Jumat, 04 November 2011

Neraka, sebuah pengertian menurut Alkitab

Konsep tentang Neraka yang dipahami secara umum adalah, tempat penghukuman bagi “jiwa-jiwa” abadi yang jahat, setelah kematian mereka. Atau tempat penykisaan bagi mereka yang ditolak pada waktu penghakiman. Menurut keyakinan kami, Alkitab mengajarkan bahwa neraka adalah kuburan, yaitu tempat yang dituju oleh semua orang pada waktu mereka mati.

Kata Ibrani “Sheol” yang diterjemahkan sebagai “neraka”, mempunyai arti “tempat yang terlindungi.” Kata “Neraka” berasal dari ungkapan dalam bahasa Inggris untuk “Sheol.” Jadi, sewaktu kita membaca kata “neraka” di dalam Alkitab, kata tersebut tidak diterjemahkan sebagaimana mestinya. Contoh, kata “helm” yang berasal dari kata “hell-met”, yang artinya pelindung kepala. Menurut pengertian Alkitab. “tempat yang terlindungi” ini, atau “neraka” adalah kuburan. Banyak contoh dari ayat-ayat yang menerjemahkan kata “Sheol” sebagai “kuburan.” Pada beberapa Alkitab terjemahan modern, hampir tidak menggunakan kata “neraka” untuk menerjemahkan kata “Sheol.” Tetapi diterjemahkan sebagai “kuburan.” Beberapa contoh tentang penggunaan kata “Sheol”, yang diterjemahkan sebagai “kuburan”, akan meluluhlantakkan konsep tentang neraka sebagai tempat pembakaran dan penyiksaan bagi orang-orang jahat;

- “Biarlah orang-orang fasik…turun ke “dunia orang mati” dan bungkam (“Sheol” Mzm. 31:18). Tidak dikatakan bahwa mereka akan menjerit dari sana.

- “Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman “dunia orang mati” (“Sheol” Mzm. 49:16). Tubuh atau jiwa dari Daud, akan dibangkitkan dari kuburan atau “neraka.”

Kepercayaan akan neraka sebagai tempat penghukuman bagi orang-orang jahat, dimana mereka tak bisa melarikan diri dari tempat itu, tidak bisa disamakan dengan hal ini, Karena orang-orang yang benar dapat masuk ke neraka (kuburan) dan keluar lagi. Hosea 13:14 membenarkan tentang hal ini; “Akan kukebaskankah mereka (umat Allah) dari kuasa dunia orang mati, akan kutebuskah mereka daripada maut.” Ayat ini juga dikutip oleh I Korintus 15:55, dan mengaitkannya dengan kebangkitan yang terjadi sewaktu Kristus datang. Demikian juga dengan penglihatan tetang kebangkitan kedua (lihat pelajaran 5.5), “maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya” (Why. 20:13). Catat, ada kaitannya antara maut (kuburan) dengan kerajaan maut (neraka) (lihat juga Mzm. 6:6).

Kata-kata Hana di I Samuel 2:6 sangat jelas sekali; “Tuhan mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati (Sheol) dan mengangkat dari sana.” Dengan memperhatikan bahwa “neraka” dikatakan sebagai kuburan, sangat diharapkan agar orang-orang benar akan diselamatkan dari sana melalui kebangkitan untuk hidup abadi. Jadi, adalah mungkin untuk masuk ke dalam “neraka” atau kuburan, kemudian keluar dari sana melalui kebangkitan. Contoh yang paling jelas terdapat pada Yesus, “Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa dagingnya tidak mengalami kebinasaan” (Kis. 2:31), karena Ia dibangkitkan. Catat, hubungan antara “jiwa” Kristus dengan “daging” atau tubuhnya. Tubuhnya “tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati”, yang secara tidak langsung mengatakan ada suatu masa, yaitu tiga hari, dimana tubuhnya berada di dalam kuburan. Maka, kepergian Kristus ke “neraka, menjadi bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa tempat itu bukan hanya dituju oleh orang-orang jahat. Oleh karena itu, orang yang baik maupun yang jahat, akan menuju ke “neraka”, yaitu kuburan. Seperti halnya Yesus yang ditempatkan “kuburnya di antara orang-orang fasik” (Yes. 53:9). Sehubungan dengan hal ini, ada beberapa contoh dari orang-orang yang benar, yang pergi ke neraka, yaitu kuburan. Misalnya Yakub, yang mengatakan bahwa, demi anaknya Yusuf, ia akan “berkabung sampai turun mendapatkan anakku, kedalam dunia orang mati!” (Kej. 37:35).

Salah satu dari prinsip-prinsip Allah adalah, bahwa hukuman atas dosa adalah kematian (Rm. 6:23, 8:13; Yak. 1:15). Bahwa kematian adalah ketidaksadaran sepenuhnya. Pembinasaan sepenuhnya sebagai akibat dari dosa dan bukan penyiksaan abadi (Mat. 21:41; 22:7, Mrk. 12:9, Yak. 4:12), sebagaimana halnya dengan orang-orang yang dibinasakan melalui air bah (Luk. 17:27,29), dan seperti orang-orang Israel yang mati di padang gurun (I Kor. 10:10). Dalam dua peristiwa ini, orang-orang yang berdosa dihukum mati, tetapi tidak disiksa selamanya. Oleh karena itu, mustahil jika orang-orang yang jahat, dalam keabadiannya dihukum dengan penyiksaan dan penderitaan selama-lamanya.

Seperti yang kita lihat sebelumnya, Allah tidak memperhitungkan dosa atau menambahkannya ke dalam catatan kita, jika kita tidak mengetahui firmanNya (Rm. 5:13). Mereka yang berada dalam posisi ini, akan tetap mati. Dan bagi mereka yang mengetahui persyaratan dari Allah, akan dibangkitkan dan dihakimi pada saat kedatangan Kristus. Kemudian orang-orang jahat yang ada di antara mereka akan menerima kematian sebagai hukuman atas perbuatan mereka, hal ini disebabkan karena hukuman atas dosa adalah maut. Karena itu, sesudah kedatangan Kristus mereka akan dihadapkan kepada takhta penghakiman Kristus, dan akan dihukum mati sampai selamanya. Inilah yang disebut dengan ”kematian kedua”, yang terdapat di Wahyu 2:11, 20:6. Orang-orang ini, yang telah mengalami kematian sebelumnya, akan dibangkitkan untuk dihakimi pada saat kedatangan Kristus, dan akan dihukum dengan kematian yang kedua, sama seperti kematian yang pertama, tetapi, yang kedua akan berlangsung untuk selamanya.

Atas dasar ini, yaitu bahwa hukuman atas dosa akan berlangsung ”selama-lamanya”, maka tidak ada akhir bagi kematian mereka. Mati untuk selamanya adalah hukuman yang abadi. Contoh tentang penggunaan ungkapan seperti ini di dalam Alkitab, dapat ditemukan di Ulangan 11:4. Yang menjelaskan tentang pembinasaan tentara firaun oleh Allah di laut merah sebagai pembinasaan abadi. Dengan demikian, tentara-tentara firaun tidak dapat mengganggu bangsa Israel lagi, ”Ia membuat air laut teberau meluap meliputi mereka...sehingga Tuhan membinasakan mereka untuk selamanya.”

Pada masa Perjanjian Lama yang mula-mula, orang-orang yang percaya memahami bahwa akan ada kebangkitan pada hari terakhir, setelah orang-orang jahat yang bertanggung jawab pada penghakiman kembali ke kuburan. Ayub 21:30,32 dengan jelas menyatakan: ”orang jahat terlindung pada hari pada hari kebinasaan dan diselamatkan (dibangkitkan) pada hari murka Allah...Dialah yang (kemudian) dibawa ke kuburan.” Salah satu dari perumpamaan-perumpamaan tentang kedatangan kembali Kristus dan penghakiman, berbicara tentang orang-orang jahat yang akan ”dibunuh” pada saat kehadirannya (Luk. 19:27). Tetapi, ayat ini dipaksa agar selaras dengan gagasan tentang orang-orang jahat yang tetap hidup selamanya untuk menerima penyiksaan. Dalam kasus tertentu, hal ini menjadi suatu hukuman yang tidak beralasan. Penyiksaan abadi atas perbuatan-perbuatan selama kurang lebih 70 tahun. Tuhan tidak berkenan atas kematian orang-orang jahat; oleh karena itu. Ia tidak membebankan hukuman kepada mereka untuk selamanya (Yeh. 18:23,32; 33:11 bandingkan II Ptr. 3:9).

Kekristenan yang murtad sering kali mengaitkan ”neraka” dengan gagasan tentang api penyiksaan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Alkitab tentang neraka (kuburan), ”Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati (neraka), digembalakan oleh maut” (mzm. 49:14), yang secara tidak langsung mengatakan bahwa kuburan adalah tempat penuh kedamaian yang akan segera dilupakan. Walaupun begitu, ketika tubuh atau jiwa dari Kristus berada di dalam neraka selama tiga hari, dagingnya tidak binasa (Kis. 2:31). Hal ini tidak akan mungkin terjadi, jika neraka adalah suatu tempat yang penuh dengan api. Yehezkiel 32:26-30 memberikan gambaran tentang para pahlawan besar dari segala bangsa yang terbaring dengan damai di kuburan mereka: ”pahlawan-pahlawan yang mati (dalam peperangan)...yang turun ke dunia orang mati bersama segala senjata perangnya dan yang pedang-pedangnya ditaruh orang dibawah kepalanya...mereka dibaringkan...dekat orang-orang yang turun ke liang kubur.” Hal ini menunjuk pada cara penguburan para pahlawan yang biasa dilakukan, dengan turut menguburkan senjata-senjata mereka, dan meletakkan kepala jenazah di atas pedang mereka. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa neraka bukanlah suatu arena penyiksaan rohani. Karena itu, Petrus berkata kepada orang yang jahat, ”Binasalah kiranya uang itu bersama dengan engkau” (Kis. 8:20). Catatan mengenai pengalaman Yunus, juga bertentangan dengan gagasan tentang ”neraka”; setelah ditelan hidup-hidup oleh ikan paus, ”berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya, ”Dalam kesusahan aku berseru kepada Tuhan...dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak” (Tim. 2:1,2). Ayat ini mengkaitkan dunia orang mati dengan perut ikan paus. Perut ikan paus itu adalah ”tempat yang terlindung”, yang secara umum mengartikan ”Sheol”, yang diterjemahkan sebagai ”neraka.” Jelas sekali, bahwa neraka bukanlah tempat yang penuh dengan api, karena Yunus dapat keluar dengan selamat dari ”dunia orang mati” dengan cara dimuntahkan oleh ikan paus itu. Hal ini memberikan gambaran ke depan tentang kebangkitan Kristus dari ”neraka” (kuburan), lihat Matius 12:40.

Api Simbolis

Alkitab seringkali menggunakan kata-kata api abadi dengan tujuan untuk menggambarkan kemarahan Allah atas dosa, yaitu dengan cara membinasakan sepenuhnya orang-orang berdosa di dalam kuburan. Sodom dihukum dengan api abadi (Yudas 7), yaitu pembinasaan menyeluruh atas keberadaan orang-orang jahat. Pada saat ini, kota tersebut hanya tinggal puing-puing di dasar laut mati; dan tidak dibakar dengan api abadi. Hal ini penting sekali diketahui untuk memahami arti dari ”api abadi” yang sebenarnya. Seperti halnya Yerusalem, yang dibakar dengan api abadi dari kemarahan Allah, sebagai akibat atas dosa-dosa Israel; ”Aku akan menyalakan api, yang akan memakan habis puri-puri Yerusalem, dan yang tidak akan terpadamkan” (Yer. 17:27). Karena di masa depan Yerusalem dinubuatkan sebagai ibukota dari Kerajaan Allah (Yes. 2:2-4; Mzm. 48:2), Oleh karena itu, Allah tidak bermaksud agar kita mengartikan api abadi secara harfiah. Bait suci di Yerusalem telah dimusnahkan dengan api (II Raj. 25:9), tapi api tersebut tidak terus membakar Yerusalem sampai selamanya.

Hal yang serupa terjadi ketika Allah membinasakan Edom dengan api. ”Siang dan malam negeri itu tidak akan padam-padam, asapnya naik untuk selama-lamanya, negeri itu menjadi reruntuhan turun-temurun...burung hantu dan burung gagak akan tinggal di dalamnya...duri-duri akan tumbuh di puri-purinya” (Yes. 34:9-15). Dengan memperhatikan bahwa binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan tetap ada di atas reruntuhan Edom, maka api abadi pastilah mengartikan kemarahan Allah untuk membinasakan tempat itu, dan tidak diartikan secara harfiah.

Kat-kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan menjadi ”untuk selamanya”; seharusnya diterjemahkan menjadi ”untuk suatu masa.” Kadang-kadang hal ini mengartikan suatu periode waktu tanpa batas, misalnya zaman Raja-raja, tapi tidak akan berlangsung seterusnya. Contoh yang tepat terdapat di Yes. 32:14,15; ”Bukit dan menara sudah menjadi tanah rata untuk selama-lamanya...sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas.” Hal ini merupakan suatu cara untuk memahami arti dari kata ”abadi/selama-lamanya” seperti pada kata ”api abadi”, yang terdapat di dalam Alkitab. Berulang kali kemarahan Allah terhadap dosa-dosa Yerusalem disamakan dengan api; ”Sesungguhnya, murkaku dan kehangatan amarahku akan tercurah ke tempat ini (Yerusalem)...amarah itu akan menyala-nyala dengan tidak padam-padam.” (Yer. 7:20; contoh yang lain terdapat di Rat. 4:11 dan II Raj. 22 :17).

Api juga dikaitkan dengan penghakiman Allah atas dosa, khususnya pada saat kedatangan Kristus ; ”Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu ”(Mal. 4 :1). Ketika Jerami tau bahkan tubuh manusia dibakar, mereka akan kembali menjadi debu. Mustahil, jika suatu zat, khususnya daging manusia, dapat terbakar selamanya. Oleh karena itu, kata ”api abadi” tidak dapat diartikan secara harfiah sebagai penyiksaan abadi. Api tidak akan terus menerus menyala, jika tidak ada sesuatu yang dibakar. Perlu dicatat, bahwa ”neraka” akan ”dilemparkan ke dalam lautan api” (Why. 20:14). Hal ini, mengindikasikan bahwa neraka tidaklah sama dengan ”lautan api”; tetapi hal ini diartikan sebagai pembinasaan sepenuhnya. Dalam pengertian simbolis di dalam buku Wahyu, dikatakan bahwa pada akhirnya kuburan akan dibinasakan, karena diakhir Kerajaan 1000 tahun tidak akan ada lagi kematian.

Gehenna

Dalam Perjanjian Baru ada dua kata Yunani yang diterjemahkan sebagai ”neraka.” Pertama, ”Hades”, yang mempunyai arti yang sama dengan kata Ibrani ”Sheol”, seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Kedua, ”Gehenna”, adalah nama dari tempat pembuangan sampah yang terletak di luar Yerusalem, dimana sampah-sampah dari kota itu dibakar disana. Tempat pembuangan sampah yang serupa juga terdapat di beberapa kota pada saat ini (misalnya, ”Smokey Mountain” yang terletak di luar kota Manila, Filipina). Sebagai nama tempat, tidak seharusnya ”Gehenna” diterjemahkan menjadi ”neraka.” ”Gehenna” adalah kata dalam bahasa Aramaik, yang mempunyai arti yang sama dengan kata Ibrani ”Ge-Ben-Hinnon.” tempat ini terletak di dekat Yerusalem (Yos. 15:8). Pada zaman Kristus, kota ini menjadi tempat pembuangan sampah. Jenazah dari para penjahat dilemparkan ke dalam api yang selalu menyala di tempat itu. Karena itu, Gehenna menjadi simbolis dari pembinasaan sepenuhnya.

Kembali kepada intinya, apa yang dilemparkan ke dalam api, tidak akan dapat bertahan untuk selamanya, mayat-mayat itu akan membusuk di dalam debu. ”Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibr. 12:29), pada hari penghakiman. Api kemarahanNya terhadap dosa akan memakan habis orang-orang yang berdosa, yang akan dibinasakan untuk selamanya, dan tidak membuat mereka hangus terbakar dan tetap hidup. Sewaktu Allah menghakimi umatNya, Israel, dengan menyerahkan mereka ke tangan orang Babilon, Gehenna dipenuhi dengan mayat-mayat dari orang-orang yang berdosa dari antara umatNya (Yer. 7:32,33).

Dalam pengajarannya yang mengagumkan, Yesus juga menggunakan semua gagasan dari Perjanjian Lama tentang penggunaan kata ”Gehenna.” Dia seringkali mengatakan bahwa mereka yang ditolak pada waktu penghakiman ketika Ia datang, akan ”dibuang ke dalam api yang tak terpadamkan. Di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam” (Mrk. 9:43,44). Orang-orang Yahudi memahami kata Gehenna sebagai tempat pembinasaan tubuh, dan api abadi sebagai ungkapan dari kemarahan Allah atas dosa, dengan membinasakan orang-orang yang berdosa melalui kematian.

Kalimat ”Di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam” yang terdapat pada referensi diatas; adalah bagian dari ungkapan yang sama tentang pembinasaan sepenuhnya, karena mustahil, ada cacing yang tidak dapat mati. Fakta bahwa Gehenna adalah tempat penghukuman bagi orang-orang jahat yang berada di antara umat Allah, dengan kecerdasannya, Yesus menjelaskan hal tersebut melalui gambaran yang tepat tentang Gehenna.


wikipedia:
Sheol (play /ˈʃl/ shee-ohl or /ˈʃəl/ shee-əlHebrew שְׁאוֹל Šʾôl) is the "grave", "pit", or "abyss" in Hebrew.[1][2] She'ol[3] is the earliest conception of the afterlife in the Jewish scriptures. It is a place of darkness to which all dead go, regardless of the moral choices made in life, and where they are "removed from the light of God" (see the Book of Job). In the Tanakh sheol is the common destination of both the righteous and the unrighteous flesh, as recounted in Ecclesiastes and Job.


Gehenna (Greek γέεννα), Gehinnom (Rabbinical Hebrewגהנום/גהנם) and Yiddish Gehinnam, are terms derived from a place outside ancient Jerusalemknown in the Hebrew Bible as the Valley of the Son of Hinnom (Hebrew: גֵיא בֶן־הִנֹּם or גיא בן-הינום); one of the two principal valleys surrounding the Old City.  That has been interpreted as analogous to the concept of "Hell" or "Purgatory"