Selasa, 19 Juni 2012

Kemenangan Yesus

Yesus memiliki kodrat manusia kita dan telah dicobai untuk berdosa seperti kita. Perbedaan antara Dia dan kita adalah Dia mengatasi dosa itu; sementara kodrat dasar akan dosa, Dia selalu ditampilkan sebagai karakter yang sempurna. Keajaiban ini seharuanya menginspirasukan kita sebagaimana kita menerapkannya. Terdapat pengulangan penekanan Perjanjian Baru pada kesempurnaan karakter Kristus.
  • Dia “dicobai dalam segala hal seperti kita namun tidak berdosa” (Ibr 4:15).
  • Dia “tidak mengenal dosa”. “di dalamNya tidak ada dosa” (2 Kor 5:21; 1 Yoh 3:5)
  • “yang tidak berdosa, dan dusta tidak ada di dalam mulutnya” (1 Ptr 2:22).
  • “kudus, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibr 7:26)

Injil mencatat demonstrasi bagaimana para pengikutnya mengenali kesempurnaan karakterNya, terlihat dalam perkataan dan tindakanNya. Istri Pilatus mengenali bahwa Dia adalah “Orang benar” (Mat 27:19), di bawah hukuman, tentara Romawi yang memandang Yesus tergantung di kayu salib berkomentar, “sesungguhnya Dia adalah orang yang benar” (Luk 23:47). Permulaan hidupNya, Yesus menantang orang-orang Yahudi dengan pertanyaan: “dengan apakah kamu membuktikan Aku akan dosa?” (Yoh 8:46). Kepada semua yang di sana tidak bisa menjawab.


Sebagai hasil dari kemenangan yang sempurna dalam segala hal, Yesus dari Nazaret menjadi lebih tinggi daripada para malaikat (Ibr 1:3-5). Dia diberikan nama yang tertinggi (Flp 2:8), yang termasuk semua julukan malaikat. “namaNya akan disebut ajaib [Yud 13:18 Avmg], penasihat [digunakan malaikat dalam 1 Raj 22:20 teks Ibrani]...” (Yes 9:6). Dibuktikan Yesus tidak menempati posisi tinggi ini sebelum kelahiran dan kematianNya.
Mengenai karakter sempurnaNya, Yesus adalah penyataan Allah dalam daging (1 Tim 3:16); Dia bertindak dan berbicara sebagai Allah memiliki tindakan Dia menjadi manusia. Dia yang oleh karenanya cerminan sempurna dari Allah – “gambaran Allah yang tak terlihat” (Kol 1:15). Karena ini, tidaklah diperlukan bagi manusia fana secara fisik untuk melihat Allah. Seperti penjelasan Yesus, “Dia yang melihat Aku, melihat Bapa; bagaimana kamu dapat berkata, perlihatkanlah kepada kami (secara fisik) Bapa itu?” (Yoh 14:9). Penekanan pengulangan Alkitab adalah bahwa Allah Bapa telah dinyatakan dalam Yesus Kristus AnakNya (2 Kor 5:19; Yoh 14:10; Kis 2:22). Tritunggal mengajarkan bahwa Anak memanifestasikan atau ‘inkarnasi’ dalam Yesus; tetapi Alkitab mengajarkan bahwa Allah memanifestasikan [‘inkarnasi’ jika kita menggunakan kalimat] dalam Yesus. Firman menjadi daging (Yoh 1:14), lebih dari sekedar Firman memasuki ke dalam sebuah bentuk tubuh.

Hidup dalam dunia yang penuh dosa, dan melekat pada dosa dalam kodrat kita, sangat sulit bagi kita untuk menghargai keseluruhan dan kebesaran keunggulan rohani Kristus; bahwa manusia dari kodrat kita memenuhi penyataan kebenaran Allah dalam karakterNya. Percaya ini sebuah iman yang benar dibanding sekedar menerima teologia bahwa Kristus adalah Allah itu sendiri.

Karena Dia memiliki sifat dasar kita, Kristus harus mati. Dia adalah keturunan Adam melalui Maria, dan semua anak-anak Adam mati (1 Kor 15:22). Semua keturunan Adam mati karena Adam berdosa, mengenai situasi pribadinya. “demikian kematian... karena pelanggarannya (Adam) agar semua mati... penghakiman telah (diperhitungkan karena) dia (Adam ) mengalami (untuk mati)... oleh ketidak-taatan manusia semua menjadi berdosa”, dan oleh sebab itu haruslah mati (Rm 5:114-19; 6:23). Sebagai keturunan Adam, Yesus harus mati, Dia dimasukan kodrat yang fana dari Adam melalui Maria, ibuNya.

Menjadi bagian Yesus, semua keturunan Adam layak akan hukuman ini, bagi kita yang memiliki dosa secara pribadi. Yesus harus mati karena Dia berasal dari kodrat kita, terkena kutuk yang datang bagi keturunan Adam. Sebelumnya, Dia secara pribadi tidak melakukan sesuatu yang layak untuk mati “Allah membangkitkan Dia dari kematian, membebaskan Dia dari kutuk kematian, karena tidak mungkin kematian bisa menahanNya” (Kis 2:24). Kristus telah “dideklarasikan menjadi Anak Allah dengan kuasa, sesuai dengan Roh Kudus, melalui kebangkitan dari kematian” (Rm 1:4). Karena kesempurnaan karakter Kristus, “Roh KudusNya”, yang membangkitkan Dia.

Kristus tidak mati di kayu salib hanya karena kodrat manusiaNya. Dia berkeinginan memberikan hidup sempurnaNya sebagi hadiah bagi kita; Dia menunjukkan kasihNya bagi kita dengan mati “bagi dosa kita” (1 Kor 15:3), mengetahui bahwa melalui kematianNya Dia dapat memberikan untuk kita keselamatan dari dosa dan kematian (Ef 5:2,25; Why 1:5; Gal 2:20). Karena Yesus dalam karakter yang sempurna Dia mampu mengatasi dosa dengan menjadi pribadi pertama yang bangkit dari kematian dan memperoleh hidup kekal. Semua yang menyamakan dirinya dengan Kristus melalui baptisan dan hidup dalam jalan Kristus memiliki harapan yang sama dengan kebangkitan sebagi upahnya.

Dalam garis ini kemuliaan tepat untuk kebangkitan Kristus. Inilah “jaminan” bahwa kita akan dibangkitkan dan dihakimi (Kis 17:31), dan jika kita benar-benar mengikuti Dia di dalam hidup ini, berbagi upahNya akan hidup kekal. “mengetahui (dengan yakin) bahwa Dia yang membangkitan Tuhan Yesus akan membangkitkan kita juga melalui Yesus” (2 Kor 4:14; 1 Kor 6:14; Rm 6:3-5). Sebagai orang berdosa kita pantas mati selamanya (Rm 6:23). Sebelumnya, seturut kehidupan sempurna Kristus, mentaati kematian dan kebangkitanNya, Allah memberikan kita hadiah hidup kekal, secara penuh sesuai dengan semua ketetapanNya.

Untuk menghilangkan dampak dosa kita, Allah “menempatkan kebenaran” (Rm 4:6) bagi kita melalui iman kita dalam janjiNya akan keselamatan. Kita tahu bahwa dosa membawa kematian, oleh sebab itu jika kita sungguh percaya bahwa Allah akan menyelamatkan kita dari itu, kita harus percaya bahwa Allah akan memperhitungkan kita sebagaimana jika kita benar, meskipun kita tidak. Kristus adalah sempurna; jika kita sungguh di dalam Kristus, Allah akan menerima kita sebagaimana jika kita sempurna, walu secara pribadi kita tidak begitu. Kita menerima akan apa yang kita dalam tingkatan manusia akan disebut ‘pengampunan Raja’. Allah membuat Kristus “menjadi dosa bagi kita, yang tidak mengenal dosa; bahwa kita boleh dibenarkan Allah dalam Dia” (2 Kor 5:21), artinya dalam Kristus melalui baptisan dan hidup seperti Kristus. Mengenai “dalam Kristus Yesus”, Dia “membuat kepada kita... kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan” (1 Kor 1:30,31); ayat berikut mendukung kita untuk memuji Kristus akan hal terbesar yang Ia lakukan. “di dalam injil dinyatakan kebenaran Allah, pembenaran oleh iman” (Rm 1:17, NIV). Memahami hal ini yang karenanya penting menjadi bagian akan pengenalan kebenaran injil.

Semua ini menjadi mungkin melalui kebangkitan Kristus. Dia adalah “buah sulung” dari semua manusia yang akan menjadi kekeal melalui pekerjaanNya (1 Kor 15:20). “anak sulung” dari keluarga rohani yang baru yang akan diberikan sifat dasar Allah (Kol 1:18; Ef 3:15). Kebangkitan Kristus membuat menjadi mungkin bagi orang-orang percaya dalam Kristus untuk dinilai sebagaimana mereka benar, melihat bahwa mereka ditutupi oleh kebenaranNya. Kristus “telah diserahkan karena pelanggaran kita dan bangkit karena pembenaran kita (kata yang artinya ‘menjadi benar’)” (Rm 4:25). Inilah hal-hal roh. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa ‘pembenaran’ adalah kecurangan yang dilegalkan. Allah memberikan pertobatan yang benar dan penerimaan yang benar bahwa Kristus ‘deklarasi kebenaran Allah, bahwa Ia hanya membenarkan mereka yang percaya dalam Yesus’ (Rm 3:25,26). Bahkan Yesus sempurna dan tidak berdosa menerima kebenaran Allah bahwa Ia harus mati karena Ia merupakan keturunan Adam. Begitu banyak kalimat ini bagi kita. Seperti rasul Paulus, kita ‘orang celaka’ yang terus berdosa. Pembenaran diberikan bagi mereka yang sujud di hadapan Yang Maha Mulia dan berkata dari hati mereka ‘Allah berbelas kasih kepadaku sebagai pendosa’.

Sebuah kesadaran, merenungkan iman dalam hal ini sungguh menjadi keyakinan bahwa kita dapat dinilai Allah sebagaimana jika kita sempurna. Kristus dapat mempersembahkan kita pada kursi penghakiman “tidak bersalah di hadapan hadirat kemuliaanNya”, “kudus dan tidak bercacat dan tidak tersandung dalam pandanganNya” (Yud 24; Kol 1:22; Ef 5:27). Diberikan sifat dasar akan dosa dan kegagalan rohanai terus-menerus, mengambil dasar iman untuk percaya ini. hanya mengangkat tangan kita pada ‘penyaliban’ atau membuat pengajaran-pengajaran akademis tidaklah terhubung kepada iman ini. kesediaan memahami kebangkitan Kristus seharusnya mendorong iman kita: “Allah... membangkitkan Dia dari kematian... agar iman dan pengharapanmu (kesamaan kebangkitan) berada dalam Allah” (1 Ptr 1:21).

Hanyalah dengan kesediaan baptisan dalam Kristus, diikuti dengan waktu pemuridan, bahwa kita dapat menjadi “dalam Kristus”dan dinaungi oleh kebenaranNya. Oleh baptisan kita menyatukan diri kita dengan kematian dan kebangkitanNya (Rm 6:3-5), yang berarti membebaskan kita dari dosa-dosa kita, melalui ‘pembenaran’, atau dinilai benar (Rm 4:25).

Kesadaran hal-hal yang kita sadari dalam bagian ini mengeluarkan kita dari pegangan kecuali kita dibaptis. Pada baptisan menyatukan diri kita dengan darah Kristus yang tercurah di kayu salib; orang-orang percaya membasuh jubah mereka dan (membuat) nya putih dalam darah domba” (Why 7:14). Digambarkan mereka dalam jubah putih, mewakilkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan (‘dimasukkan’) ke dalam mereka (Why 19:8). Sangat mungkin untuk membuat jubah putih ini kotor sebagai hasil dari dosa kita (Yud 23); ketika kita melakukannya setelah baptisan, kita harus meminta Allah untuk mengampuni melalui Kristus.

Yang mengikuti setelah baptisan untuk tetap dalam posisi diberkati yang kemudian kita masuk di situ. Perlu secara rutin, harian, perenungan diri beberapa menit setiap hari, dengan berdoa selalu dan mencari pengampunan. Dengan melakukan ini kita akan selalu merendah meyakinkan itu, mengenai perlindungan kita dengan kebenaran Kristus, sesungguhnya kita akan di dalam kerajaan Allah. Kita harus menjadi ditemukan mentaati Kristus ketika hari kematian kita atau kembalinya Kristus, “bukan karena kebenaran (kita) sendiri... tetapi melalui iman (di dalam) Kristus, pembenaran dari Allah oleh iman” (Flp 3:9).

Penekanan ulang pada iman yang menghasilkan di dalamnya kebenaran, menunjukkan bahwa tidak ada jalan keselamatan melalui perbuatan kita; keselamatan adalah karena anugerah: “karena anugerah kita diselamatkan oleh iman; dan bukan karena dirimu sendiri: ini adalah pemberian Allah: bukan pekerjaanmu” (Ef 2:8,9). Sebagaimana pembenaran dan kebenaran adal;ah ‘pemberian’ (Rm 5;17), begitu juga keselamatan. Motivasi kita dalam melakukan segala pekerjaan dalam pelayanan orang kristen seharusnya sebagaimana yang telah Allah lakukan bagi kita – menilai kita benar melalui Kristus dan memberikan kita jalan akan keselamatan. Sangat fatal untuk beralasan bahwa jika kita berbuat baik, maka perbuatan-perbuatan itu akan menyelamatkan kita. Kita tidak akan berhasil mencapai keselamatan jika kita berpikir seperti ini; inilah pemberian yang tidak dapat kita bayar, hanya sikap mengasihi yang terdalam yang akan tercermin di dalam perbuatan kita. Kebenaran iman menghasilkan perbuatan-perbuatan sebagaimana yang dihasilkan (Yak 2:17).

Rabu, 16 Mei 2012

Hubungan Allah Dengan Yesus


Bagaimana Allah membangkitkan Yesus menuntun kita untuk berpikir tentang hubungan antara Allah dan Yesus. Jika hal-hal itu “kesamaan... kekekalan”, sebagaimana pernyataan ajaran tritunggal, maka kita akan menerima hubungan mereka menjadi sama. Kita telah melihat bukti bahwa ini bukanlah masalahnya. Hubungan antara Allah dan Kristus seumpama antara suami dan istri: “kepala dari setiap orang adalah Kristus; dan kepala dari wanita adalah pria; dan kepala dari Kristus adalah Allah” (1 Kor 11:3). Sebagaimana suami adalah kepala dari istrinya, begitupun Allah kepala dari Kristus, walau Mereka memiliki kesamaan satu tujuan yang ada sebelum suami dan istri. Demikian “Kristus adalah kepunyaan Allah” (1 Kor 3:23), sebagaimana istri kepunyaan suaminya.

Allah Bapa sering dinyatakan menjadi Allah Kristus. Kenyataan bahwa Allah digambarkan sebagai “Allah Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Ptr 1:3; Ef 1:17) meski setelah kenaikan Kristus ke surga, menunjukkan bahwa inilah hubungan mereka sekarang, selama kehidupan fana Kristus. Kadangkala diperdebatkan oleh aliran tritunggal bahwa Kristus hanya berbicara di bawah Allah selama hidupNya di bumi. Perjanjian Baru menulis beberapa tahun setelah kenaikan ke surga, Allah dibicarakan sebagai Allah Kristus dan Bapa. Yesus tetap mengakui Bapa sebagai AllahNya.

Wahyu, kitab terakhir dari Perjanjian Baru, ditulis setelah beberapa tahun setelah kemuliaan dan kenaikan Kristus, yang berbicara akan Allah sebagai Allah dan BapaNya (Kristus)” (Why 1:6 RV). Dalam kitab ini, kebangkitan dan kemuliaan Kristus memberikan pesan kepada orang percaya. Dia berbicara tentang “bait AllahKu...nama AllahKu...kota AllahKu” (Why 3:12). Ini membuktikan bahwa Yesus berpikiran Bapa sebagai AllahNya – dan dengan demikian Dia (Yesus) bukanlah Allah.

Selama hidupnya yang fana, Yesus berhubungan dengan BapaNya dalam hal yang serupa. Dia berbicara tentang “bapaKu, dan Bapamu; AllahKu dan Allahmu” (Yoh 20:17). Di kayu salib, Yesus menampilkan kemanusiaanNya secara penuh: “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (mat 27:46). Demikianlah kata-kata yang tidak dapat dimengerti jika Allah berbicara kepada diriNya sendiri. Fakta yang sesungguhnya terjadi bahwa Yesus berbicara kepada Allah “dengan jeritan dan tangisan yang kuat” yang mengindikasikan kebenaran akan dasar hubungan Mereka (Ibr 5:7; Luk 6:12). Allah terbukti tidak dapat berdoa kepada diriNya sendiri. Bahkan sekarang, Kristus berdoa kepada Allah atas kita (Rm 8:26,27 ;, 2 Kor 3:18)

Jumat, 13 April 2012

Sisi manusiawi Kristus Yesus

Injil menyediakan banyak contoh akan bagaimana Yesus sepenuhnya memiliki sifat dasar manusia. Tercatat bahwa Ia letih, dan duduk untuk minum dari sumur (Yoh 4:6). “Yesus menangis” saat kematian Lazarus (Yoh 11:35).

Hampir semua, catatan dari penderitaan terakhir menjadi bukti yang cukup akan kemanusiaanNya: “sekarang juwaKu terharu”, Dia meminta dalam doaNya agar Allah menyelamatkan Nya daripada harus mati di kayu salib (Yoh 12:27).

Dia “berdoa, mengatakan, oh BapaKu, jikalau mungkin, lalukan cawan ini (penderitaan dan kematian) daripadaKu; tetapi bukan kehendakKu yang jadi, namun kehendakMu” (Mat 26:39). Ini menandakan bahwa kedagingan Kristus menginginkan hal yang berbeda dari Allah.

Bagaimanapun, dalam segenap hidupNya Kristus selalu menyetujui kehendakNya yang mana Allah persiapkan akan pencobaan terakhir di kayu salib. “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriKu sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakimanKu adil, sebab Aku tidak menuruti kehendakKu sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Inilah perbedaan kehendak antara kehendak Kristus dan Allah yang cukup membuktikan bahwa Yesus bukan Allah. Melalui kehidupan kita, kita menerima pertumbuhan akan pengenalan Allah, belajar dari pencobaan yang merupakan pengalaman hidup. Dalam hal ini, Yesus adalah teladan yang baik. Dia tidak memiliki pengenalan akan Allah yang lebih dari yang kita miliki”dari masa kanak-kanak “Yesus masuk dalam hikmat yang dewasa (kedewasaan rohani, Ef 4:13), dan semakin dikasihi Allah dan manusia” (Luk 2:52).

“Anak itu bertambah besar dan membangun (menjadi) kekuatan rohani” (Luk 2:40). Dua ayat ini menggambarkan fisik Kristus yang bertumbuh seiring dengan kerohanianNya; proses kedewasaan yang normal secara rohani. Dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada ahli-ahli taurat pada usia 12 tahun, keinginan belajar; dan seringkali Ia berbicara akan apa yang Ia pelajari dan diajarkan oleh BapaNya. Taat pada kehendak Allah adalah sesuatu yang harus kita pelajari pada masa hidup ini.

Kristus juga melalui proses ini untuk belajar taat kepada BapaNya, sebagaimana seharusnya seorang anak. “berpikir Dia adalah Anak, belajar ketaatanNya (taat kepada Allah) dengan hal-hal yang mana Ia derita; dan menjadi sempurna (kedewasaan rohani), Dia memunculkan keselamatan yang kekal” sebagi hasil dari penggenapan pertumbuhan rohaniNya (Ibr 5:8,9). Flp 2:7,8 mencatat akan proses yang sama akan kedewasaan rohani dalam Yesus, mengenai kematianNya di kayu salib. Dia “telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil bentuk (rupa) seorang hamba..

Dia merendahkan diriNya dan menjadi taat sampai... mati di kayu salib”. Bahasa yang digunakan di sini mengilustrasikan bagaimana Yesus dewasa dalam rohani, merendahkan diriNya secara penuh, sehingga akhirnya Dia “menjadi taat” kepada kehendak Allah, bahwa Ia harus mati di kayu salib. Demikian Dia adalah “menjadi sempurna” dengan jalan Dia menerima penderitaanNya. Adalah bukti dari hal ini bahwa Yesus harus membuat tindakan, pribadi untuk menjadi benar; dengan tidak bermaksud bahwa Ia secara otomatis dibentuk oleh Allah, yang mana akan menghasilkan di dalamNya. Yesus sungguh mengasihi kita dan memberikan hidupNya di kayu salib denngan maksud ini. penekanan yang terus-menerus akan kasih Yesus kepada kita akan tak terlihat jika Allah memaksakan Dia untuk mati di kayu salib (Ef 5:5,25; Why 1:5; Gal 2:20).

Karena Yesus melakukan pilihan ini, memungkinkan kita untuk menerapkan kasihNya, dan membentuk sebuah hubungan pribadi bersamaNya. Semua karena keinginan Kristus untuk memberikan hidupNya dengan sukarela bahwa Allah sangat berkenan kepadaNya: “demikian Bapa mengasihi Aku, karena Aku memberikan hidupKu... tidak ada seorangpun mengambil daripadaKu, tetapi Aku memberikan diriKu sendiri” (Yoh 10:17,18). Allah sangat berkehendak dengan kehendak ketaatan Kristus .Catatan akan kegembiraan Bapa terhadap ketaatan Anak, merupakan bukti yang cukup bahwa Kristus memiliki kemungkinan akan ketidak-taatan, tetapi memilih untuk taat. Kebutuhan Kristus akan keselamatan Karena kemanusiaanNya, Yesus adalah fana seperti kita. Dalam pandangan hal ini, Yesus perlu diselamatkan dari kematian oleh Allah. Mengenali ini, Yesus “mempersembahkan doa dan permohonan dengan seruan dan tangisan yang kuat kepada Dia (Allah) yang sanggup menyelamatkan Dia dari kematian, dan mendengarkan jeritanNya” (Ibr 5:7 AV. Mg). Kematian “tidak lagi berkuasa atasNya” (Rm 6:9), menandakan bahwa sebelum ini, dapat berlaku. Banyak pemazmur yang menubuatkan Yesus; di mana ada ayat yang menyebutkan tentang Kristus dalam Perjanjian Baru, sungguh masuk akal untuk berpendapat bahwa ada ayat-ayat lain dalam mazmur mengenai Dia juga. Berikut adalah beberapa peristiwa di mana kebutuhan Kristus akan keselamatan oleh Allah yang ditekankan.

 § Mzm 91:11,12 menyebutkan tentang Yesus dalam Mat 4:6. Mzm 91:16 manubuatkan bagaimana Allah akan memberikan Yesus keselamatan: “dengan hidup yang panjang (artinya hidup kekal) akan Aku puaskan ia, dan menunjukkan ia keselamatanKu”. Mzm 69:21 mengarah pada penyaliban Kristus (Mat 27:34); seluruh mazmur menggambarkan akan Kristus di kayu salib: “selamatkan aku, oh Allah... lukiskan malam ke dalam jiwaku, dan tebuslah... biarkan keselamatanMu oh Allah, mengangkat aku” (ay 1,18,29).

§ Mzm 89 mengutarakan akan janji Allah kepada Daud mengenai Kristus. Mengenai Yesus, Mzm 89:26 menubuatkan: “dia akan berseru kepadaKu (Allah), Kaulah Bapaku, Allahku, gunung batu keselamatanku”.

§ Doa-doa Kristus kepada Allah akan keselamatan yang terdengar; Ia telah didengar karena pribadiNya secara rohani, bukan karena tempatNya dalam ‘tritunggal’ (Ibr 5:7). Bahwasannya Allah membangkitkan Yesus dan memuliakanNya merupakan tema utama Perjanjian Baru.

§ “Allah... membangkitkan Yesus... Dia duduk disebelah kanan Allah menjadi pangeran dan Juruselamat” (Kis 5:30,31).

§ “Allah... memuliakan AnakNya Yesus... yang Allah bangkitkan dari kematian (Kis 3:13,15).

§ “Yesus ini yang telah Allah bangkitkan” (Kis 2:24,32,33).

Selasa, 03 April 2012

Sifat dasar dari Yesus

Sifat dasar’ berarti ‘yang mendasari, sebagaimana dasarnya’. Kita telah ditunjukkan dalam Alkitab, yang berbicara hanya ada dua sifat dasar – yaitu dari Allah dan dari manusia. Olehnya sifat dasar Allah tidak dapat mati, tidak dapat dicobai, dn lain sebagainya. Inilah bukti bahwa Kristus bukan bersifat dasar Allah selama hidupNya. Dia berkodrat manusia. Dari pengertian kita akan kata ‘sifat dasar’ membuktikan bahwa Kristus tidak dapat memiliki dua sifat dasar secara sekaligus. Adalah penting bahwa Kristus dicobai seperti kita (Ibr 4:15), dengan kesempurnaanNya yang melewati cobaan Dia dapat memberikan pengampunan bagi kita. “Imam Besar kita bukanlah yang tidak dapat merasakan akan kelemahan-kelemahan kita; tetapi Ia telah dicobai sama seperti kita” (Ibr 4:15) hanya saja tidak berdosa.  Diduga bahwa pada abad pertama di sana banyak yang berpikir bahwa Yesus “tidak dapat merasakan kelemahan-kelemahan kita”, bahwa ini bukanlah masalah; Yesus dapat merasakan hal ini. inilah kecenderungan awal akan pemahaman yang salah akan sifat dasar Yesus yang membuahkan doktrin yang salah tentang tritunggal. Keinginan yang salah yang mana didasari dari pencobaan yang datang dari dalam kita (mrk 7:15-23), dari sifat dasar kita (Yak 1:13-15). Adalah penting, bahwa demikian Kristus seharusnya berkodrat manusia bahwa Dia mengalami dan melewati cobaan-cobaan tersebut. Ibr 2:14-18 mengutarakan semua kata-kata ini.

“karena anak-anak itu (kita) dari darah dan daging (kodrat manusia), Dia (Kristus) juga sama mendapat bagian (artinya disamakan) dengan mereka (kodratnya); bahwa melalui kematianNya, Dia memusnahkan... iblis...sebab sesungguhnya bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi (kodrat dari) benih Abraham. Yang mana dalam segala hal Ia harua disamakan dengan saudara-saudaraNya, agar Ia menjadi Imam Besar yang berbelas kasihan dan setia... untuk mendamaikan dosa umat manusia. Sebab ia telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai”.

Bagian ini menempatkan penekanan yang luar biasa pada kenyataan bahwa Yesus memiliki kodrat manusia: “Dia juga sebagaimana diriNya” berbagi akan hal ini (Ibr 2:14). Kalimat ini menggunakan tiga kata yang maksudnya sama, hanya untuk mengembalikan maknanya. Dia mengambil bagian “dari kesamaan” kodrat; catatan dapat mengatakan ‘Dia mengambil bagian akan Hal ini juga’, tetapi hal ini menekankan, “Dia mengambil bagian yang sama”. Ibr 2:16 menyamakan penegasan makna bahwa Kristus tidak memiliki kodrat malaikat, melihat bahwa Ia berasal dari benih Abraham, yang datang untuk membawa keselamatan untuk semua yang percaya mejadi benih Abraham. Karena ini, adalah penting bagi Kristus memiliki kodrat manusia. Dalam segala hal Ia “menjadi sama seperti saudara-saudaraNya” (Ibr 2:17) jadi Allah dapat menjamin pengampunan kita melalui pengorbanan Kristus. 

Tatkala orang percaya yang dibaptis berdosa, mereka dapat datang kepada Allah, mengaku dosa dalam doa melalui Kristus (1 Yoh 1:19); Allah memperingatkan bahwa Kristus telah dicobai sebagaimana mereka, tetapi Dia adalah sempurna, melewati cobaan itu yang mana mereka gagal. Karena ini, “Allah demi Kristus” dapat mengampuni kita (Ef 4:32). Begitu pentingnya menghargai bagaimana Kristrus dicobai seperti kita, dan diperlukan bagi sifat dasar kita agar hal ini menjadi mungkin. Ibr 2:14 menjelaskan pernyataan bahwa Kristus adalah didasari “daging dan darah” untuk memungkinkan hal ini. “Allah adalah Roh” (Yoh 4:24) oleh kodratNya sebagai “Roh” Ia tidak memiliki daging dan darah. Kristus mempunyai dasar “daging” berarti bahwa tidak ada jalan bagiNya memiliki kodrat Allah sementara hidupNya yang fana.

Menampilkan sosok manusia yang memelihara firman Allah, artinya melewati pencobaan dengan penuh, yang lainnya gagal. Untuk itu “Allah mengirim AnakNya yang tunggal dalam yang serupa dengan daging, dan dengan pengorbanan akan dosa, menghukum dosa di dalam daging” (Rm 8:3 AV. Mg).
Di sini “dosa” mengarah pada dasar dosa yang kita miliki dari sifat dasarnya. Kita telah diberi jalan akan hal ini, dan melanjutkan untuk melakukannya, dan “upah dosa adalah maut”. Untuk lolos dari hal ini, manusia memerlukan pertolongan dari luar. Dengan dirinya sendiri dia tidaklah sempurna; dan tidak mungkin bagi kita yang diciptakan secara daging untuk menebus daging, Allah yang oelh sebab itu masuk dan memberikan AnakNya yang tunggal, yang memiliki “kedagingan” kita, dengan segala pencobaan akan dosa yang kita miliki. Tidak seperti manusia lainnya, Kristus melewati setiap pencobaan, meskipun Dia memiliki kemungkinan akan gagal dan berdosa sebagaimana yang kita lakukan. Roma 8:3 menggambarkan sifat dasar kemanusiaan Kristus dalam “tubuh dosa”. Beberapa ayat sebelumnya, Paulus berbicara tentang bagaimana di dalam daging “tidak tinggal hal yang baik”, dan bagaimana kedagingan mendasari perseteruan dengan Allah (Roma 7:18-23). Dalam konteks ini, lebih bagus untuk membaca bahwa Kristus memiliki “tubuh dosa” dalam Roma 8:3. semua karena hal ini, dan Dia melewati kedagingan itu, bahwa kitapun memiliki jalan untuk lolos dari kedagingan kita; Yesus memperingatkan secara seksama akan kuasa dosa di dalam sifat dasar kita. Dia diposisikan sebagai “Guru yang baik”, dengan maksud bahwa Dia adalah “baik” dan bersifat dasar sempurna. Dia menanggapi: “mengapa kalian menyebut aku baik? Tidak ada yang baik, kecuali satu, yaitu Allah” (Mrk 10:17,18). Dalam hal lain, manusia mulai menyaksikan akan kebesaran Kristus akan rangkaian mujizat yang Ia tampilkan. Yesus tidak membesarkan hal ini “karena Dia tahu segalanya, bahwa tidak diperlukan saksi manusia: sebab Ia tahu yang ada dalam manusia” (Yoh 2:23-25, teks Yunani). Karena pengetahuanNya yang besar akan sifat dasar manusia (“Dia mengetahui segalanya” akan ini), Kristus tidak ingin manusia untuk memujiNya secara pribadi dalam kebenaranNya sendiri, Dia memperingatkan akan sifat dasarNya.

Puisi pendek


engkau menyebut Aku jalan
tetapi tidak mengikuti Aku
engkau menebut Aku terang
tetapi tidak melihat Aku
engkau menyebut Aku guru
tetapi tidak mendengarkan Aku
engkau menyebut Aku Tuhan
tetapi tidak melayani Aku
engkau menyebut Aku kebenaran
tetapi tidak percaya kepadaKu
Jangan Heran jika suatu hari Aku tidak mengenal engkau!

Selasa, 06 Maret 2012

Kehidupan Yesus (pendahuluan)


Adalah suatu tragedi terbesar dalam pemikiran orang kristen, yang menganggap bahwa Yesus Kristus tidak menerima hormat dan pujian yang berhak ia terima karena kemenanganNya atas dosa, dengan membangun karakter yang sempurna. Doktrin ‘tritunggal’ yang diyakini oleh banyak orang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Jika benar demikian, maka dengan mengingat bahwa Allah tidak dapat dicobai (Yak 1:13) dan tidak mungkin berbuat dosa; dapat diambil kesimpulan dangkal bahwa Kristus tidak sungguh-sungguh berperang melawan dosa; dan kehidupannya di bumi hanya berpura-pura saja, ia tidak merasakan hal-hal yang dialami oleh manusia, tidak sungguh-sungguh merasakan dilema fisik dan rohani dari umat manusia, karena sebagai Allah, ia tidak dapat terpengaruh dengan hal-hal seperti itu.

Kelompok fanatik yang lain, seperti Mormon dan saksi Yehuwa, gagal untuk memahami kemuliaan Kristus sebagai Anak Allah yang tunggal. Karena pemahaman mereka yang salah itu, kita dapat yakin bahwa Yesus bukanlah malaikat, atau anak Yusuf yang sebenarnya. Ada juga yang menyimpulkan, bahwa keadaan Yesus sama seperti Adam sebelum jatuh ke dalam dosa. Terpisah dari kuranganya bukti-bukti Alkitabiah dalam memandang hal ini, mereka gagal dalam memahami bahwa Adam diciptakan Allah dari debu, sedangkan Yesus ‘diciptakan’ oleh Allah dengan memperanakkannya di dalam kandungan Maria. Walaupun Yesus tidak memiliki ayah secara lahiriah, ia dikandung dan dilahirkan seperti kita, tetapi dengan cara yang berbeda. Banyak orang tidak dapat menerima bahwa seorang manusia yang dilahirkan dengan mewarisi dosa dapat memiliki karakter yang sempurna. Inilah fakta yang menghalangi untuk sungguh-sungguh beriman kepada Kristus.

Untuk percaya bahwa keadaan Yesus sama seperti kita, walaupun ia memiliki karakter yang tidak berdosa, yang selalu dapat mengatasi cobaan-cobaan yang dialaminya, bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan daya pengamatan yang cukup atas catatan-catatan Injil tentang kehidupannya yang sempurna, dan dengan memahami ayat-ayat yang menyangkal bahwa ia adalah Allah, agar dapat memahami dan mengimani Yesus dengan benar. Jauh lebih mudah untuk menganggap bahwa dia adalah Allah itu sendiri, yang secara otomatis sempurna. Pandangan seperti ini merendahkan kebesaran dari kemenangan Kristus atas dosa dan keinginan daging.

Ia mempunyai keinginan duniawi, dan turut merasakan kelemahan-kelemahan manusia (Ibr. 4:15). Tetapi ia dapat mengatasinya, karena komitmennya yang besar terhadap jalan-jalan Allah, dan ia memohon bantuan Allah untuk melawan dosa. Karena itulah, maka Allah berkehendak untuk ”mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus” (II Kor. 5:19).

Rabu, 22 Februari 2012

“Pada mulanya adalah Firman” (Yoh.1:1-3)

“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah. Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:1-3)

Jika ayat-ayat ini dipahami sebagaimana mestinya, maka penegasan dan pengembangan dari kesimpulan-kesimpulan pada bagian terakhir dapat dipahami. Bagaimanapun juga ayat-ayat ini banyak disalah artikan oleh orang-orang dengan mengajarkan, bahwa Yesus berada di surga sebelum kelahirannya. Pemahaman yang benar dari ayat-ayat ini bergantung pada bagaimana kita memahami dan mengartikan kata ”Firman” sesuai dengan konteksnya. Kata itu tidak menunjuk kepada seseorang, karena tidak ada yang dapat ”bersama-sama dengan Allah” dan menjadi Allah pada waktu yang bersamaan. Kata Yunani ”logos” yang diterjemahkan menjadi ”firman”, tidak menunjuk kepada ”Yesus”. Kata itu biasanya diterjemahkan menjadi ”firman”, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi;
  • Laporan Penyebab
  • Komunikasi Doktrin
  • Niat Pemberitaan
  • Alasan Mengatakan
  • Berita


Kata ”firman” dipakai bersama dengan kata ganti orang ketiga ”ia”, karena ”logos” bersifat maskulin atau kelaki-lakian, Tetapi tidak mengartikan bahwa kata itu menunjuk kepada seseorang, yaitu Yesus. Alkitab dalam bahasa Jerman (Luther version) menggunakan kata ”das wort” (neuter); dan Alkitab dalam bahasa Perancis menggunakan kata ”la parole”; yang bersifat feminin atau kewanitaan. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa kata ”firman” tidak harus menunjuk kepada seorang laki-laki.

”Pada mulanya”

Kata ”logos” dengan tepat menunjuk kepada suatu pemikiran yang mendalam, yang diekspresikan melalui kata-kata dan cara-cara berkomunikasi lainnya. Pada mulanya Allah memiliki ”firman” ini, yang tujuannya berpusat pada Kristus. Bagaimana Roh Allah meletakkan pemikiran yang mendalam dari Allah ke dalam pelaksanaan, karena itu terdapat hubungan antara RohNya dan FirmanNya . Sebagaimana Roh Allah melaksanakan rencanaNya dengan manusia, dengan mengilhami firmanNya yang tertulis sejak permulaan. Karena itulah gagasan tentang Kristus diberitakan melalui pekerjaan dan firmanNya. Kristus adalah ”firman”dari Allah, oleh karena itu Roh Allah menunjukkan rencana Allah tentang Kristus dalam setiap pelaksanaannya. Hal ini menjelaskan mengapa banyak peristiwa di dalam Perjanjian Lama yang memberikan gambaran tentang Kristus. Tetapi, tidak bisa terlalu ditegaskan bahwa Kristus bukanlah ”firman itu”; ”firman itu” adalah rencana keselamatan Allah melalui Yesus. Kata ”firman” sering kali digunakan sehubungan dengan penjelasan mengenai Injil tentang Kristus; misalnya ”firman dari Kristus” (Kol.3:16 bandingkan Mat.13:19; Yoh.5:24; Kis.19:10; I Tes.1:8, dll.). Catat, ”firman” menjelaskan tentang Kristus, dan tidak menunjuk kepada dia secara pribadi. Ketika Kristus lahir, ”firman” ini berubah ke dalam bentuk daging dan darah – ”Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh.1:14). Yesuslah yang ”telah menjadi manusia”, bukan firman itu. Ia menjadi ”firman itu” pada waktu dilahirkan oleh Maria, bukan pada waktu sebelum itu.

Rencana tentang Kristus sudah direncanakan Allah sejak permulaan. Tetapi, tentang pribadi yang menjadi Kristus, tidak dinyatakan secara terbuka. Begitu juga sewaktu Injil tentang dia diberitakan pada abad pertama. Karena itu, Allah berfirman kepada kita melalui Kristus (Ibr.1:1,2). Berulangkali ditegaskan bahwa Kristus menyampaikan firman Allah dan membuat mujizat atas perintah Allah dengan tujuan untuk menyatakan Allah kepada kita (Yoh.2:22; 3:34; 7:16; 10:32,38; 14:10,24).

Paulus taat kepada perintah Kristus untuk memberitakan Injil tentang dia kepada ”segala bangsa”: ”pemberitaan tentang Yesus Kristus sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan...kepada segala bangsa” (Rm.16:25,26 bandingkan I Kor.2:7). Kehidupan abadi hanya dapat diperoleh manusia melalui pekerjaan Kristus (Yoh.3:16; 6:53). Walaupun sejak permulaan Allah telah merencanakan untuk menawarkan kehidupan abadi kepada manusia, yang dilakukannya dengan pengorbanan seperti yang juga dilakukan oleh Yesus. Penyingkapan sepenuhnya atas penawaran itu diberikan setelah kelahiran dan kematian Yesus: ”hidup yang kekal sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu dikehendakinya telah menyatakan firmanNya dalam pemberitaan Injil” (Titus 1:2,3). Kita telah mengetahui bagaimana nabi-nabi Allah dibicarakan seolah-olah mereka sudah ada (Luk.1:70) dalam pengertian bahwa ”firman” yang mereka sampaikan telah ada bersama Allah sejak permulaan.

Perumpamaan-perumpamaan yang dijelaskan oleh Yesus menyingkapkan banyak hal tentang ini, yang juga menggenapi nubuat tentang dirinya; ”Aku mau membuka mulutku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat.13:35). Dalam pengertian bahwa ”firman itu bersama-sama dengan Allah pada mulanya” dan ”menjadi manusia” melalui kelahiran Kristus.

”Firman itu adalah Allah”

Sekarang kita akan membahas pengertian dari ”firman itu adalah Allah”. Rencana dan pemikiran kita, pada intinya adalah menyatakan diri kita sendiri. Misalnya, ”Saya akan pergi ke London”, adalah firman atau pemberitaan yang mengekspresikan tujuan saya, karena itu adalah tujuan saya. Rencana Allah di dalam Kristus dapat dipahami dengan cara demikian. ”Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amos 23:7), demikian juga dengan Allah. Karena itu Firman Allah atau pemikiranNya adalah Allah; ”Firman itu adalah Allah.” Berarti, ada suatu hubungan yang erat antara Allah dengan firmanNya, misalnya di Mazmur 29:8, ”Suara Tuhan membuat padang gurun gemetar”, dan di Yeremia 25:7, ”Tetapi kamu tidak mendengarkan Aku, demikianlah firman Tuhan.” Kedua pernyataan seperti ini seringkali muncul di dalam nubuat-nubuat, yang dengan efektif mengartikan bahwa Allah sama dengan mengatakan: ”Kamu tidak mendengarkan firmanKu yang telah disampaikan oleh nabi-nabi.” Daud menyebut firman Allah sebagai pelita dan terang (Mzm.119:105), ia juga mengungkapkan hal yang sama di 2 Samuel 22:29, ”Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku.” Kedua ayat ini menunjukkan kaitan antara Allah dengan firmanNya. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa firman Allah adalah personifikasi dari Ia sendiri, yang ketika disebut seperti menunjuk kepada suatu pribadi, walaupun tidak demikian.

Karena Allah adalah kebenaran (Yoh.3:33; 8:26; I Yoh.3:10), maka demikian juga dengan firmanNya (Yoh.17:17). Dengan cara yang sama, Yesus mengidentifikasikan bahwa dirinya dengan firmannya begitu dekat, ia adalah personifikasi dari firmannya: ”Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yoh.12:48). Yesus menyebut firmannya seakan-akan seperti suatu pribadi, yaitu dirinya sendiri. Firmannya dipersonifikasikan, karena berkaitan erat dengan dirinya.
Begitu juga dengan firman Allah, dipersonifikasikan sebagai suatu pribadi, yaitu Ia sendiri, seperti yang terdapat di Yohanes 1:1-3. Sehubungan dengan firman itu, kita diberitahu bahwa ”Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:3). Allah menciptakan segala sesuatu melalui firmanNya (Kej.1:1). Karena hal ini, maka firman Allah dapat disebut sebagai Allah sendiri. Hal kerohanian yang perlu dicatat dari pembahasan ini adalah, melalui firman Allah yang berada di dalam hati kita, Allah akan menjadi dekat dengan kita.

Hal ini dejelaskan di Kejadian 1, bahwa Allah adalah Sang Pencipta melalui firmanNya, dan bukan melalui Kristus secara pribadi (Yoh.1:1-3), ”Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaranya (bintang-bintang)...Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi” (Mzm.33:6,9). Hingga saat ini semua ciptaan dapat bergerak oleh karena firmanNya: ”Ia menyampaikan perintahNya ke bumi: dengan segera firmanNya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba...Ia menyampaikan firmanNya...maka air mengalir” (Mzm.147:15-18).

Firman Allah adalah daya kreativitasnya, dia menggunakannya untuk memperanakkan Yesus di dalam rahim Maria, melalui firman atau rencana Allah, yang dilaksanakan oleh Roh Kudus (Luk.1:35), yang membuat Kristus dikandung. Dan Maria mengetahui hal ini berdasarkan responnya atas kabar baik yang ia terima tentang pembuahan Kristus: ”jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38).

Kita telah mengetahui bahwa firman/roh Allah merefleksikan tujuanNya, yang telah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Kebenaran dari hal ini ditunjukkan di dalam Kisah para Rasul 13:27, Yesus dikaitkan dengan firman dari nabi-nabi di Perjanjian Lama: ”mereka menggenapi perkataan nabi-nabi.” Ketika Yesus sudah lahir, semua firman/roh Allah ada di dalam pribadi Yesus Kristus. Dengan dibawah ilham rasul Yohanes bersuka cita atas rencana Allah sehubungan dengan kehidupan abadi, yang ditunjukkan melalui Kristus, yang juga disaksikan oleh murid-muridnya yang lain. Yesus mengetahui bahwa mereka telah memahami firman Allah dan rencana keselamatannya melalui dirinya (I Yoh.1-3). Walaupun kita tidak melihat Kristus, kita juga dapat bersuka cita melalui pemahaman yang benar tentang dia, dan kita juga bisa memahami dengan benar tujuan Allah , dan yakin sepenuhnya dengan upah kehidupan abadi (I Ptr.8:9). Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: ”Apakah saya sungguh-sungguh mengenal Kristus?” Hanya dengan menerima keberadaan seseorang yang disebut Yesus, tidaklah cukup. Harus dilanjuti dengan pelajaran Alkitab yang disertai doa. Mungkin anda dapat memahami ia sebagai penyelamat anda dalam waktu yang singkat, dan menyatukan diri anda dengannya melalui pembaptisan.