Rabu, 18 Januari 2012

Iblis dan setan dalam pengertian Alkitab

Adakalanya kata-kata di dalam Alkitab tidak diterjemahkan dan tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya (contoh, “Mammon” dalam bahasa Aramaik di Mat. 6:24). Kata “setan” berasal dari kata Ibrani yang tidak dapat diterjemahkan, yang mempunyai arti “musuh.” Sedangkan kata “iblis” diterjemahkan dari bahasa Yunani “diabolos”, yang mempunyai arti pendusta, musuh, atau pemfitnah. Jika kita percaya bahwa setan dan iblis adalah sesuatu yang berada di luar diri kita, yang bertanggungjawab atas dosa, maka dimanapun kita menemukan kata-kata tersebut di dalam Alkitab, kita akan mengartikan kata tersebut sebagai suatu pribadi yang jahat. Penggunaan kata-kata tersebut di dalam Alkitab menunjukkan bahwa kata-kata tersebut digunakan untuk menjelaskan sifat yang terdapat di dalam diri manusia. Karena itu kata iblis dan setan yang terdapat di dalam Alkitab tidak menunjuk kepada suatu pribadi yang jahat, yang berada di luar diri kita.

Kata “setan” di dalam Alkitab

I Raja-raja 11:14 mencatat, “Tuhan membangkitkan seorang ”lawan” (kata Ibrani yang juga diterjemahkan sebagai “setan”) Salomo, yakni Hadad, orang Edom.” “Allah membangkitkan pula seorang “lawan” (dari kata yang sama)…yakni Rezon…Dialah yang menjadi “lawan” (setan) Israel” (I Raj. 11:23,25). Ayat-ayat ini tidak mengartikan bahwa Allah membangkitkan suatu makhluk supranatural atau seorang malaikat, untuk menjadi setan/musuh bagi Salomo; ia hanya membangkitkan sifat jahat yang terdapat di dalam diri manusia. Matius 16:22,23 memberikan contoh yang lain sehubungan dengan hal ini; ketika Petrus berusaha menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem untuk mati di kayu salib. Yesus berbalik dan mengatakan kepada Petrus, “Enyahlah Iblis…sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Karena itu Petrus disebut sebagai setan. Catatan tersebut dengan jelas mengatakan bahwa Yesus tidak sedang berbicara kepada seorang malaikat atau suatu makhluk yang mengerikan, ketika ia mengucapkan kata-kata itu, tetapi ia sedang berbicara dengan Petrus.

Karena kata “setan” mempunyai arti; musuh, orang baik, bahkan Allah juga dapat disebut “setan.” Pada intinya, kata tersebut sama sekali tidak mengartikan sesuatu yang penuh dengan dosa. Konotasi dari penuh dengan dosa, yaitu kata ”setan”, menjelaskan tentang keadaan kita yang sebenarnya yang penuh dengan dosa, yang merupakan musuh terbesar kita, yaitu setan; dan penggunannya di dalam kalimat menunjuk kepada sesuatu yang berhubungan dengan dosa. Allah juga dapat disebut ''setan'' bagi kita, dalam pengertian bahwa Ia yang menyebabkan masalah-masalah di dalam kehidupan kita, atau memberikan jalan yang salah kepada kita sewaktu sedang mengahadapi masalah. Fakta bahwa Allah dapat disebut sebagai ''setan'' tidak mengartikan bahwa Ia penuh dengan dosa.

Di dalam buku Samuel dan Tawarikh, terdapat catatan yang berkaitan tentang suatu peristiwa yang sama. Seperti empat buku Injil yang mencatat peristiwa-peristiwa yang sama, dalam bahasa penulisan yang berbeda. II Samuel 24:1 mencatat, “Bangkitlah pula murka Tuhan terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka” agar ia menghitung bangsa Israel. Catatan mengenai peristiwa yang sama juga terdapat di I Tawarikh 21:1; ”Iblis bangkit melawan Israel dan membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” Pada ayat yang pertama dijelaskan bahwa Allah yang menghasut Daud, tetapi pada ayat kedua disebutkan bahwa setanlah yang melakukan hal itu. Kesimpulan dari hal ini adalah, Allah bertindak sebagai “setan” atau musuh bagi Daud. Ia juga melakukan hal yang sama kepada Ayub, dengan membawa sejumlah penderitaan ke dalam kehidupan Ayub. Karena itu Ayub berkata kepada Allah; “Engkau memusuhi aku dengan kekuatan tanganMu” (Ayub 30:21); sama dengan mengatakan, “Engkau bertindak sebagai setan dengan memusuhi aku.”


Kata “iblis” di dalam Alkitab

Begitu juga dengan kata “iblis”, Yesus mengatakan, “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang diantaramu adalah iblis. Yang dimaksudkannya ialah Yudas…” (Yoh. 6:70,71). Yaitu manusia biasa yang berkematian. Ia tidak berbicara tentang suatu pribadi yang memiliki tanduk, yang disebut “makhluk roh.” Kata “iblis” pada ayat ini menunjuk kepada sifat manusia yang jahat. I Timotius 3:11 memberikan contoh yang lain sehubungan dengan hal ini; istri dari penatua gereja haruslah bukan seorang “pemfitnah”, yang berasal dari kata Yunani “diabolos”, yang juga diterjemahkan menjadi “iblis.” Karena itu Paulus memperingatkan Titus agar perempuan-perempuan tua yang melayani bukanlah seorang “pemfitnah” atau “iblis” (Tit. 2:3). Dan ia juga mengatakan hal yang sama kepada Timotius (II Tim. 3:1,3); ”pada hari-hari terakhir...manusia akan...menjadi pemfitnah (iblis).” Hal ini tidak mengartikan bahwa manusia akan berubah bentuk menjadi makhluk super, tetapi mengartikan, bahwa mereka akan bertambah jahat. Dari semua penjelasan ini, sangat jelas sekali bahwa kata “iblis” dan “setan” tidak menunjuk kepada keberadaan dari Malaikat yang berdosa di luar diri kita.

Dosa, Setan, dan Iblis

Kata “setan” dan “iblis” digunakan dalam bentuk kiasan untuk menjelaskan kecenderungan secara alami melakukan dosa yang terdapat di dalam diri manusia. Inilah musuh atau “setan” yang sebenarnya. Selain disebut sebagai “iblis” atau musuh kita, mereka juga merupakan lambang dari pemfitnah kebenaran. Inilah sifat manusia yang sebenarnya, sangat jahat. Hubungan antara iblis dengan hasrat kita yang jahat adalah, sama-sama merupakan dosa di dalam diri kita. Yang sangat jelas terlihat di dalam beberapa ayat; ”Karena anak-anak itu (kita) adalah anak-anak dari darah dan daging, maka ia (Yesus) juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematiannya ia memusnahkan dia, yaitu iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibr. 2:14). Kata iblis pada ayat ini dijelaskan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kematian, tapi ”upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23). Oleh karena itu, dosa dan iblis pastilah berkaitan. Hal yang serupa juga terdapat di Yakobus 1:14, yang mengatakan bahwa hasrat kita yang jahatlah yang menggoda kita, dan menuntun kita untuk melakukan dosa, yang upahnya adalah kematian. Tetapi di Ibrani 2:14 dikatakan bahwa iblis yang menyebabkan kematian. Ayat yang sama juga mengatakan bahwa Yesus menjadi sama dengan manusia untuk membinasakan iblis. Bandingkan dengan Roma 8:3 yang mengatakan bahwa Allah ”mengutus anakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa.” Hal ini menunjukkan bahwa iblis dan kecenderungan untuk melakukan dosa adlah sifat alami yang terdapat di dalam diri manusia, yang bekerja dengan efektif pada waktu yang bersamaan. Sangat penting untuk dipahami, bahwa Yesus juga digoda seperti kita. Tidak memahami dengan benar doktrin tentang iblis, akan membuat kita tidak dapat menghargai dengan sepantasnya atas pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan. Karena Yesus menjadi sama dengan manusia, dimana ”iblis” berada di dalamnya, maka kita mempunyai harapan untuk diselamatkan (Ibr. 2:14-18; 4:15). Dengan mengatasi hasratnya yang alami, yaitu iblis, Yesus membinasakan iblis pada kayu salib (Ibr. 2:14). Jika betul iblis adalah suatu pribadi, maka ia tidak akan ada lagi, tetapi faktanya tidak demikian. Ibrani 9:26 mengatakan bahwa manifestasi Kristus adalah untuk ”menghapuskan dosa oleh korbannya.” Ibrani 2:14 membenarkan hal ini dengan menyatakan bahwa melalui kematiannya, Kristus membinasakan iblis yang berada di dalam dirinya. Melalui kematiannya, Yesus bertujuan untuk membinasakan ”tubuh dosa” (Rm. 6:6), yaitu sifat manusia, yang dalam berbagai macam keinginan dagingnya menimbulkan dosa.

”Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari iblis” (I Yoh. 3:8), karena dosa adalah hasil dari menuruti keinginan-keinginan kita yang jahat (Yoh. 1:14,15), yang disebut Alkitab sebagai ”iblis.” ”Untuk inilah anak Allah menyatakan dirinya, yaitu supaya ia membinasakan perbuatan-perbuatan iblis itu” (I Yoh. 3:8). Jika benar bahwa iblis adalah segala hasrat kita yang jahat, maka dengan menuruti hasrat kita yang jahat, berarti kita melakukan dosa. Hal ini dibenarkan I Yohanes 3:5; ”Ia telah menyatakan dirinya supaya ia menghapus segala dosa” dan membenarkan bahwa ”dosa-dosa” kita sama dengan ”pekerjaan-pekerjaan iblis.” Kisah para Rasul 5:3 memberikan bukti yang lain tentang hubungan antara dosa-dosa kita dengan iblis; Petrus berkata kepada Ananias: ”mengapa hatimu dikuasai iblis?” Kemudian di ayat 4 Petrus mengatakan ”Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu di dalam hatimu?” Merencanakan sesuatu yang jahat di dalam hati kita disamakan dengan iblis menguasai hati kita. Jika kita merencanakan sesuatu, misalnya rencana jahat, maka hal itu dimulai dari dalam diri kita. Jika seorang wanita berencana untuk mempunyai seorang anak, hal tersebut tidak terjadi di luar dirinya, tetapi dari dalam dirinya. Yakobus 1:14,15 menggunakan gambaran yang sama untuk menjelaskan bagaimana rancangan kita yang penuh dengan hawa nafsu yang membawa kita ke dalam dosa, dan menuntun kita pada kematian. Mazmur 109:6 mengkaitkan seseorang yang berdosa dengan ”setan”; ”Angkatlah seorang fasik atas dia, dan biarlah seorang pendakwa (setan) berdiri di sebelah kanannya”, yaitu kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri (bandingkan ayat 31).

Personifikasi

Sebagai tanggapan, mungkin anda akan mengatakan; ”Tetapi hal itu berbicara dalam pengertian jika iblis adalah suatu pribadi.” Memang betul, Ibrani 2:14 mengatakan ”yaitu iblis yang berkuasa atas maut. Jika kita membaca beberapa bagian saja dari Alkitab, kita akan mengetahui bahwa bahasa personifikasi sering kali digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak seperti menjelaskan suatu pribadi. Seperti yang terdapat di Amsal 9:1, yang berbicara tentang wanita yang disebut ”hikmat”, yang mendirikan sebuah rumah. Dan Roma 6:23 yang menyamakan kematian dengan alat pembayaran, yaitu sebagai upah dari dosa.. Iblis yang ada di dalam diri kita ”diabolos”, seringkali menjadi gambaran dari hasrat kita yang jahat. Tetapi tidak dapat diartikan secara abstrak. Karena hasrat yang jahat yang terdapat di dalam hati kita, bukanlah suatu bagian yang terpisah dari diri kita. Oleh karena itu kata ”iblis” adalah bahasa personifikasi. Begitu juga dengan dosa, yang sering dipersonifikasikan sebagai tuan (Rm. 5:21; 6:6,17; 7:3). Dengan mengingat bahwa kata ”iblis” juga menunjuk kepada dosa, maka dapat dipahami bahwa kata ”iblis” dipersonifikasikan. Karena dengan cara yang sama Paulus mengatakan bahwa kita mempunyai dua kehidupan, jasmani dan rohani (Rm. 7:15-21); tubuh jasmani; yaitu ”iblis” melawan tubuh rohani. Jelas sekali hal ini tidak dapat diartikan secara harfiah, bahwa ada dua pribadi yang berseteru di dalam tubuh kita. Bagian yang penuh dosa dari diri kita dipersonifikasikan sebagai ”yang jahat”(Mat. 6:13) yaitu iblis. Ungkapan Yunani yang diterjemahkan sebagai ”yang jahat” di dalam I Korintus 5:13 diterjemahkan menjadi ”orang yang melakukan kejahatan”, hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang memberikan jalan kepada dosa, bagian dari dirinya ”yang jahat” atau ia sendiri, menjadi ”iblis” atau orang ”yang jahat.”

Kata ”Iblis” dan ”Setan” dalam Konteks Politik

Kata ”iblis” dan ”setan” juga digunakan untuk menggambarkan kejahatan dari dunia yang penuh dengan dosa, tempat dimana kita hidup. Sosial, politik, agama-agama palsu, dan sistem pemerintahan manusia, dapat disebut dengan satu istilah, yaitu ”iblis.” Dalam Perjanjian Baru, iblis dan setan seringkali menunjuk kepada kuasa dari sistem politik dan sosial dari orang-orang Yahudi atau Roma. Karena itu tertulis bahwa iblis dilemparkan ke dalam penjara (Why. 2:10), yang menunjuk kepada kekuasaan Roma yang telah menindas orang-orang yang percaya. Dalam konteks yang sama, tertulis bahwa gereja di Pergamus terletak di takhta iblis. Hal ini tidak mengartikan bahwa setan yang duduk di takhta itu. Pergamus adalah daerah koloni Roma yang dipimpin oleh seorang Gubernur, dimana terdapat komunitas dari orang-orang yang percaya.

Dosa pribadi dijelaskan sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah (I Yoh. 3:4). Tetapi, kadang-kadang dosa yang ditunjukkan secara bersama-sama melalui kekuatan politik dan sosial yang menentang Allah, juga dipersonifikasikan sebagai Iblis. Dengan cara seperti inilah, seringkali kata ”iblis” dan ”setan” digunakan di dalam Alkitab.

Sebagai kesimpulan, mungkin benar jika dikatakan, bahwa pembahasan tentang hal ini lebih penting dari yang lain. Karena penting sekali untuk melandasi pemahaman kita dengan pandangan yang selaras dengan seluruh isi Alkitab, daripada membuat sesuatu doktrin yang hanya didasari atas beberapa ayat, dimana terdapat kata-kata tersebut, yang mendukung kepercayaan yang pada umumnya diakui sehubungan dengan Iblis. Satu-satunya jalan dalam menyampaikan doktrin ini dengan penguraian yang lebih dalam, tujuannya ialah agar anda dapat memiliki pemahaman berdasarkan semua ayat yang menunjuk kepada iblis dan setan. 
Kata-kata tersebut dapat digunakan sebagai kata sifat, atau sesuatu yang menunjuk kepada dosa yang terdapat di dalam diri manusia

Selasa, 10 Januari 2012

Dosa adalah perbuatan Iblis ?

Banyak agama-agama dan sekte-sekte Kristen mempercayai keberadaan dari makhluk yang mengerikan, yang disebut Iblis atau Setan. Yang menjadi penyebab dari berbagai masalah di dunia ini termasuk masalah-masalah yang kita hadapi dalam kehidupan kita dan yang bertanggungjawab atas dosa yang kita perbuat. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Allah sangat berkuasa, dan seperti yangh kita ketahui bahwa, para malaikat tidak berdosa. Berdasarkan hal-hal ini, maka jika kita mempercayai keberadaan makhluk yang mengerikan itu, sama dengan kita mempertanyakan kekuasaan Allah. Begitu pentingnya masalah ini, sehingga kita perlu memahami dengan benar doktrin tentang Iblis atau Setan. Ibrani 2:14 mengatakan bahwa Yesus membinasakan Iblis melalui kematiannya, karena itu, kita tidak dapat memahami pekerjaan Yesus yang sebenarnya kecuali kita memiliki pemahaman yang benar tentang Iblis.

Pada umunya di dunia ini, khususnya mereka yang disebut “orang Kristen” mempercayai gagasan bahwa kebaikan berasal dari Allah dan kejahatan berasal dari Iblis atau Setan. Ini bukanlah suatu gagasan yang baru, dan tidak hanya terdapat di dalam Kekristenan yang murtad. Sebagai contoh; orang-orang Babilon mempercayai keberadaan dua dewa, dewa terang dan kebaikan; dan dewa kegelapan dan kejahatan, mereka berdua terlibat dalam perseteruan. Kores, Raja Persia, mempercayai hal ini. Karena itu Allah berkata kepadanya, “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah…yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini” (Yes. 45:5-7,22). Allah menciptakan nasib mujur atau kebaikan dan juga menciptakan nasib malang atau bencana. Berdasarkan ayat ini, Allah adalah penyebab, pencipta “nasib malang.” Dalam pengertian ini, ada perbedaan antara “nasib malang” atau bencana, dengan dosa, yang adalah kesalahan manusia; yang masuk ke dalam dunia sebagai akibat dari perbuatan manusia, bukan Allah (Rm. 5:12).

Allah berkata kepada Kores dan orang-orang di Babilon, ”Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.” Kata Ibrani “el” yang diterjemahkan menjadi “Allah” mempunyai arti “kuasa” atau “sumber kuasa.” Allah mengatakan bahwa tidak ada sumber kuasa selain dari diriNya. Inilah alasannya mengapa orang-orang percaya yang benar di dalam Allah tidak dapat menerima gagasan tentang hal-hal gaib yang berhubungan dengan Iblis atau roh-roh jahat.

Allah: Penyebab ''Malapetaka''

Alkitab penuh dengan contoh-contoh yang menjelaskan tentang Allah sebagai penyebab dari “malapetaka” atas manusia dan dunia ini. Amos 3:6 mengatakan bahwa jika ada malapetaka di dalam suatu kota, pasti Allah yang melakukannya. Sebagai contoh, jika terjadi gempa bumi di suatu kota. Banyak orang yang menyangka “Iblis” yang menyebabkannya, sehingga malapetaka itu terjadi. Setiap orang percaya yang benar harus memahami, bahwa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kejadian itu adalah Allah, karena itu Mikha 1:12 mengatakan, bahwa “malapetaka turun dari pada Tuhan sampai ke pintu gerbang Yerusalem.” Di dalam buku Ayub dikatakan bahwa Ayub adalah orang yang benar, yang kehilangan banyak hal di dalam kehidupannya. Buku itu memberitahukan bahwa pengalaman “buruk” dalam kehidupan seseorang tidak ada hubungannya dengan ketaatan atau ketidaktaatan seseorang kepada Allah. Ayub menyadari, bahwa Tuhan yang memberi dan, Tuhan yang mengambil” (Ayub 1:21). Ia tidak mengatakan “Allah yang memberi, dan Setan yang mengambil.” Ia berkata kepada istrinya; “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Pada akhir buku itu, sahabat-sahabat Ayub “menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya” (Ayub 42:11 bandingkan 19:21; 8:4). Karena itu, Allah adalah sumber dari “kejahatan”, dalam pengertian bahwa Ia menghendaki berbagai masalah terjadi di dalam kehidupan kita.

“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihinya…Jika kamu harus menanggung ganjaran…tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibr. 12:6-11), ayat ini menunjukkan bahwa masalah-masalah yang diberikan Allah kepada kita, akan membuat kerohanian kita bertumbuh. Akan bertentangan dengan firman Allah jika dikatakan bahwa Iblislah yang membuat kita berdosa dan menjadi orang yang tidak benar, yang pada waktu bersamaan ia juga dianggap sebagai penyebab dari masalah-masalah yang kita alami, yang “menghasilkan buah kebenaran.” Hal ini menentang Gagasan dari Kristen Ortodoks, khususnya pada ayat-ayat yang mereka yakini tentang penyerahan manusia kepada Iblis, “agar rohnya diselamatkan” atau “supaya jera mereka menghujat” (I Kor. 5:5; I Tim. 1:20).

Jika Setan adalah penyebab yang sebenarnya atas dosa-dosa manusia, yang dampak negatifnya juga dirasakan oleh orang lain. Mengapa ayat-ayat ini berbicara tentang “Setan” sebagai kegelapan yang dapat mengasilkan hal yang baik? Jawabannya terletak pada fakta bahwa musuh, “Setan” atau masalah dalam kehidupan, seringkali dapat menghasilkan pertumbuhan rohani yang baik bagi orang-orang percaya yang benar.

Jika kita menerima bahwa ''kejahatan'' berasal dari Allah, maka kita dapat berdoa kepada Allah agar melakukan sesuatu terhadap masalah-masalah yang kita hadapi, misalnya memohon kepada Dia supaya menjauhkan hal itu dari kita. Jika Ia tidak mengabulkannya, maka kita harus tahu bahwa masalah-masalah yang kita hadapi adalah demi kebaikan pertumbuhan rohani kita. Yang dianggap sebagai nasib buruk adalah, cacat jasmani, penyakit, kematian mendadak atau musibah. Jika Iblis adalah malaikat berdosa yang sangat kuat, jauh lebih kuat daripada kita;maka, ia dapat mengendalikan kita, dan kita tidak punya pilihan lain, selain menderita di tangannya. Tetapi jika kita berada dibawah pengaturan Allah, maka “segala sesuatu (yang terjadi dalam kehidupan) untuk mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28). Oleh karena itu tidak ada kata “mujur” di dalam hidup orang-orang yang percaya.

Sumber dari Dosa

Harus ditekankan, bahwa dosa berasal dari diri kita sendiri. Karena kesalahan kitalah, maka kita berdosa. Tentu saja, lebih mudah untuk mempercayai bahwa bukanlah kesalahan kita sendiri, sehingga kita berdosa. Kita bebas melakukan dosa, dan setelah itu memaafkan diri kita sendiri dengan berpikir bahwa hal itu terjadi karena disebabkan oleh Iblis, dan menyalahkan sepenuhnya kepadanya atas segala dosa-dosa yang kita perbuat. Sangat aneh jika dalam kasus-kasus yang nyata tentang kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, orang yang bersalah memohon pengampunan dan mengatakan bahwa pada saat kejadian itu ia berada dibawah kuasa Iblis, sehingga tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan. Pernyataan-pernyataan yang tidak mempunyai bukti yang kuat seperti itu akan dihakimi tanpa ada penghalang sama sekali, dan hukuman akan dijatuhkan ke atas orang itu.

Kita harus ingat bahwa ”upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23); dosa menuntun kita kepada kematian. Jika bukan karena kesalahan kita sendiri sehingga kita berdosa, maka Allah seharusnya menghukum Iblis daripada menghukum kita. Tetapi faktanya adalah bahwa kita akan dihakimi karena dosa-dosa kita, yang menunjukkan bahwa kita bertanggungjawab atas dosa-dosa kita. Menciptakan Gagasan tentang keberadaan Iblis sebagai suatu pribadi, dan prinsip bahwa dosa bukan berasal dari kita; adalah usaha untuk menghindar dari pertanggungjawaban atas dosa-dosa yang kita perbuat. Dan merupakan contoh dari orang-orang yang menolak untuk mengakui ajaran Alkitab tentang keadaan manusia yang sebenarnya, yaitu penuh dengan dosa.

”Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya...Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan...kesombongan, kekebalan. Semua hal-hal ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk. 7:15-23).

Gagasan tentang sesuatu makhluk yang berdosa yang dapat masuk ke dalam diri kita, sehingga kita melakukan dosa; bertentangan dengan ajaran Yesus yang sangat jelas pada ayat-ayat diatas. ”Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat.” Inilah sebabnya mengapa pada waktu peristiwa air bah Allah mempertimbangkan manusia dengan hal ini, ”sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat sejak kecilnya” (Kej. 8:21). Yakobus 1:14 memberitahukan bagaimana sehingga kita dapat tergoda; ”Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Kita tergoda oleh karena keinginan kita, hasrat kita yang jahat, bukan oleh suatu pengaruh dari luar diri kita. ”Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu?” ”Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” (Yak. 4:1). Setiap orang mengalami godaan yang berbeda-beda, yang dibangkitkan oleh hasrat mereka yang jahat, yang sudah menjadi kepribadian manusia. Memang benar pernyataan bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.

Buku Roma penuh dengan penjelasan tentang dosa, asalnya, dan bagaimana mengatasinya. Penting sekali untuk mengetahui bahwa di dalam buku itu Iblis atau Setan, hampir tidak pernah disebutkan. Dan dalam konteks tentang awal mula dosa, Paulus tidak menyebutkan Iblis atau Setan. Dengan cara yang sama, kata ”Iblis” digunakan di dalam Perjanjian Baru sebagai suatu konsep untuk menjelaskan tentang dosa. Jika ada sesuatu dari luar tubuh kita yang dapat membuat kita berdosa, pastilah akan dijelaskan secara luas hingga di Perjanjian Lama. Tetapi hal-hal tersebut tidak pernah dijelaskan sama sekali. Catatan dari masa pemerintahan Hakim-hakim, atau mengenai perjalanan bangsa Israel di padang gurun, menunjukkan bahwa pada masa itu Israel berdosa atas suatu perjanjian yang besar. Tetapi Allah tidak memperingatkan mereka tentang keberadaan dari sesuatu kekuatan supranatural yang dapat masuk ke dalam tubuh mereka dan membuat mereka berdosa. Sebaliknya, Ia menganjurkan mereka untuk menerapkan firmanNya agar mereka tidak jatuh ke dalam keinginan daging mereka (Ul. 27:9,10; Yos. 22:5).

Paulus meratapi dirinya dengan berkata, ”di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik...aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku” (Rm. 7:18-21). Ia tidak menyalahkan dosa-dosa yang ia lakukan kepada sesuatu yang disebut Iblis. Ia menunjukkan bahwa sifat jahat yang ada di dalam dirinya adalah sumber dari dosa yang sesungguhnya; ”maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” Setiap orang yang bijaksana yang mempunyai pandangan rohani yang baik akan berpendapat sama tentang pengetahuan ini. Perlu dicatat, bahwa Paulus setelah menjadi pengikut Kristus tidak mengalami perubahan apapun atas dirinya yang dapat membuat ia menjadi tidak berdosa atau tidak dapat melakukan dosa lagi. Gerakan ”Evangelis” modern mengklaim hal yang sebaliknya; dengan demikian mereka telah menempatkan Paulus dalam daftar dari orang-orang yang tidak ”diselamatkan” sehubungan dengan pernyataan Paulus di Roma 7:15-21, dimana terdapat ayat-ayat yang merupakan bukti untuk menentang klaim mereka. Begitu juga dengan Daud, yang tidak diragukan lagi sebagai orang yang benar. Ia juga mengakui dosa-dosa yang terdapat di dalam dirinya; ”Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (Mzm. 51:5).

Penjelasan di dalam Alkitab tentang sifat manusia yang sebenarnya, sangat jelas sekali. Yaitu, secara umum mereka penuh dengan kejahatan. Jika hal ini dapat diterima, maka tidak perlu menciptakan suatu bayangan dari seseorang yang berada di luar alam manusia yang bertanggung atas dosa-dosa kita. Yeremia 17:19 mengatakan bahwa hati manusia sangat licik, dan karena begitu licik, kita tidak dapat mengetahuinya. Di Matius 7:11 Yesus juga menilai bahwa sifat manusia pada dasarnya adalah jahat. Kata-kata di Pengkhotbah 9:3 tidak dapat disangkal lagi; ”Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan. Efesus 4:18 memberikan alasan mengapa sifat manusia dapat menjauhkan dirinya dengan Allah, yang disebabkan ”karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Karena buta secara rohani dan memiliki hati nurani yang suka membangkang, maka jalan pikiran kita menjadi jauh dari Allah. Sehubungan dengan hal ini Galatia 5:19 berbicara tentang dosa kita sebagai ”Perbuatan daging”; karena tubuh kita sendiri yang menyebabkan kita berbuat dosa. Tidak satupun dari ayat-ayat ini menjelaskan bahwa dosa berasal dari Iblis yang membawanya ke dalam diri kita. Kecenderungan untuk berbuat dosa memang sudah ada di dalam diri kita sejak kita dilahirkan, yang sudah menjadi suatu bagian yang pokok di dalam diri manusia.

Kamis, 15 Desember 2011

Pemerintahan 1000 Tahun

“Apakah gambaran tentang kehidupan di dalam Kerajaan Allah ini sama dengan kehidupan sebelumnya?” Orang-orang di dalam Kerajaan tetap akan melahirkan bayi-bayi (Yes. 65:23) bahkan mati (Yes. 65:20). Orang-orang tetap akan berselisih selagi Kristus memerintah (Yes. 2:4), dan tetap harus bekerja untuk bertahan hidup. Walaupun begitu, kali ini keadaannya lebih mudah daripada sebelumnya. Semua hal ini nampak jauh berbeda dari janji-janji bahwa orang-orang benar akan menerima kehidupan abadi, dan akan dirubah ke dalam keadaan yang sama dengan Allah, serupa dengan malaikat, yang tidak kawin atau melahirkan (Luk. 20:35,36). Jawabannya terletak pada fakta bahwa bagian pertama dari Kerajaan Allah akan berlangsung selama 1000 tahun, Kerajaan 1000 tahun (lihat Wahyu 20:2-7). Selama masa pemerintahan 1000 tahun ini, ada dua kelompok dari manusia yang akan hidup di bumi:

Orang-orang kudus, mereka yang mengikuti Kristus dengan sepenuhnya selama mereka hidup, yang akan dikaruniakan kehidupan abadi pada saat penghakiman. Catat, kata “orang kudus” mempunyai arti “orang yang terpanggil,” yang menunjuk kepada setiap orang percaya yang benar.

Orang-orang biasa, orang-orang yang berkematian, yang tidak mengetahui Injil pada saat kedatangan Kristus, mereka tidak bertanggung jawab di hadapan penghakiman.

Ketika Kristus datang, kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa (kepada penghakiman) dan yang lain akan ditinggalkan (Luk. 17:36); mereka yang “ditinggalkan” adalah kelompok yang kedua.

Karena diubah ke dalam alam yang sama dengan Allah pada waktu penghakiman, maka orang-orang kudus tidak akan mati atau melahirkan anak-anak. Penjelasan tentang orang-orang yang mengalami hal-hal sebaliknya dari ini, pastilah menunjuk kepada kelompok yang kedua, yaitu mereka yang hidup pada saat kedatangan Kristus, tetapi tidak mengetahui persyaratan dari Allah. Upah bagi orang-orang yang benar adalah menjadi raja dan imam yang akan memerintah bumi (Why. 5:10). Karena seorang raja memerintah atas seseorang, maka orang-orang yang tidak mengetahui Injil pada saat kedatangan Kristus yang kedua akan dibiarkan hidup untuk diperintah. Dengan berada “di dalam Kristus” maka kita juga menerima upah yang diberikan kepadanya, yaitu menjadi raja di dunia; “barangsiapa menang…kepadanya akan kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah dengan tongkat besi…sama seperti yang kuterima dari BapaKu” (Why. 2:26,27).

Sekarang perumpamaan Kristus tentang uang mina dapat ditafsirkan; hamba yang baik akan diupahi lima atau sepuluh kota untuk diperintah di dalam Kerajaan (Luk. 19:12-19). Pengetahuan tentang jalan-jalan Allah tidak akan menyebar secepatnya setelah Kristus dinyatakan sebagai Raja di Yerusalem. Orang-orang akan berjalan menuju Yerusalem untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah (Yes. 2:2,3). Seperti gunung di Daniel 2:35,44 (yang melambangkan Kerajaan Allah) yang berangsur-angsur menyebar ke seluruh bumi. Oleh karena itu adalah tugas bagi orang-orang kudus untuk menyebarkan pengetahuan tentang Allah dan KerajaanNya.

Ketika Israel masih menjadi Kerajaan Allah, tugas para imam adalah mengajarkan pengetahuan tentang Allah (Mal. 2:5-7). Untuk tujuan ini, mereka ditempatkan di berbagai kota di Israel. Pada waktu Kerajaan akan didirikan kembali, orang-orang kudus akan mengambil alih tugas para imam (Why. 5:10).

Jika Kristus datang pada saat ini;

Orang-orang mati yang bertanggungjawab akan dibangkitkan, bersama dengan mereka yang bertanggungjawab yang masih hidup, mereka akan dibawa ke hadapan penghakiman.

Orang-orang jahat yang bertanggungjawab kepada penghakiman akan dihukum mati, dan orang-orang yang benar akan dikaruniai kehidupan abadi. Bangsa-bangsa yang menolak Kristus juga akan dihakimi.

Orang-orang benar akan memerintah atas orang-orang yang hidup kemudian, yang tidak bertanggungjawab kepada Allah. Orang-orang benar akan mengajarkan mereka Injil sebagai ”Raja dan Imam” (Why. 5:10).

Hal ini akan berlangsung selama 1000 tahun. Oleh karena itu orang-orang yang tidak abadi yang dalam masa ini mempelajari pengetahuan tentang Allah akan bertanggungjawab kepada Allah. Orang-orang ini akan hidup lebih lama dan bahagia.

Pada akhir pemerintahan 1000 tahun akan ada pemberontakkan melawan Kristus dan orang-orang kudus, dan Allah akan turun tangan (Why. 20:8,9).

Pada akhir masa 1000 tahun, mereka yang mati pada masa itu akan dibangkitkan dan dihakimi (Why. 20:5,11-15).

Selanjutnya tujuan Alah atas bumi akan digenapi. Bumi akan dipenuhi dengan orang-orang benar yang abadi. Nama Allah ”Yahweh Elohim“ (yang berarti “Ia akan dinyatakan di dalam kelompok yang perkasa“) akan digenapi. Dosa dan kematian tidak akan ada lagi di bumi; janji bahwa keturunan ular itu akan dibinasakan selamanya dengan memukul kepala ular itu, akan sepenuhnya digenapi (Kej. 3:15). Selama pemerintahan 1000 tahun, Kristus akan memerintah ’’sampai Allah meletakkan semua musuhnya dibawah kakinya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut...Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan dirinya dibawah Dia (Allah), yang telah menaklukkan segala sesuatu dibawahnya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua“ (I Kor. 15:25-28).

Inilah ”kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa“ (I Kor. 15:24). Tentang selanjutnya yang akan terjadi ketika Allah ada “di dalam semua“, tidak diberitahukan, yang kita ketahui adalah bahwa kita akan hidup abadi, sama dengan Allah, dan kita akan memuliakan dan menyenangkan Allah. Ini hanyalah dugaan mengenai apa yang terjadi selanjutnya setelah pemerintahan 1000 tahun.

Memahami ’’Injil Kerajaan Allah“ adalah hal yang sangat penting bagi keselamatan setiap pembaca yang membaca kata-kata ini. Kami menyarankan anda untuk membaca kembali pelajaran ini dan melihat ayat-ayat yang dikutip dari Alkitab.

Allah mengijinkan agar kita berada di dalam KerajaanNya. Seluruh tujuannya dirancang sedemikian rupa agar kita turut berperan di dalamnya, daripada hanya sekedar mengakui kemampuannya dalam berkreasi. Pembaptisan menghubungkan kita dengan janji-janji tentang Kerajaan ini. Memang, sulit untuk dipercaya bahwa pembaptisan yang telah diikuti oleh orang-orang yang rendah hati yang taat kepada firman Allah dalam beberapa tahun ini, dapat membawa kita ke dalam kemuliaan yang abadi. Untuk itulah maka iman kita akan kasih Allah yang dalam, harus dinyatakan. Apapun masalah yang kita hadapi, itu bukanlah alasan untuk menolak panggilan Injil.

”Jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?“ (Rm. 8:31).

“Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita“ (Rm. 8:18).

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami“ (II Kor. 4:17).