allah melaksanakan rencanaNya dengan manusia, dengan mengilhami firmanNya yang tertulis sejak permulaan. Karena itulah gagasan tentang Kristus diberitakan melalui pekerjaan dan firmanNya. Kristus adalah ”firman”dari Allah, oleh karena itu Roh Allah menunjukkan rencana Allah tentang Kristus dalam setiap pelaksanaannya. Hal ini menjelaskan mengapa banyak peristiwa di dalam Perjanjian Lama yang memberikan gambaran tentang Kristus. Tetapi, tidak bisa terlalu ditegaskan bahwa Kristus bukanlah ”firman itu”; ”firman itu” adalah rencana keselamatan Allah melalui Yesus. Kata ”firman” sering kali digunakan sehubungan dengan penjelasan mengenai Injil tentang Kristus; misalnya ”firman dari Kristus” (Kol.3:16 bandingkan Mat.13:19; Yoh.5:24; Kis.19:10; I Tes.1:8, dll.). Catat, ”firman” menjelaskan tentang Kristus, dan tidak menunjuk kepada dia secara pribadi. Ketika Kristus lahir, ”firman” ini berubah ke dalam bentuk daging dan darah – ”Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh.1:14). Yesuslah yang ”telah menjadi manusia”, bukan firman itu. Ia menjadi ”firman itu” pada waktu dilahirkan oleh Maria, bukan pada waktu sebelum itu.

Rencana tentang Kristus sudah direncanakan Allah sejak permulaan. Tetapi, tentang pribadi yang menjadi Kristus, tidak dinyatakan secara terbuka. Begitu juga sewaktu Injil tentang dia diberitakan pada abad pertama. Karena itu, Allah berfirman kepada kita melalui Kristus (Ibr.1:1,2). Berulangkali ditegaskan bahwa Kristus menyampaikan firman Allah dan membuat mujizat atas perintah Allah dengan tujuan untuk menyatakan Allah kepada kita (Yoh.2:22; 3:34; 7:16; 10:32,38; 14:10,24).

Paulus taat kepada perintah Kristus untuk memberitakan Injil tentang dia kepada ”segala bangsa”: ”pemberitaan tentang Yesus Kristus sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan...kepada segala bangsa” (Rm.16:25,26 bandingkan I Kor.2:7). Kehidupan abadi hanya dapat diperoleh manusia melalui pekerjaan Kristus (Yoh.3:16; 6:53). Walaupun sejak permulaan Allah telah merencanakan untuk menawarkan kehidupan abadi kepada manusia, yang dilakukannya dengan pengorbanan seperti yang juga dilakukan oleh Yesus. Penyingkapan sepenuhnya atas penawaran itu diberikan setelah kelahiran dan kematian Yesus: ”hidup yang kekal sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu dikehendakinya telah menyatakan firmanNya dalam pemberitaan Injil” (Titus 1:2,3). Kita telah mengetahui bagaimana nabi-nabi Allah dibicarakan seolah-olah mereka sudah ada (Luk.1:70) dalam pengertian bahwa ”firman” yang mereka sampaikan telah ada bersama Allah sejak permulaan.

Perumpamaan-perumpamaan yang dijelaskan oleh Yesus menyingkapkan banyak hal tentang ini, yang juga menggenapi nubuat tentang dirinya; ”Aku mau membuka mulutku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat.13:35). Dalam pengertian bahwa ”firman itu bersama-sama dengan Allah pada mulanya” dan ”menjadi manusia” melalui kelahiran Kristus.

”Firman itu adalah Allah”

Sekarang kita akan membahas pengertian dari ”firman itu adalah Allah”. Rencana dan pemikiran kita, pada intinya adalah menyatakan diri kita sendiri. Misalnya, ”Saya akan pergi ke London”, adalah firman atau pemberitaan yang mengekspresikan tujuan saya, karena itu adalah tujuan saya. Rencana Allah di dalam Kristus dapat dipahami dengan cara demikian. ”Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amos 23:7), demikian juga dengan Allah. Karena itu Firman Allah atau pemikiranNya adalah Allah; ”Firman itu adalah Allah.” Berarti, ada suatu hubungan yang erat antara Allah dengan firmanNya, misalnya di Mazmur 29:8, ”Suara Tuhan membuat padang gurun gemetar”, dan di Yeremia 25:7, ”Tetapi kamu tidak mendengarkan Aku, demikianlah firman Tuhan.” Kedua pernyataan seperti ini seringkali muncul di dalam nubuat-nubuat, yang dengan efektif mengartikan bahwa Allah sama dengan mengatakan: ”Kamu tidak mendengarkan firmanKu yang telah disampaikan oleh nabi-nabi.” Daud menyebut firman Allah sebagai pelita dan terang (Mzm.119:105), ia juga mengungkapkan hal yang sama di 2 Samuel 22:29, ”Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku.” Kedua ayat ini menunjukkan kaitan antara Allah dengan firmanNya. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa firman Allah adalah personifikasi dari Ia sendiri, yang ketika disebut seperti menunjuk kepada suatu pribadi, walaupun tidak demikian.

Karena Allah adalah kebenaran (Yoh.3:33; 8:26; I Yoh.3:10), maka demikian juga dengan firmanNya (Yoh.17:17). Dengan cara yang sama, Yesus mengidentifikasikan bahwa dirinya dengan firmannya begitu dekat, ia adalah personifikasi dari firmannya: ”Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yoh.12:48). Yesus menyebut firmannya seakan-akan seperti suatu pribadi, yaitu dirinya sendiri. Firmannya dipersonifikasikan, karena berkaitan erat dengan dirinya.
Begitu juga dengan firman Allah, dipersonifikasikan sebagai suatu pribadi, yaitu Ia sendiri, seperti yang terdapat di Yohanes 1:1-3. Sehubungan dengan firman itu, kita diberitahu bahwa ”Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:3). Allah menciptakan segala sesuatu melalui firmanNya (Kej.1:1). Karena hal ini, maka firman Allah dapat disebut sebagai Allah sendiri. Hal kerohanian yang perlu dicatat dari pembahasan ini adalah, melalui firman Allah yang berada di dalam hati kita, Allah akan menjadi dekat dengan kita.

Hal ini dejelaskan di Kejadian 1, bahwa Allah adalah Sang Pencipta melalui firmanNya, dan bukan melalui Kristus secara pribadi (Yoh.1:1-3), ”Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaranya (bintang-bintang)...Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi” (Mzm.33:6,9). Hingga saat ini semua ciptaan dapat bergerak oleh karena firmanNya: ”Ia menyampaikan perintahNya ke bumi: dengan segera firmanNya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba...Ia menyampaikan firmanNya...maka air mengalir” (Mzm.147:15-18).

Firman Allah adalah daya kreativitasnya, dia menggunakannya untuk memperanakkan Yesus di dalam rahim Maria, melalui firman atau rencana Allah, yang dilaksanakan oleh Roh Kudus (Luk.1:35), yang membuat Kristus dikandung. Dan Maria mengetahui hal ini berdasarkan responnya atas kabar baik yang ia terima tentang pembuahan Kristus: ”jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38).

Kita telah mengetahui bahwa firman/roh Allah merefleksikan tujuanNya, yang telah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Kebenaran dari hal ini ditunjukkan di dalam Kisah para Rasul 13:27, Yesus dikaitkan dengan firman dari nabi-nabi di Perjanjian Lama: ”mereka menggenapi perkataan nabi-nabi.” Ketika Yesus sudah lahir, semua firman/roh Allah ada di dalam pribadi Yesus Kristus. Dengan dibawah ilham rasul Yohanes bersuka cita atas rencana Allah sehubungan dengan kehidupan abadi, yang ditunjukkan melalui Kristus, yang juga disaksikan oleh murid-muridnya yang lain. Yesus mengetahui bahwa mereka telah memahami firman Allah dan rencana keselamatannya melalui dirinya (I Yoh.1-3). Walaupun kita tidak melihat Kristus, kita juga dapat bersuka cita melalui pemahaman yang benar tentang dia, dan kita juga bisa memahami dengan benar tujuan Allah , dan yakin sepenuhnya dengan upah kehidupan abadi (I Ptr.8:9). Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: ”Apakah saya sungguh-sungguh mengenal Kristus?” Hanya dengan menerima keberadaan seseorang yang disebut Yesus, tidaklah cukup. Harus dilanjuti dengan pelajaran Alkitab yang disertai doa. Mungkin anda dapat memahami ia sebagai penyelamat anda dalam waktu yang singkat, dan menyatukan diri anda dengannya melalui pembaptisan.

Kamis, 16 Februari 2012

Posisi Kristus dalam rencana Allah

Allah tidak merencanakan sesuatu tanpa dipikir lebih dahulu, dan tidak menambahkan beberapa hal dalam rencananya, selama pelaksanaannya sejak sejarah umat manusia dimulai. Allah mempunyai rencana yang sempurna sejak awal penciptaan (Yoh. 1:1). Oleh karena itu rencananya untuk memperanakkan seorang manusia, sudah Ia rencanakan sejak awal. Seluruh isi Perjanjian Lama menjelaskan rencana keselamatan Allah, melalui Kristus, dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Alkitab telah seringkali menunjukkan, bahwa janji-janji yang dijelaskan di Perjanjian Lama, Hukum Taurat, dan nubuat nabi-nabi, secara berkesinambungan menyatakan rencana keselamatan Allah melalui Kristus. Hal itu terdapat pada catatan pengetahuan tentang Allah, bahwa ia akan memiliki seorang anak, yang melaluinya alam semesta diciptakan (Ibr. 1:1,2). Dan terdapat pada catatan tentang Kristus, bahwa Allah menghendaki sejarah manusia berlangsung hingga berabad-abad (Ibr. 1:2). Karena itu, Wahyu Allah kepada manusia selama bertahun-tahun, penuh dengan referensi-referensi tentang Kristus, seperti yang terdapat di dalam Perjanjian Baru.

Supremasi Kristus dan kebesarannya, dan ajaran dasarnya tentang Allah, sangat sulit untuk dipahami sepenuhnya oleh kita. Karena itu, adalah benar untuk mengatakan bahwa sejak awal Kristus sudah ada di dalam pikiran dan rencana Allah, walaupun dia baru hidup setelah dilahirkan oleh Maria. Ibrani 1:4-7,13,14, menegaskan, bahwa Kristus bukanlah seorang malaikat; ketika ia hidup, ia lebih rendah daripada malaikat-malaikat (Ibr. 2:7), tetapi kemuliannya jauh lebih besar dari mereka, karena dia adalah “AnakNya yang tunggal” (Yoh. 3:16). Sejak permulaan telah ditunjukkan bahwa bentuk kehidupan yang diajarkan oleh tulisan-tulisan kudus adalah bentuk kehidupan jasmani, karena itu Kristus tidak hidup dalam bentuknya sebagai “roh” sebelum ia dilahirkan. I Petrus 1:20 meringkaskan posisi Kristus, “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu, baru menyatakan dirinya pada zaman akhir.”

Yesus adalah titik pusat dari Injil, “Injil itu telah dijanjilkanNya (Allah) sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabiNya dalam kitab-kitab suci, tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitannya dari antara orang mati, bahwa ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” (Rm. 1:1-4).

Berikut ini adalah ringkasan sejarah Kristus;

Dijanjikan di Perjanjian Lama, yaitu di dalam rencana Allah.
Diciptakan sebagai seorang manusia melalui kelahirannya dari seorang perawan keturunan Daud.
Karakternya yang sempurna (roh kekudusan) ditunjukkan sewaktu ia hidup dalam keadaan yang tidak abadi.
Ia dibangkitkan dan dinyatakan sekali lagi dihadapan umum bahwa ia adalah Anak Allah, oleh murid-muridnya yang dikaruniai roh.
Pengetahuan Allah yang sempurna

Dalam memahami bagaimana Kristus sepenuhnya berada di dalam pikiran Allah sejak permulaan, walaupun ia belum ada. Jika kita bisa memahami hubungan antara hal ini dengan fakta bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di waktu yang akan datang; maka kita akan mengetahui, bahwa Ia memiliki pengetahuan yang sempurna.

Karena itulah maka Allah dapat berbicara dan berpikir tentang hal-hal yang belum ada, seakan-akan mereka sudah ada. Inilah keseluruhan dari pengetahuannya tentang masa depan. Allah “menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm. 4:17). Karena itu Ia dapat mengatakan, bahwa Ia “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan” (Yes. 46:10). Karena itu Allah dapat berbicara kepada orang mati seakan-seakan mereka masih hidup, dan berbicara kepada orang-orang yang belum ada, seakan-akan mereka sudah ada sebelum dilahirkan.

“Nasihat” atau firman Allah, telah menubuatkan Kristus sejak permulaan. Ia selalu berada di dalam tujuan atau “kehendak” Allah. pastilah pada suatu waktu Kristus akan dilahirkan, untuk menggenapi pernyataan Allah. Oleh karena itu, bukti dari pengetahuan Allah yang sempurna merefleksikan kepastian dari firmanNya. Di dalam Alkitab, ada penggunaan bahasa Ibrani dalam bentuk lampau untuk menjelaskan hal-hal yang akan datang yang dijanjikan Allah. Karena itu Daud berkata, ”Disinilah rumah Tuhan, Allah kita” (I Taw. 22:1). Walaupun hanya Allah yang berhak menjanjikan hal itu, tetapi itulah yang diyakini Daud, yang ia ucapkan dalam bentuk kalimat untuk menyatakan hal yang berlangsung pada saat sekarang, untuk menjelaskan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Di dalam Tulisan-tulisan kudus banyak contoh tentang pengetahuan Allah yang sempurna. Seperti tentang janji-janji kepada Abraham yang pasti akan digenapi Allah; Ia berkata kepada Abraham, ”Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini...” (Kej. 15:18), yang diucapkan pada waktu Abraham belum mempunyai keturunan. Dalam kurun waktu sebelum (Ishak/ Kristus lahir), Allah menjanjikan kepadanya, ”engkau telah Kutetapkan menjadi Bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5). Dengan demikian Allah menyebut hal-hal yang belum ada ini, seakan-akan hal-hal itu sudah ada.

Oleh karena itu, Kristus selama pelayanannya berbicara tentang bagaimana Allah ”telah menyerahkan segala sesuatu kepadanya” (Yoh. 3:35) meskipun hal tersebut belum terjadi. ”Segala sesuatu telah Engkau lakukan di bawah kakinya (Kristus)... Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuat telah ditaklukkan kepadanya” (Ibr. 2:8).

Allah berbicara tentang rencana keselamatan Nya melalui Kristus ”seperti yang telah difirmankanNya sejak purbakala oleh nubuat nabi-nabiNya yang kudus” (Luk. 1:70). Karena mereka berkaitan erat dengan rencana Allah, orang-orang ini dibicarakan seakan-akan mereka sudah ada sejak permulaan, walaupun sebenarnya tidak demikian. Sebaliknya, kita dapat menyimpulkan bahwa nabi-nabi sudah ada di dalam rencana Allah sejak permulaan. Contoh yang jelas adalah Yeremia, Allah berkata kepadanya, ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi” (Yer. 1:5) . Allah mengetahui segala hal tentang Yeremia, bahkan sebelum ia diciptakan. Dengan cara seperti ini, Allah berbicara tentang raja Persia, Kores, sebelum ia dilahirkan dengan menggunakan bahasa yang menunjukkan seakan-akan ia sudah ada (Yes. 45:1-5). Di dalam Ibrani 7:9,10 terdapat contoh lain tentang penggunaa kalimat yang menjelaskan tentang orang yang belum dilahirkan, seakan-akan ia sudah hidup pada waktu dibicarakan.

Dengan cara yang sama, Yeremia dan nabi-nabi lainnya dikatakan sudah ada sebelum mereka diciptakan, sehubungan dengan posisi mereka dalam rencana Allah. Begitu juga dengan kita, orang-orang percaya yang benar, yang dibicarakan seakan-akan sudah ada pada saat itu; faktanya kita belum hidup pada saat itu, melainkan hanya di dalam pikiran Allah saja. Allah ”yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus...berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (II Tim. 1:9). ”Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan...telah menentukan kita...sesuai dengan kerelaan kehendakNya” (Ef. 1:4,5). Seluruh gagasan tentang keberadaan makhluk hidup telah diketahui oleh Allah sejak permulaan, dan ditandai (ditentukan) untuk diselamatkan, yang menunjukkan bahwa mereka sudah ada di dalam pikiran Allah sejak permulaan (Rm. 8:27; 9:23).

Dengan kejelasan dari semua hal ini, tidak mengherankan jika Kristus sebagai kunci dari rencana Allah, dijelaskan seakan-akan sudah ada sejak permulaan bersama Allah melaksanakan rencananya, yang sebenarnya tidak demikian. Seperti waktu menjelaskan tentang dia, yang adalah ”anak domba Allah yang telah disembelih” (Why. 13:8), tetapi Yesus tidak disembelih secara harfiah, ia adalah ”anak domba Allah” yang dikorbankan di kayu salib, 4000 tahun kemudian setelah penciptaan (Yoh. 1:29; I Kor. 5:7). Dengan cara demikianlah Yesus dipilih sejak permulaan (I Ptr.1:20), begitu juga dengan orang-orang percaya (Ef.1:4, kata Yunani yang sama dengan untuk kata ”dipilih” digunakan di dalam ayat-ayat ini). Kesulitan kita untuk memahami semua hal ini adalah, karena kita tidak dapat membayangkan dengan mudah bagaimana Allah bekerja diluar konsep kita tentang waktu. ”Iman” adalah kesanggupan untuk memandang berbagai hal dari sudut pandang Allah tanpa dibatasi oleh waktu.

Jumat, 10 Februari 2012

Nubuat Perjanjian Lama dan Penggenapannya dalam Perjanjian Baru

Rencana keselamatan Allah untuk manusia berpusat pada Yesus Kristus. Janji-janji yang Allah berikan kepada Adam, Abraham, dan Daud, semuanya berbicara tentang Yesus, yang berasal dari garis keturunan mereka. Karena itu, secara keseluruhan Perjanjian Lama merupakan gambaran ke depan tentang Yesus, dan juga menubuatkan tentang dia. Hukum Musa, yang harus ditaati oleh Israel sebelum kedatangan Kristus; adalah gambaran ke depan tentang Yesus: ”Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang” (Gal. 3:24). Karena itu, pada waktu perayaan Paskah, seekor anak domba yang tidak bercela harus dibunuh (Kel. 12:3-6); yang merupakan gambaran dari pengorbanan Yesus, ”Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29; I Kor. 5:7). Kondisi yang tidak bercela, yang diwajibkan bagi seluruh binatang yang akan dikorbankan, merupakan gambaran tentang karakter Yesus yang sempurna (Kel. 12:5 bandingkan I Ptr. 1:19).

Di dalam Mazmur dan kitab nabi-nabi Perjanjian Lama, terdapat nubuat yang berkelanjutan tentang Mesias. Terutama mengenai keterangan-keterangan bagaimana ia akan mati Penolakan Yudaisme atas gagasan tentang kematian Mesias, diebabkan kurangnya pemahaman mereka atas nubuat-nubuat ini, beberapa diantaranya adalah;

Nubuat Perjanjian Lama   dan  Penggenapan oleh Kristus

”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm. 22:1)

Inilah kata-kata yang Yesus ucapkan di kayu salib (Mat. 27:46)

”Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: ”Ia menyerah kepada Tuhan; biarlah Dia yang melepaskannya; biarlah Dia yang meluputlkannya” (Mzm. 22:6-8)

Orang-orang Israel menghina Yesus dan mengolok-oloknya (Luk. 23:35; 8:53); mereka menggelengkan kepala mereka (Mat. 27:39), dan mengatakan hal ini ketika Yesus disalib (Mat. 27:43)

”Lidahku melihat pada langit-langit mulutku…mereka menusuk tangan dan kakiku” (Mzm. 22:16,17)

Ayat ini digenapi ketika Yesus merasa haus (Yoh. 19:28). Penusukan tangan dan kaki adalah cara yang digunakan untuk penyaliban

“Mereka membagi-bagikan pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku” (Mzm. 22:19)

Penggenapan ayat ini terdapat di Matius 27:35

Catat, Mazmur 22:22 dikutip khusus kepada Yesus, di Ibrani 2:12

“Aku telah menjadi orang-orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumahMu menghanguskan aku” (Mzm. 69:9,10)

Ayat ini menjelaskan perasaan Yesus ketika ia diasingkan oleh saudaranya sesama Yahudi dan keluarganya sendiri (Yoh. 7:3-5; Mat. 12:47-49). Ayat ini juga dikutip di Yohanes 2:17

“mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (Mzm. 69:22)

Hal ini terjadi ketika Yesus disalib (Mat. 27:34)

Seluruh ayat di Yesaya 53 adalah nubuat tentang kematian dan kebangkitan Kristus; dari setiap ayat, tidak ada yang tidakdigenapi. Berikut ini ada dua ayat dari antaranya;

“dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian ke pembantaian” (Yes. 53:7)

Kristus, anak domba Allah, tetap bungkam selama penderitaannya (Mat. 27:12,14)

”Orang-orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat” (Yes. 53:9)

Yesus disalib bersama penjahat (Mat. 27:38), tetapi dikubur di pekuburan orang-orang kaya (Mat. 27:57-60)

Suatu hal yang menakjubkan, Perjanjian Baru mengingatkan kita tentang ”hukum taurat dan kitab nabi-nabi” di Perjanjian Lama sebagai dasar pemahaman kita akan Kristus (Kis. 26:22; 28:23; Rm.1:2,3; 16:25,26). Yesus sendiri memperingatkan, jika kita tidak memahami dengan benar tentang ”kitab-kitab Musa dan nabi-nabi”, maka kita tidak dapat memahami Yesus (Luk. 16:31; Yoh. 5:46,47).

Hukum Musa memberikan gambaran ke depan tentang Yesus, dan nabi-nabi menubuatkan tentang dia. Hal ini cukup untuk membuktikan bahwa Yesus tidak hadir di bumi secara fisik sebelum kelahirannya. Doktrin palsu tentang ”keberadaan” Yesus secara fisik sebelum ia lahir, akan membuat janji-janji yang diulangi tentang dia, yang akan menjadi keturunan dari Adam, Abraham, dan Daud, menjadi tidak ada artinya. Jika ia sebelumnya sudah berada di surga pada waktu janji-janji itu diberikan, maka Allah telah salah memberikan janji-janji kepada orang-orang ini sehubungan dengan keturunan mereka yang akan menjadi Mesias. Silsilah Yesus yang dicatat di Matius 1 dan Lukas 3 menunjukkan bahwa asal-usul Yesus berasal dari orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan janji-janji itu.

Janji-janji yang diberikan kepada Daud sehubungan dengan Kristus, menyangkal keberadaan Yesus secara fisik pada waktu janji-janji itu diberikan: ”Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu...Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu” (II Sam. 7:12,14). Perhatikan bentuk kalimatnya, yang menjelaskan hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Dengan memperhatikan bahwa Allah akan menjadi Bapa bagi Kristus, adalah suatu hal yang mustahil jika Anak Allah sudah ada sebelumnya, sewaktu janji itu diberikan. Dikatakan bahwa keturunan itu adalah ”anak kandung” Daud, yang menunjukkan bahwa ia secara fisik adalah keturunan Daud. ”Tuhan telah menyatakan sumpah setia kepada Daud...Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu” (Mzm. 132:11).

Salomo menggenapi beberapa dari janji-janji itu, tetapi ia sudah hidup pada waktu janji itu diberikan (II Sam. 5:14), penggenapan secara keseluruhan dari janji-janji itu, yaitu tentang keturunan Daud yang akan menjadi Anak Allah, digenapi oleh Yesus (Luk. 1:31-33), ”Aku akan menumbuhkan Tunas Adil bagi Daud” (Yer. 23:5), yaitu Mesias.

Penggunaan bentuk kalimat yang sama juga digunakan pada nubuat-nubuat yang lain tentang Kristus. ”Seorang nabi akan kubangkitkan bagi mereka (Israel)” (Ul. 18:18) dikutip di Kis. 3:22,23, yang menjelaskan bahwa ”nabi” itu adalah Yesus. ”Seorang perempuan muda (Maria) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel” (Yes. 7:14). Yang digenapi melalui kelahiran Kristus (Mat. 1:23).