Rabu, 22 Februari 2012

“Pada mulanya adalah Firman” (Yoh.1:1-3)

“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah. Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:1-3)

Jika ayat-ayat ini dipahami sebagaimana mestinya, maka penegasan dan pengembangan dari kesimpulan-kesimpulan pada bagian terakhir dapat dipahami. Bagaimanapun juga ayat-ayat ini banyak disalah artikan oleh orang-orang dengan mengajarkan, bahwa Yesus berada di surga sebelum kelahirannya. Pemahaman yang benar dari ayat-ayat ini bergantung pada bagaimana kita memahami dan mengartikan kata ”Firman” sesuai dengan konteksnya. Kata itu tidak menunjuk kepada seseorang, karena tidak ada yang dapat ”bersama-sama dengan Allah” dan menjadi Allah pada waktu yang bersamaan. Kata Yunani ”logos” yang diterjemahkan menjadi ”firman”, tidak menunjuk kepada ”Yesus”. Kata itu biasanya diterjemahkan menjadi ”firman”, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi;
  • Laporan Penyebab
  • Komunikasi Doktrin
  • Niat Pemberitaan
  • Alasan Mengatakan
  • Berita


Kata ”firman” dipakai bersama dengan kata ganti orang ketiga ”ia”, karena ”logos” bersifat maskulin atau kelaki-lakian, Tetapi tidak mengartikan bahwa kata itu menunjuk kepada seseorang, yaitu Yesus. Alkitab dalam bahasa Jerman (Luther version) menggunakan kata ”das wort” (neuter); dan Alkitab dalam bahasa Perancis menggunakan kata ”la parole”; yang bersifat feminin atau kewanitaan. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa kata ”firman” tidak harus menunjuk kepada seorang laki-laki.

”Pada mulanya”

Kata ”logos” dengan tepat menunjuk kepada suatu pemikiran yang mendalam, yang diekspresikan melalui kata-kata dan cara-cara berkomunikasi lainnya. Pada mulanya Allah memiliki ”firman” ini, yang tujuannya berpusat pada Kristus. Bagaimana Roh Allah meletakkan pemikiran yang mendalam dari Allah ke dalam pelaksanaan, karena itu terdapat hubungan antara RohNya dan FirmanNya . Sebagaimana Roh Allah melaksanakan rencanaNya dengan manusia, dengan mengilhami firmanNya yang tertulis sejak permulaan. Karena itulah gagasan tentang Kristus diberitakan melalui pekerjaan dan firmanNya. Kristus adalah ”firman”dari Allah, oleh karena itu Roh Allah menunjukkan rencana Allah tentang Kristus dalam setiap pelaksanaannya. Hal ini menjelaskan mengapa banyak peristiwa di dalam Perjanjian Lama yang memberikan gambaran tentang Kristus. Tetapi, tidak bisa terlalu ditegaskan bahwa Kristus bukanlah ”firman itu”; ”firman itu” adalah rencana keselamatan Allah melalui Yesus. Kata ”firman” sering kali digunakan sehubungan dengan penjelasan mengenai Injil tentang Kristus; misalnya ”firman dari Kristus” (Kol.3:16 bandingkan Mat.13:19; Yoh.5:24; Kis.19:10; I Tes.1:8, dll.). Catat, ”firman” menjelaskan tentang Kristus, dan tidak menunjuk kepada dia secara pribadi. Ketika Kristus lahir, ”firman” ini berubah ke dalam bentuk daging dan darah – ”Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh.1:14). Yesuslah yang ”telah menjadi manusia”, bukan firman itu. Ia menjadi ”firman itu” pada waktu dilahirkan oleh Maria, bukan pada waktu sebelum itu.

Rencana tentang Kristus sudah direncanakan Allah sejak permulaan. Tetapi, tentang pribadi yang menjadi Kristus, tidak dinyatakan secara terbuka. Begitu juga sewaktu Injil tentang dia diberitakan pada abad pertama. Karena itu, Allah berfirman kepada kita melalui Kristus (Ibr.1:1,2). Berulangkali ditegaskan bahwa Kristus menyampaikan firman Allah dan membuat mujizat atas perintah Allah dengan tujuan untuk menyatakan Allah kepada kita (Yoh.2:22; 3:34; 7:16; 10:32,38; 14:10,24).

Paulus taat kepada perintah Kristus untuk memberitakan Injil tentang dia kepada ”segala bangsa”: ”pemberitaan tentang Yesus Kristus sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan...kepada segala bangsa” (Rm.16:25,26 bandingkan I Kor.2:7). Kehidupan abadi hanya dapat diperoleh manusia melalui pekerjaan Kristus (Yoh.3:16; 6:53). Walaupun sejak permulaan Allah telah merencanakan untuk menawarkan kehidupan abadi kepada manusia, yang dilakukannya dengan pengorbanan seperti yang juga dilakukan oleh Yesus. Penyingkapan sepenuhnya atas penawaran itu diberikan setelah kelahiran dan kematian Yesus: ”hidup yang kekal sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu dikehendakinya telah menyatakan firmanNya dalam pemberitaan Injil” (Titus 1:2,3). Kita telah mengetahui bagaimana nabi-nabi Allah dibicarakan seolah-olah mereka sudah ada (Luk.1:70) dalam pengertian bahwa ”firman” yang mereka sampaikan telah ada bersama Allah sejak permulaan.

Perumpamaan-perumpamaan yang dijelaskan oleh Yesus menyingkapkan banyak hal tentang ini, yang juga menggenapi nubuat tentang dirinya; ”Aku mau membuka mulutku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat.13:35). Dalam pengertian bahwa ”firman itu bersama-sama dengan Allah pada mulanya” dan ”menjadi manusia” melalui kelahiran Kristus.

”Firman itu adalah Allah”

Sekarang kita akan membahas pengertian dari ”firman itu adalah Allah”. Rencana dan pemikiran kita, pada intinya adalah menyatakan diri kita sendiri. Misalnya, ”Saya akan pergi ke London”, adalah firman atau pemberitaan yang mengekspresikan tujuan saya, karena itu adalah tujuan saya. Rencana Allah di dalam Kristus dapat dipahami dengan cara demikian. ”Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amos 23:7), demikian juga dengan Allah. Karena itu Firman Allah atau pemikiranNya adalah Allah; ”Firman itu adalah Allah.” Berarti, ada suatu hubungan yang erat antara Allah dengan firmanNya, misalnya di Mazmur 29:8, ”Suara Tuhan membuat padang gurun gemetar”, dan di Yeremia 25:7, ”Tetapi kamu tidak mendengarkan Aku, demikianlah firman Tuhan.” Kedua pernyataan seperti ini seringkali muncul di dalam nubuat-nubuat, yang dengan efektif mengartikan bahwa Allah sama dengan mengatakan: ”Kamu tidak mendengarkan firmanKu yang telah disampaikan oleh nabi-nabi.” Daud menyebut firman Allah sebagai pelita dan terang (Mzm.119:105), ia juga mengungkapkan hal yang sama di 2 Samuel 22:29, ”Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku.” Kedua ayat ini menunjukkan kaitan antara Allah dengan firmanNya. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa firman Allah adalah personifikasi dari Ia sendiri, yang ketika disebut seperti menunjuk kepada suatu pribadi, walaupun tidak demikian.

Karena Allah adalah kebenaran (Yoh.3:33; 8:26; I Yoh.3:10), maka demikian juga dengan firmanNya (Yoh.17:17). Dengan cara yang sama, Yesus mengidentifikasikan bahwa dirinya dengan firmannya begitu dekat, ia adalah personifikasi dari firmannya: ”Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yoh.12:48). Yesus menyebut firmannya seakan-akan seperti suatu pribadi, yaitu dirinya sendiri. Firmannya dipersonifikasikan, karena berkaitan erat dengan dirinya.
Begitu juga dengan firman Allah, dipersonifikasikan sebagai suatu pribadi, yaitu Ia sendiri, seperti yang terdapat di Yohanes 1:1-3. Sehubungan dengan firman itu, kita diberitahu bahwa ”Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:3). Allah menciptakan segala sesuatu melalui firmanNya (Kej.1:1). Karena hal ini, maka firman Allah dapat disebut sebagai Allah sendiri. Hal kerohanian yang perlu dicatat dari pembahasan ini adalah, melalui firman Allah yang berada di dalam hati kita, Allah akan menjadi dekat dengan kita.

Hal ini dejelaskan di Kejadian 1, bahwa Allah adalah Sang Pencipta melalui firmanNya, dan bukan melalui Kristus secara pribadi (Yoh.1:1-3), ”Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaranya (bintang-bintang)...Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi” (Mzm.33:6,9). Hingga saat ini semua ciptaan dapat bergerak oleh karena firmanNya: ”Ia menyampaikan perintahNya ke bumi: dengan segera firmanNya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba...Ia menyampaikan firmanNya...maka air mengalir” (Mzm.147:15-18).

Firman Allah adalah daya kreativitasnya, dia menggunakannya untuk memperanakkan Yesus di dalam rahim Maria, melalui firman atau rencana Allah, yang dilaksanakan oleh Roh Kudus (Luk.1:35), yang membuat Kristus dikandung. Dan Maria mengetahui hal ini berdasarkan responnya atas kabar baik yang ia terima tentang pembuahan Kristus: ”jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38).

Kita telah mengetahui bahwa firman/roh Allah merefleksikan tujuanNya, yang telah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Kebenaran dari hal ini ditunjukkan di dalam Kisah para Rasul 13:27, Yesus dikaitkan dengan firman dari nabi-nabi di Perjanjian Lama: ”mereka menggenapi perkataan nabi-nabi.” Ketika Yesus sudah lahir, semua firman/roh Allah ada di dalam pribadi Yesus Kristus. Dengan dibawah ilham rasul Yohanes bersuka cita atas rencana Allah sehubungan dengan kehidupan abadi, yang ditunjukkan melalui Kristus, yang juga disaksikan oleh murid-muridnya yang lain. Yesus mengetahui bahwa mereka telah memahami firman Allah dan rencana keselamatannya melalui dirinya (I Yoh.1-3). Walaupun kita tidak melihat Kristus, kita juga dapat bersuka cita melalui pemahaman yang benar tentang dia, dan kita juga bisa memahami dengan benar tujuan Allah , dan yakin sepenuhnya dengan upah kehidupan abadi (I Ptr.8:9). Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: ”Apakah saya sungguh-sungguh mengenal Kristus?” Hanya dengan menerima keberadaan seseorang yang disebut Yesus, tidaklah cukup. Harus dilanjuti dengan pelajaran Alkitab yang disertai doa. Mungkin anda dapat memahami ia sebagai penyelamat anda dalam waktu yang singkat, dan menyatukan diri anda dengannya melalui pembaptisan.