Minggu, 21 Januari 2018

Pengertian Baptisan

Salah satu alasan akan baptisan selam adalah bahwa masuk ke bawah air adalah melambangkan kita masuk ke dalam kubur – menyatukan kita dengan kematian Kristus, dan mengindikasikan ‘kematian’ kita akan kehidupan kita sebelumnya terhadap dosa dan kebodohan. Keluar dari air menghubungkan kita dengan kebangkitan Kristus, menghubungkan kita pada harapan akan kebangkitan pada kehidupan kekal saat kedatanganNya, sebagaimana hidup dalam hidup baru saat ini, secara rohani berhasil mengatasi dosa pada kemenangan Kristus yang tercapai oleh kematian dan kebangkitanNya. 

“kita semua telah dibaptis di dalam Kristus dan dibaptis dalam kematianNya. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian kita akan berjalan (dalam kehidupan hari ini) dalam kehidupan yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematianNya (dengan baptisan), kita juga menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitanNya” (Roma 6:3-5).

      Karena keselamatan hanya dimungkinkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, adalah yang utama bahwa kita menyatukan diri kita dengan hal ini jika kita diselamatkan. Lambang kematian dan kebangkitan kembali dengan Kristus, yang melalui baptisan hanya inilah cara untuk melakukan hal ini. seharusnya tercatat bahwa pemercikan tidak memenuhi lambang ini. Pada baptisan “manusia lama kita (cara hidup) disalibkan” sebagaimana dengan Kristus di atas kayu salib (Rm 6:6). Allah “menghidupkan kita bersama Kristus” pada baptisan (Ef 2:5). Bagaimanapun, kita tetap memilki kodrat manusia setelah baptisan, dan oleh karena itu cara-cara hidup kedagingan tetap akan muncul. ‘penyaliban’ akan kedagingan kita oleh karena sebuah proses berjalan yang hanya bermula saat baptisan, Yesus mengatakan kepada orang percaya untuk memikul salibnya setiap hari dan mengikut Dia, sebagaimana dalam perjalanan menuju Kalvari (Luk 9:23; 14:27). Sementara hidup yang benar tersalibkan bersama Kristus tidaklah mudah, di sana terdapat penghiburan dan kegirangan yang tak terkatakan melalui penyatuan dengan kebangkitanNya.

     Kristus membawa “damai melalui darahNya di kayub salib” (Kol1:20) – “damai sejahtera dari Allah, yang melampaui segala pikiran” (Flp 4:7). Akan hal ini Yesus berjanji: “damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahteraKu Kuberikan padamu: tidak seperti dunia memberikan damai, Aku memberikannya kepadamu” (Yoh 14:27). damai dan kegembiraan rohani yang benar ini melebihi sakit dan kesulitan yang secara terbuka menyatukan diri kita dengan penyaliban Kristus. “sebagaimana kesengsaraan Kristus melingkupi kami, demikian juga penghiburan yang berlimpah-limpah oleh Kristus” (2 Kor 1:5).

     Di sana juga ada kebebasan yang datang dari mengetahui bahwa sifat dasar kita sesungguhnya sudah mati, dan oleh karenanya Yesus secara aktif melalui setiap rintangan kita. Rasul besar Paulus berbicara dari pengalaman pribadinya akan hal ini. “namun aku hidup, tetapi bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang mengasihi dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Gal 2:20).

     “kiasan baptisan juga menyelamatkan kita sekarang... oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Ptr 3:21) karenba persekutuan kita dengan kebangkitan Kristus akan kehidupan kekal yang diberikan kepada kita yang sama pada saat kedatanganNya kembali. Dengan mengambil bagian dalam kebangkitanNya, maka akhirnya kita diselamatkan. Yesus menyatakan hal ini dalam kalimat yang sederhana: “Karena Aku hidup, maka kalian akan hidup juga” (Yoh 14:19). Pauluspun demikian: “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya... kita akan diselamatkan oleh hidupNya” (kebangkitan; Rm 5:10).

     Lebih lagi waktu yang ditekankan bahwa oleh persekutuan kita dengan kematian dan penderitaan Kristus dalam baptisan, dan juga cara hidup kita, kita akan dengan pasti berbagi di dalam kemuliaan kebangkitanNya:

     “jika kita mati dengan (kristus), kita juga akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita juga akan memerintah dengan Dia” (2 Tim 2:11,12).

     “senantiasa membawa dalam tubuh akan kematian Tuhan Yesus, sehingga kehidupan Yesus boleh dinyatakan dalam tubuh kita... mengetahui bahwa Ia yang membangkitkan Tuhan Yesus akan membangkitkan kita juga oleh Yesus” (2 Kor 4:10,11,14).

     Paulus berbagi dalam “persekutuan akan penderitaan (Kristus), terjadi (oleh pengalaman hidupnya yang keras) memenuhi sampai kematiannya; jika oleh karena segala sesuatu aku boleh bermegah kepada kebangkitan akan hidup yang kekal sebagaimana yang dialami oleh Kristus” (Flp 3:10,11; Gal 6:14).

Rabu, 17 Agustus 2016

Kumpulan Kotbah dari pendeta Freddy Riva

Kumpulan Kotbah (MP3)  dari Pendeta Freddy Riva
update 20160826



  1. Membangun Rumah diatas dasar yang kokoh


Bagaimana Seharusnya Kita Dibaptis?

Terdapat pandangan secara luas yang melihat bahwa baptisan dapat ditampilkan, khususnya pada bayi, dengan percikan air ke atas kepalanya (‘mengkristenkan’). Ini sangat bertolak dengan prinsip alkitabiah tentang baptisan.

     Bahasa Yunani kata ‘baptizo’ yang diterjemahkan ‘baptise’ dalam Alkitab bahasa Inggris, bukanlah berarti memercik, ini mengartikan secara lengkap mencuci dan membenamkan ke dalam air (lihat definisi pada konkordansi dari Robert Young dan James Strong). Kata ini digunakan dalam bahasa Yunani klasik mengenai kapal yang kandas dan menjadi ‘dibaptis’ (tenggelam) dalam air, atau ember yang dicelupkan ke dalam air. Ini juga digunakan dengan referensi untuk pakaian yang diganti warnanya dengan baptisan, atau menenggelamkan sampai tercelup. Untuk mengganti warna dari pakaian itu, ini bukti bahwa membaptis itu haruslah ditenggelamkan secara penuh ke dalam air, daripada sekedar percikan ke atasnya. Yoh 13:26 menggunakan bahasa Yunani bapto untuk menggambarkan bagaimana Tuhan mencelupkan roti ke dalam anggur. Penyelaman sesungguhnya bentuk yang tepat untuk baptisan yang terambil dari ayat-ayat berikut:
Hasil gambar untuk baptizo
·        “Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab banyak air di situ, dan orang-orang datang untuk dibaptis” (Yoh 3:23). Ini menunjukkan bahwa “banyak air” yang dianjurkan untuk baptisan; jika ini dilakukan dengan pemercikan sedikit air, maka hanya satu ember saja yang harus disediakan untuk ratusan orang. Orang-orang datang tertuju pada tengah-tengah sungai Yordan untuk baptisan, daripada sekedar Yohanes pergi berkeliling kepada mereka dengan membawa sebotol air.
Hasil gambar untuk baptizo
·        Yesus juga, dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan – ke Yordan (Mrk 1:9). “Yesus setelah Ia dibaptis, keluar dari air” (Mat 3:13-16) baptisanNya secara jelas dengan selam – Dia “keluar dari air” setelah baptisan. Satu dari banyak alasan Yesus dibaptis adalah dengan maksud untuk menjadi contoh, dengan begitu tidak seorangpun dapat mengklaim mengikut Yesus secara serius tanpa meniru contoh Dia akan baptisan secara selam.

·        Dalam hal yang sama, Filipus dan sida-sida Etiopia “keduanya turun ke dalam air... dan dia membaptisnya, dan ketika mereka keluar dari dalam air...” (Kis 8:38,39). Ingatlah bahwa sida-sida itu meminta baptisan ketika ia melihat oasis: “lihat, di sini ada air: apa yang menghalangiku untuk dibaptis?” (Kis 8:36). Hampir dipastikan bahwa orang itu tidak akan mau melakukan perjalanan di padang gurun tanpa setidaknya sedikit air padanya, misalnya dalam sebuah botol. Jika baptisan dengan percikan, hal itu dapat dilakukan tanpa memerlukan oasis.
Hasil gambar untuk sida sida etiopia
·        Baptisan adalah penguburan (Kol 2:12), yang mau diimplikasikan tertutup total.

·        Baptisan disebut ‘penyucian’ akan dosa-dosa (Kis 22:16). Inti dari pengajaran yang benar adalah seperti halnya ‘menyucikan’ dalam Why 1:5; Tit 3:5; 2 Ptr 2:22; Ibr 10:22, dll. Bahasa menyucikan ini lebih tepat kepada baptisan selam daripada memercik.

Terdapa beberapa indikasi Perjanjian Lama bahwa dapat diterima mendekat kepada Allah melalui bentuk dari penyucian.

     Imam-imam harus mencuci secara penuh dalam sebuah kolam yang disebiut ‘Laver’ sebelum mereka datang mendekat Allah dalam pelayanan (Im 8:6; Kel 40:32). Umat Israel harus disucikan dengan maksud pembersihan diri mereka dari pastinya hal-hal yang tidak bersih (contoh Ul 23:11), yang mana mewakilkan dosa.
     Seorang yang disebut Naaman, seorang kusta dari kaum bukan Israel yang disembuhkan oleh Allah Israel, demikianlah dia mewakili orang yang berdosa, secara efektif pergi dengan kehidupan yang mati akan dosa. Dia diobati dengan menyelam di sungai Yordan. Secara inisial dia menemukan tindakan yang mudah tetapi sulit untuk diterima, berpikir bahwa Allah menginginkan ia melakukan tindakan yang dramatis, atau menenggelamkan dirinya dalam sebuah sebuah sungai yang besar dan terkenal, contohnya Abana. Kesamaannya, kita boleh melihat sangat sulit untuk percaya bahwa sesungguhnya suatu tindakan yang mudah dapat membawa keselamatan kita. Lebih menarik untuk berpikir bahwa pekerjaan kita sendiri dan kerjasama umum yang besar, yang diketahui gereja (sungai Abana) dapat menyelamatkan kita, lebih dari sekedar tindakan mudah ini akan kerjasama  dengan harapan yang benar akan Israel. Setelah menyelam dalam Yordan, tubuh Naaman “kembali seperti tubuh seorang bayi mungil, dan dia telah bersih” (2 Raj 5:9-14).
     Seharusnya terdapat sebuah ruangan kecil untuk ‘baptisan’ yang mengarah pada penyelaman penuh dalam air setelah pemahaman pertama akan pesan dasar dari Injil. Definisi dasar Alkitab akan baptisan ini bukanlah membuat referensi kepada status seseorang yang secara aktual melakukan baptisan secara fisik. Baptisan menjadi sebuah penyelaman di dalam air setelah percaya kepada Injil, secara teoritis dimungkinkan untuk membaptis sendiri. Bagaimanapun, karena baptisan hanyalah baptisan dengan alasan dari ajaran yang tepat yang mana berpegang pada waktu penyelaman, ini mengartikan sebaiknya dibaptis oleh orang percaya lainnya dengan ajaran yang benar, yang dapat memberikan semua pemahaman sebelum melakukan penyelaman terhadapnya.