Senin, 03 Oktober 2011

Kebangkitan

Alkitab menegaskan, bahwa upah bagi orang-orang yang benar akan diberikan pada saat kebangkitan, yaitu pada saat kedatangan Kristus (I Tes. 4:16). Kebangkitan dari kematian untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah dilakukan adalah hal yang pertama yang akan dilakukan Kristus, kemudian disusul dengan penghakiman. Jika ”jiwa” telah pergi ke surga pada waktu kematian, maka kebangkitan tidak diperlukan lagi. Paulus mengatakan, bahwa jika tidak ada kebangkitan, maka semua usaha untuk menjadi taat kepada Allah adalah sia-sia (I Kor. 15:32). Tentunya dia tidak akan berpikir seperti ini jika dia percaya bahwa jiwanya akan pergi ke surga pada waktu ia mati, sebagai upah bagi dirinya. Pengertian yang di dapat dari hal ini adalah, ia percaya bahwa kebangkitan daging adalah satu-satunya cara untuk memberikan upah. Kristus membesarkan hati kita sehubungan dengan penantian upah bagi orang-orang yang hidup dengan benar, yang akan diberikan pada saat ”kebangkitan” (Luk. 14:14).

Kembali kepada intinya, bahwa Alkitab tidak mengajarkan keberadaan dalam bentuk apapun yang terpisah dari tubuh, hal ini juga dapat diterapkan kepada Allah, Kristus, para malaikat dan manusia. Pada saat kedatangannya kembali, Kristus ”akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhnya yang mulia” ( Flp. 3:20,21). Sebagaimana bentuk tubuhnya yang nyata pada saat ini, yang digerakkan murni oleh roh, lebih dari sekedar darah, maka kita juga akan mendapat upah yang serupa. Pada waktu penghakiman, kita akan menerima upah sesuai dengan yang dilakukan tubuh kita ( II Kor. 5:10). Bagi mereka yang hidup menuruti keinginan dagingnya, akan ditinggalkan bersama tubuh mereka yang tidak abadi yang kemudian akan kembali menjadi debu, bagi mereka yang sewaktu hidup berusaha untuk mengatasi keinginan dagingnya dengan Roh, ”maka ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (Gal. 6:8) dalam bentuk tubuh yang dipenuhi Roh.

Ada bukti lebih lajut mengenai upah bagi orang-orang benar yang akan diberikan kepada mereka dalam keadaan yang memiliki tubuh yang nyata. Sekali hal ini diterima, maka inti dari kebangkitan akan jelas. Tubuh kita yang sekarang ini dengan jelas menuju kepada kematian; jika kita dapat merasakan kehidupan abadi dan keabadian dalam bentuk tubuh yang nyata, maka dapat dipahami bahwa kematian adalah keadaan tidak sadarkan diri hingga pada saat tubuh kita diciptakan kembali dan kemudian ditempatkan pada alam yang sama dengan Allah.

Seluruh I Korintus 15 berbicara dengan terperinci mengenai kebangkitan, untuk itu harus dibaca dengan hati-hati. I Kor. 15:35-44 menjelaskan, sebagaimana benih ditabur kemudian muncul dari tanah sebagai suatu tubuh yang diberikan oleh Allah, demikian halnya dengan orang mati yang dibangkitkan untuk diupahi dengan suatu tubuh. Seperti halnya Kristus yang bangkit dari kubur dan tubuhnya yang berkematian diubah menjadi tubuh yang tidak dapat binasa, maka begitu jugalah upah yang akan diberikan kepada orang-orang percaya yang benar (Flp. 3:21). Melalui pembaptisan, diri kita disatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus; dengan menunjukkan iman kita bahwa kita juga akan mendapat upah seperti yang Dia terima pada waktu kebangkitannya (Rm. 6:3-5). Dengan turut merasakan penderitaannya pada saat ini, maka kita juga akan mendapat upah yang sama dengannnya: ”Kami senantiasa membawa (saat ini) kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (II Kor. 4:10). ”Maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh RohNya” (Rm. 8:11). Oleh karena itu, dengan harapan ini, kita menantikan ”pembebasan tubuh kita” (Rm. 8:23), dengan cara mengabadikan tubuh kita.

Pengharapan akan tubuh yang nyata sebagai upah telah dipahami oleh umat Allah sejak awal. Abraham dijanjikan, bahwa ia secara pribadi akan mewarisi tanah Kanaan selamanya, sebagaimana ia telah menjalani negeri itu menurut panjang dan lebarnya (Kej. 13:17, lihat pelajaran 3.4). Imannya akan janji tersebut membuat ia percaya, bahwa tubuhnya pada suatu saat, di masa yang akan datang, akan dibangkitkan, dan benar-benar akan terjadi.

Ayub dengan jelas menyatakan pengertiannya, walaupun tubuhnya dimakan cacing di dalam kubur, dia akan menerima upahnya dalam bentuk tubuh yang nyata: ”Penebus hidupku...akan bangkit di atas debu: juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikannya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu” (Ayub 19:25-27). Harapan Yesaya juga mirip: ”mayat-mayat mereka akan bangkit pula” (Yes. 26:19).

Kata-kata serupa juga dapat ditemukan pada catatan tentang kematian Lazarus, sahabat Yesus. Daripada menghibur saudara perempuannya dengan mengatakan bahwa jiwanya telah pergi ke surga, sebaliknya yesus mengatakan bahwa pada hari kebangkitan saudaranya akan bangkit. Marta, saudara perempuan Lazarus, dengan cepat merespon kata-kata Yesus, dan dari penjelasannya dapat dipahami bahwa orang-orang Kristen yang mula-mula memahami: ”kata Marta kepadanya, ” Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh. 11:23,24). Seperti halnya Ayub, Marta tidak memahami kematian sebagai pintu gerbang menuju kebahagiaan di surga. Tapi sebaliknya, lebih memandang ke depan akan kebangkitan yang akan terjadi ”pada hari terakhir.” Allah berjanji: ”Ia akan kubangkitkan pada akhir zaman...setiap orang yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaku” (Yoh. 6:44,45).