Selasa, 16 Juni 2020

Baptisan Dan Keselamatan

Baptisan Dan Keselamatan
 Baptisan mempersatukan kita dengan kematian Kristus, dan hanya oleh baptisan kita beroleh pengampunan. Kita “dikuburkan dengan (Kristus) dalam baptisan, yang mana di dalamnya kita juga dibangkitkan bersama denngan Dia melalui pekerjaan Allah, yang telah membangkitkan Dia dari kematian. Dan kamu menjadi mati di dalam dosamu, telah dihidupkan olehNya bersama-sama denngan Dia sesudah Ia mengampuni segala pelanggaranmu” (Kol 2:12,13). Kita “disucikan di dalam nama Tuhan Yesus” (1 Kor 6:11) – baptisan ke dalam nama  Yesus yang berarti olehnya dosa-dosa kita dihapuskan. Hal ini serupa kembali dalam Bil 19:13, di mana mereka yang tanpa air pemurnian haruslah mati. Kita dipertunjukkan bagaimana baptisan membasuh segala dosa (Kis 22:16). Penggambaran dari orang-orang percaya sebagaimana disucikannya dosa-dosa mereka di dalam darah Kristus yang oleh karenanya mengarahkan mereka melakukan baptisan (Why 1:5; 7:14; Tit 3:5 – [NIV] berbicara akan hal ini seperti “membasuh dari kelahiran kembali”, mengarahkan kita untuk menjadi “lahir oleh air” saat baptisan [Yoh 3:5] ).

     Dalam penjelasan akan hal ini, dapat dipahami bahwa tanggapan Petrus terhadap pertanyaan, “apa yang akan kami lakukan?” (untuk diselamatkan), “bertobat, dan berilah dirimu dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk penebusan dosamu” (Kis 2:37,38). Baptisan di dalam nama Kristus adalah untuk pengampunan dosa, tanpa ini tidak akan ada pengampunan, dan yang tidak dibaptis haruslah menerima upah dosa, yaitu maut (Rm 6:23). Tidaklah ada keselamatan kecuali di dalam nama Yesus (Kis 4:12), dan kita hanya mendapat bagian di dalamnya dengan baptisan. Inilah fakta yang berarti bahwa agama-agama bukan kristen tidak dapat dipimpin ke jalan keselamatan. Tidak semua orang percaya Alkitab dapat menerima hal ini, kenyataannya ada beberapa sekte dan aliran , ini cerminan yang menyedihkan atas sikap mereka terhadap Kitab Suci.

     Kebangkitan Kristus kepada kehidupan kekal merupakan tanda akan kemenangan pribadiNya atas dosa. Oleh baptisan kita mempersatukan diri kita sendiri dengan hal ini, dan oleh karenanya kita berbicara sebagaimana kita telah dibangkitkan bersama Kristus, dosa tidak berkuasa lagi atas kita, sebagaimana tidak terhadapNya. Melalui baptisan kita “dibuat bebas dari dosa... dosa tidak akan memiliki kuasa atas kamu” setelah baptisan (Rm 6:18,14). Bagaimanapun, setelah baptisan kita masih berdosa (1 Yoh 1:8,9); dosa masih bertahan untuk memperbudak kita kembali jika kita berpaling dari Kristus. Kita yang sekarang ini bebagi dalam kematian dan penderitaan Kristus, meskipun baptisan menunjukkan bagaimana kita juga dipersatukan dengan kebangkitan Kristus, yang mana kita memiliki harapan akan kedatanganNya kembali.

     Hanya di dalam harapan kita bebas dari dosa. “dia yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” Mrk 16:16) saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Ukuran keselamatan tidaklah akurat selalu setelah baptisan, tetapi saat tahta penghakiman (1 Kor 3:15). Sesungguhnya tidak diperlukan doktrin penghakiman jika kita menerima keselamatan pada saat baptisan, dan tidak seharusnya kita mati. “dia yang bertahan sampai kesudahannya akan diselamatkan” (Mat 10:22).

     Bahkan setelah baptisannya, Paulus (dan semua orang kristen) harus mengerjakan keselamatan (Flp 3:10-13; 1 Kor 9:27); dia berbicara akan pengharapan hidup kekal (Tit 1:2; 3:7; 1 Tes 5:8; Rm 8:24) dan tentang kita “mewarisi keselamatan” (Ibr 1:14). Pada tahta penghakiman, yang benar akan memasuki ke dalm kehidupan kekal (mat 25:46). Kekaguman Paulus dijelaskan secara akal diinspirasikan melalui Rm 13:11 – dia menjelaskan bahwa setelah baptisan kita dapat mengetahui bahwa setiap hari kita hidup dan bertahan seperti satu hari mendekati kedatangan Krsitus kedua kalinya, dengan begitu kita dapat menikmati bahwa “sekarang keselamatan kita mendekati dibanding waktu kita percaya”. Keselamatan kita sekarang tidaklah majenun. Keselamatan adalah bersifat kondisional; kita akan selamat jika kita tetap bertekun pada iman yang benar (Ibr 3:12-14), jika kita mengingat ajaran-ajaran dasar yang terdiri dari Injil (1 Tim 4:16; 1 Kor 15:1,2), dan jika kita melakukan hal-hal itu yang dalam memelihara kesungguhan akan pengharapan yang besar (2 Ptr 1: 10).

     Kata kerja bahasa yunani menterjemahkan “selamat” digunakan dalam waktu yang terus berkelanjutan, menunjukkan bahwa keselamatan merupakan proses yang berjalan yang terjadi di dalam kita dengan alasan agar kita terus menerus taat kepada Injil. Maka orang-orang percaya dapat berkata sebagaimana “menjadi selamat” oleh tanggapan mereka terhadap Injil (1 Kor 1:18 RSV; contoh lain dari kelanjutan tema ini dalam Kis 2:47 dan 2 Kor 2:15). Kata Yunani untuk “selamat” hanya dapat digunakan dalam kalimat lampau mengenai keselamatan terbesar yang Kristus perbuat di atas kayu salib, dan yang mana kita dapat menyatukan diri kita dengan melalui baptisan (2 Tim 1:9; Tit 3:5).

     Semua ini memberikan contoh oleh persetujuan Allah dengan sifat dasar Israel yang mana membentuk dasar hubunganNya dengan Israel rohani, yaitu orang-orang percaya. Israel meninggalkan Mesir, melambangkan dunia kedagingan dan agama sesat yang mana kita menyatu dengan itu sebelum baptisan. Mereka melewati laut merah dan kemudian melewati padang belantara Sinai ke dalam tanah perjanjian, di mana secara lengkap mereka menetap sebagai Kerajaan Allah. Mereka menyebrangi laut merah seperti halnya baptisan kita (1 Kor 10:1,2); perjalanan padang belantara akan kehidupan kita sekarang, dan Kanaan akan Kerajaan Allah. Yud 5 menggambarkan batapa banyak dari mereka yang dibinasakan sementara berjalan di padang belantara: Tuhan telah menyelamatkan umatNya keluar dari tanah Mesir, setelah itu membinasakan mereka yang tidak percaya”. Israel yang oleh karenanya “diselamatkan” dari Mesir, sebagaimana semua yang dibaptis “diselamatkan” dari dosa. Jika seseorang dari Israel dipertanyakan, “apakah kamu selamat?” tanggapan mereka pastilah, “iya”, tetapi ini bukanlah berarti bahwa mereka secara benar telah selamat.

     Hal yang sama sebagaimana Isarel kembali ke Mesir dalam hati mereka (Kis 7:39) dan memberi diri dalam kedagingan dan ajaran sesat, begitupun mereka yang diselamatkan dari dosa dengan baptisan dapat saja gagal dari posisi diberkati di mana mereka berdiri di dalamnya. Kemungkinan akan kita melakukan hal yang sama seperti sifat dasar Israel di padang belantara tertulis dalam 1 Kor 10:1-12, Ibr 4:1,2 dan Rm 11:17-21. terdapat beberapa contoh dalam Alkitab akan mereka yang pernah “diselamatkan” dari dosa melalui baptisan, kemudian gagal ke dalam sebuah posisi yang akan dihukum pada saat Kristus kembali (contohnya Ibr 3:12-14; 6:4-6; 10:20-29). Ajaran ‘sekali selamat tetap selamat’ dari pengkotbah-pengkotbah ‘injili’ yang bersemangat memaparkan akan bagian-bagian yang sedemikian mepersilahkan pemenuhan kedagingan yang menyesatkan pikiran.

     Seperti halnya semua hal, sentuhan yang tepat akan keseimbangan diperlukan untuk meyakinkan akan sejauh manakah kita “diselamatkan” oleh baptisan. Tindakan seharusnya tidak terlihat memperbolehkan kesempatan terhadap keselamatan – kemungkinan yang lebih baik dibanding hal ini tanpa baptisan. Dengan menjadi “dalam Kristus” oleh baptisan, kita diselamatkan dengan harapan; kita sungguh-sungguh memilki kepastian akan Kerajaan Allah jika kita berkesinambungan taat dalam Krsitus sebagaimana kita bangkita dari air baptisan. Di lain hal, waktu sesudah kita dibaptis kita seharusnya mampu memilki keyakinan yang rendah hati bahwa kita secara pasti dapat diterima masuk dalam Kerajaan saat kembalinya Kristus. Kita tidak dapat memastihkan secara keseluruhan, karena bisa saja kita gagal pada hari esok; kita tidak tahu masa depan kerohanian pribadi kita dalam hidup ini.

     Kita harus melakukan semua yang kita sebut kebaikan nurani yang kita miliki bersama Allah saat baptisan. Baptisan adalah “janji akan nurani yang baik” (1 Ptr 3:21, bahas Yunani); calon baptisan berikrar (berjanji) untuk menjaga hati nurani yang bersih bersama Allah.

     Sementara baptisan merupakan hal yang utama dipentingkan dalam memperbolehkan kita untuk masuk dalam keselamatan yang besar yang mana tersedia dalam Kristus, kita harus berhati-hati untuk tidak memberi kesan bahwa dengan satu tindakan atau ‘kerjaan’ akan baptisan saja kita akan diselamatkan. Kita telah diperlihatkan lebih dulu bagaimana hidup yang bersekutu terus menerus dengan penyaliban Kristus adalah penting: “jika seserang tidak dilahirkan dari air dan roh, dia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3:5). Perbandingan dengan 1 Ptr 1:23 menunjukkan bahwa kelahiran yang sesuai dengan baptisan haruslah diikuti dengan buah-buah roh. Keselamatan tidak hanya tertuju pada baptisan: hal itu adalah hasil dari kasih anugerah (Ef 2:8), iman (Rm 1:5) dan pengharapan (Rm 8:24), mengatasi segala hal. Terkadang terdengar bahwa keselamatan hanyalah oleh iman, dan oleh sebab itu pekerjaan seperti baptisan sepertinya tidak relevan. Bagaimanapun, Yak 2:17-24 membuat secara jelas bahwa alasan sedemikian membuat pemikiran yang sesat antara iman dan tindakan; iman yang benar, contohnya dalam injil ditunjukkan perbuatan-perbuatan iman yang mana di dalamnya menghasilkan, seperti baptisan. “manusia dibenarkan oleh karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yak 2:24). Dalam beberapa kasus baptisan, orang percaya bertanya akan apa yang harus dia “perbuat” untuk diselamatkan; jawabannya selalu melibatkan baptisan (Kis 2:37; 9:6; 10:6; 16:30). ‘Melakukan’ suatu ‘tindakan’ baptisan yang merupakan indikasi penting akan kepercayaan kita terhadap injil keselamatan. Pekerjaan menyelamatkan kita secara keseluruhan telah dilakukan oleh Allah dan Kristus, tetapi kita perlu melakukan “tindakan pertobatan” dan percaya akan hal ini (Kis 26:20; Mrk 16:15,16).

     Kita telah lebih dulu ditunjukkan bahwa bahasa dari membasuh segala dosa mengarah kepada pengampunan Allah terhadap kita yang terhitung akan baptisan kita di dalam Krsitus. Dalam beberapa bagian dibicarakan kepada kita sebagimana membasuh segala dosa oleh iman dan pertobatan kita (Kis 22:16; Why 7:14; Yer 4:14; Yes 1:16); di lain hal Allah terlihat sebagai yang menghapus dosa kita (Yeh 16:9; Mzm 51:2,7; 1 Kor 6:11). Secara baik ini menunjukkan bagaimana jika melakukan bagian kita dengan dibaptiskan, Allah akan membasuh segala dosa kita. Mengenai ‘perbuatan’ atau tindakan baptisan adalah langkah utama dalam bertekun akan injil kasih anugerah Allah (kemurahan kebaikan), yang telah dipersembahkan kepada kita di dalam firmanNya.

Minggu, 21 Januari 2018

Pengertian Baptisan

Salah satu alasan akan baptisan selam adalah bahwa masuk ke bawah air adalah melambangkan kita masuk ke dalam kubur – menyatukan kita dengan kematian Kristus, dan mengindikasikan ‘kematian’ kita akan kehidupan kita sebelumnya terhadap dosa dan kebodohan. Keluar dari air menghubungkan kita dengan kebangkitan Kristus, menghubungkan kita pada harapan akan kebangkitan pada kehidupan kekal saat kedatanganNya, sebagaimana hidup dalam hidup baru saat ini, secara rohani berhasil mengatasi dosa pada kemenangan Kristus yang tercapai oleh kematian dan kebangkitanNya. 

“kita semua telah dibaptis di dalam Kristus dan dibaptis dalam kematianNya. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian kita akan berjalan (dalam kehidupan hari ini) dalam kehidupan yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematianNya (dengan baptisan), kita juga menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitanNya” (Roma 6:3-5).

      Karena keselamatan hanya dimungkinkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, adalah yang utama bahwa kita menyatukan diri kita dengan hal ini jika kita diselamatkan. Lambang kematian dan kebangkitan kembali dengan Kristus, yang melalui baptisan hanya inilah cara untuk melakukan hal ini. seharusnya tercatat bahwa pemercikan tidak memenuhi lambang ini. Pada baptisan “manusia lama kita (cara hidup) disalibkan” sebagaimana dengan Kristus di atas kayu salib (Rm 6:6). Allah “menghidupkan kita bersama Kristus” pada baptisan (Ef 2:5). Bagaimanapun, kita tetap memilki kodrat manusia setelah baptisan, dan oleh karena itu cara-cara hidup kedagingan tetap akan muncul. ‘penyaliban’ akan kedagingan kita oleh karena sebuah proses berjalan yang hanya bermula saat baptisan, Yesus mengatakan kepada orang percaya untuk memikul salibnya setiap hari dan mengikut Dia, sebagaimana dalam perjalanan menuju Kalvari (Luk 9:23; 14:27). Sementara hidup yang benar tersalibkan bersama Kristus tidaklah mudah, di sana terdapat penghiburan dan kegirangan yang tak terkatakan melalui penyatuan dengan kebangkitanNya.

     Kristus membawa “damai melalui darahNya di kayub salib” (Kol1:20) – “damai sejahtera dari Allah, yang melampaui segala pikiran” (Flp 4:7). Akan hal ini Yesus berjanji: “damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahteraKu Kuberikan padamu: tidak seperti dunia memberikan damai, Aku memberikannya kepadamu” (Yoh 14:27). damai dan kegembiraan rohani yang benar ini melebihi sakit dan kesulitan yang secara terbuka menyatukan diri kita dengan penyaliban Kristus. “sebagaimana kesengsaraan Kristus melingkupi kami, demikian juga penghiburan yang berlimpah-limpah oleh Kristus” (2 Kor 1:5).

     Di sana juga ada kebebasan yang datang dari mengetahui bahwa sifat dasar kita sesungguhnya sudah mati, dan oleh karenanya Yesus secara aktif melalui setiap rintangan kita. Rasul besar Paulus berbicara dari pengalaman pribadinya akan hal ini. “namun aku hidup, tetapi bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang mengasihi dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Gal 2:20).

     “kiasan baptisan juga menyelamatkan kita sekarang... oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Ptr 3:21) karenba persekutuan kita dengan kebangkitan Kristus akan kehidupan kekal yang diberikan kepada kita yang sama pada saat kedatanganNya kembali. Dengan mengambil bagian dalam kebangkitanNya, maka akhirnya kita diselamatkan. Yesus menyatakan hal ini dalam kalimat yang sederhana: “Karena Aku hidup, maka kalian akan hidup juga” (Yoh 14:19). Pauluspun demikian: “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya... kita akan diselamatkan oleh hidupNya” (kebangkitan; Rm 5:10).

     Lebih lagi waktu yang ditekankan bahwa oleh persekutuan kita dengan kematian dan penderitaan Kristus dalam baptisan, dan juga cara hidup kita, kita akan dengan pasti berbagi di dalam kemuliaan kebangkitanNya:

     “jika kita mati dengan (kristus), kita juga akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita juga akan memerintah dengan Dia” (2 Tim 2:11,12).

     “senantiasa membawa dalam tubuh akan kematian Tuhan Yesus, sehingga kehidupan Yesus boleh dinyatakan dalam tubuh kita... mengetahui bahwa Ia yang membangkitkan Tuhan Yesus akan membangkitkan kita juga oleh Yesus” (2 Kor 4:10,11,14).

     Paulus berbagi dalam “persekutuan akan penderitaan (Kristus), terjadi (oleh pengalaman hidupnya yang keras) memenuhi sampai kematiannya; jika oleh karena segala sesuatu aku boleh bermegah kepada kebangkitan akan hidup yang kekal sebagaimana yang dialami oleh Kristus” (Flp 3:10,11; Gal 6:14).

Rabu, 17 Agustus 2016

Kumpulan Kotbah dari pendeta Freddy Riva

Kumpulan Kotbah (MP3)  dari Pendeta Freddy Riva
update 20160826



  1. Membangun Rumah diatas dasar yang kokoh


Bagaimana Seharusnya Kita Dibaptis?

Terdapat pandangan secara luas yang melihat bahwa baptisan dapat ditampilkan, khususnya pada bayi, dengan percikan air ke atas kepalanya (‘mengkristenkan’). Ini sangat bertolak dengan prinsip alkitabiah tentang baptisan.

     Bahasa Yunani kata ‘baptizo’ yang diterjemahkan ‘baptise’ dalam Alkitab bahasa Inggris, bukanlah berarti memercik, ini mengartikan secara lengkap mencuci dan membenamkan ke dalam air (lihat definisi pada konkordansi dari Robert Young dan James Strong). Kata ini digunakan dalam bahasa Yunani klasik mengenai kapal yang kandas dan menjadi ‘dibaptis’ (tenggelam) dalam air, atau ember yang dicelupkan ke dalam air. Ini juga digunakan dengan referensi untuk pakaian yang diganti warnanya dengan baptisan, atau menenggelamkan sampai tercelup. Untuk mengganti warna dari pakaian itu, ini bukti bahwa membaptis itu haruslah ditenggelamkan secara penuh ke dalam air, daripada sekedar percikan ke atasnya. Yoh 13:26 menggunakan bahasa Yunani bapto untuk menggambarkan bagaimana Tuhan mencelupkan roti ke dalam anggur. Penyelaman sesungguhnya bentuk yang tepat untuk baptisan yang terambil dari ayat-ayat berikut:
Hasil gambar untuk baptizo
·        “Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab banyak air di situ, dan orang-orang datang untuk dibaptis” (Yoh 3:23). Ini menunjukkan bahwa “banyak air” yang dianjurkan untuk baptisan; jika ini dilakukan dengan pemercikan sedikit air, maka hanya satu ember saja yang harus disediakan untuk ratusan orang. Orang-orang datang tertuju pada tengah-tengah sungai Yordan untuk baptisan, daripada sekedar Yohanes pergi berkeliling kepada mereka dengan membawa sebotol air.
Hasil gambar untuk baptizo
·        Yesus juga, dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan – ke Yordan (Mrk 1:9). “Yesus setelah Ia dibaptis, keluar dari air” (Mat 3:13-16) baptisanNya secara jelas dengan selam – Dia “keluar dari air” setelah baptisan. Satu dari banyak alasan Yesus dibaptis adalah dengan maksud untuk menjadi contoh, dengan begitu tidak seorangpun dapat mengklaim mengikut Yesus secara serius tanpa meniru contoh Dia akan baptisan secara selam.

·        Dalam hal yang sama, Filipus dan sida-sida Etiopia “keduanya turun ke dalam air... dan dia membaptisnya, dan ketika mereka keluar dari dalam air...” (Kis 8:38,39). Ingatlah bahwa sida-sida itu meminta baptisan ketika ia melihat oasis: “lihat, di sini ada air: apa yang menghalangiku untuk dibaptis?” (Kis 8:36). Hampir dipastikan bahwa orang itu tidak akan mau melakukan perjalanan di padang gurun tanpa setidaknya sedikit air padanya, misalnya dalam sebuah botol. Jika baptisan dengan percikan, hal itu dapat dilakukan tanpa memerlukan oasis.
Hasil gambar untuk sida sida etiopia
·        Baptisan adalah penguburan (Kol 2:12), yang mau diimplikasikan tertutup total.

·        Baptisan disebut ‘penyucian’ akan dosa-dosa (Kis 22:16). Inti dari pengajaran yang benar adalah seperti halnya ‘menyucikan’ dalam Why 1:5; Tit 3:5; 2 Ptr 2:22; Ibr 10:22, dll. Bahasa menyucikan ini lebih tepat kepada baptisan selam daripada memercik.

Terdapa beberapa indikasi Perjanjian Lama bahwa dapat diterima mendekat kepada Allah melalui bentuk dari penyucian.

     Imam-imam harus mencuci secara penuh dalam sebuah kolam yang disebiut ‘Laver’ sebelum mereka datang mendekat Allah dalam pelayanan (Im 8:6; Kel 40:32). Umat Israel harus disucikan dengan maksud pembersihan diri mereka dari pastinya hal-hal yang tidak bersih (contoh Ul 23:11), yang mana mewakilkan dosa.
     Seorang yang disebut Naaman, seorang kusta dari kaum bukan Israel yang disembuhkan oleh Allah Israel, demikianlah dia mewakili orang yang berdosa, secara efektif pergi dengan kehidupan yang mati akan dosa. Dia diobati dengan menyelam di sungai Yordan. Secara inisial dia menemukan tindakan yang mudah tetapi sulit untuk diterima, berpikir bahwa Allah menginginkan ia melakukan tindakan yang dramatis, atau menenggelamkan dirinya dalam sebuah sebuah sungai yang besar dan terkenal, contohnya Abana. Kesamaannya, kita boleh melihat sangat sulit untuk percaya bahwa sesungguhnya suatu tindakan yang mudah dapat membawa keselamatan kita. Lebih menarik untuk berpikir bahwa pekerjaan kita sendiri dan kerjasama umum yang besar, yang diketahui gereja (sungai Abana) dapat menyelamatkan kita, lebih dari sekedar tindakan mudah ini akan kerjasama  dengan harapan yang benar akan Israel. Setelah menyelam dalam Yordan, tubuh Naaman “kembali seperti tubuh seorang bayi mungil, dan dia telah bersih” (2 Raj 5:9-14).
     Seharusnya terdapat sebuah ruangan kecil untuk ‘baptisan’ yang mengarah pada penyelaman penuh dalam air setelah pemahaman pertama akan pesan dasar dari Injil. Definisi dasar Alkitab akan baptisan ini bukanlah membuat referensi kepada status seseorang yang secara aktual melakukan baptisan secara fisik. Baptisan menjadi sebuah penyelaman di dalam air setelah percaya kepada Injil, secara teoritis dimungkinkan untuk membaptis sendiri. Bagaimanapun, karena baptisan hanyalah baptisan dengan alasan dari ajaran yang tepat yang mana berpegang pada waktu penyelaman, ini mengartikan sebaiknya dibaptis oleh orang percaya lainnya dengan ajaran yang benar, yang dapat memberikan semua pemahaman sebelum melakukan penyelaman terhadapnya.